Bawaslu RI Bentuk Tim Investigasi

  • Whatsapp

Terkait 7 Kasus Money Politic Pilgub

Tenaga Ahli Bawaslu RI Rikson Nababan, akhirnya membeberkan tujuh dugaan temuan politik uang yang terjadi pada Pilkada 2017 di Bangka Belitung. Ia tak menampik sebelumnya sudah menggelar jumpa pers di media centre Bawaslu RI pada H+1 pencoblosan. Dan Ketua Bawaslu Babel, Bagong Susanto sempat membantah tujuh dugaan temuan itu, karena membuat kisruh, pascapilkada.
Tapi Rikson menjelaskan, bahwa temuan itu merupakan analisa mereka sesuai dengan input data Bawaslu Babel di lapangan pada saat pungut hitung suara. Dimana, politik uang sendiri ada tiga jenis yang harus dipahami masyarakat, yang tidak dibeberkan secara gamblang. Hasil analisa itu sesuai indikasi, menguat tujuh dugaan temuan politik uang di Babel.
“Saya jelaskan dulu, ada tiga jenis politik uang, pertama uang mahar Paslon untuk membeli kursi agar bisa maju, kedua politik uang terhadap penyelenggara sifatnya membeli kebijakan dan ketiga terhadap pemilih baik prabayar maupun pasca bayar. Dari tiga jenis politik uang ini, di laporan Babel hanya pada sasaran politik uang jenis ketiga. Hasilnya, dari akumulasi temuan pelanggaran di beberapa TPS rawan sesuai input data Bawaslu Babel yang masuk ke kita, kita simpulkan seperti itu,” urainya kepada awak media, Ketua Bawaslu Babel, Bagong Susanto dan Komisioner Bawaslu Babel Sugesti di kantor Bawaslu RI, Jakarta, Senin (20/2/2017).
Menurutnya, sudah kewajiban dari Bawaslu RI untuk menganalisa laporan yang masuk dari Bawaslu Babel. Terlebih dengan keterbatasan personel Bawaslu Babel, butuh waktu untuk mereka menganalisa temuan di lapangan semasa hari H. Dan bukan berarti temuan di lapangan itu, politik uang secara langsung dilakukan Paslon ke masyarakat atau tim sukses mereka.
“Harusnya Bawaslu Babel mendapat pujian, dari 2.698 TPS, indeks kerawanan pemilu (IKP) didapati 2,6 persen rawan sedang. Kemudian dua minggu sebelum pencoblosan dikeluarkan lagi 66 TPS, sekarang hanya tujuh temuan. Artinya, tindakan pencegahan itu sudah maksimal. Sedari awal kita ada standar ilmiah dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” tukas Rikson.
Pihaknya berharap, media dapat mengedukasi secara bersama permasalahan ini. Dan untuk tindaklanjutnya, Bawaslu RI sudah membentuk tim investigasi ke Babel untuk menyelidikinya lebih lanjut.
“Kita akan buat tim investigasi, khususkan ke pelanggaran prosedur dan politik uang apakah berdiri sendiri atau jamak sifatnya, ada faktor-faktor lain atau aktor lain yang terlibat di sana. Caranya, kita akan mendalami permasalahan yang sudah kami sampaikan dalam konfres itu dengan menurunkan tim investigasi. Mengumpulkan data dokumen dan fakta,” urainya.
“Tujuan kita untuk perbaikan, administrasi kita perbaiki, minimal ada perbaikan kedepan. Tim investigasi harapan kita, bekerja selama 30 hari. Persoalan di Pilgub ini harapan kita dapat selesai sebelum rekap penetapan untuk administrasinya, untuk pidana rata-rata sudah selesai,” tutupnya.
Sementara itu, Komisioner Bawaslu Babel Sugesti mengaku permasalahan ini hanya miss komunikasi saja. Menurutnya, penjelasan tenaga ahli Bawaslu RI sudah sangat betul, hanya saja diterjemahkan berbeda oleh masyarakat. Karena tidak serta merta, tujuh temuan dugaan politik uang itu seperti frame fikiran masyarakat dalam bentuk pemberian uang.
“Itu sebenarnya murni hasil analisis dari input data yang disampaikan Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga yang berbasis data TPS rawan. Karena memang dari hasil pemetaan kami, lebih kurang 600 kategori TPS rawan, pada saat proses pungut hitung mengumpulkan data itu perjam berdasarkan kejadian di TPS saat berlangsung,” jelasnya.
“Itu yang diidentifikasi Bawaslu RI, sebagai dugaan money politic. Tidak dalam bentuk tangkap tangan pemberian uang, ini harus digaris tebal. Konteks tujuh temuan itu masuk dalam prosedural, administrasi, ketidakprofesional penyelenggara, analisis itu masuk dalam tiga dimensi dijelaskan itu,” tambahnya.
Lebih jauh, kata Sugesti, Bawaslu RI sebenarnya merilis hasil temuan berdasar pada indeks kerawanan pemilu. Diambil dari keumuman dari semua temuan-temuan yang sudah diinvestigasi langsung di lapangan oleh Bawaslu Babel.
Dalam kesempatan sama, Ketua Bawaslu Babel, Bagong Susanto menyampaikan permohonan maafnya atas kesalahpamahan ini. Hal ini menurutnya sudah clear, hanya saja diakui penyampaian Ketua Bawaslu Babel yang kurang pas.
“Jadi seperti apa yang dijelaskan tenaga ahli Bawaslu RI dan komisioner kita, temuan ini sesuai hasil analisa dari informasi yang diinput kawan-kawan Bawaslu Babel. Kita mohon maaf kalau masalah ini menimbulkan polemik di tengah masyarakat,” tutupnya. (rls/ron/1)

Pos terkait