BAPETEN Awasi Monasit di Smelter Timah

  • Whatsapp

Pekerja Terancam Terpapar Radiasi
Radioaktif Bisa Picu Kanker Paru

PANGKALPINANG – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) mulai tahun 2019 ini akan mengawasi pengelolaan mineral ikutan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Mengingat, di dalam mineral ikutan jenis monasit terdapat radioaktif dan radiasi yang berbahaya bagi kehidupan manusia.

Kepala BAPETEN, Jazi Eko Istiyanyo mengatakan pihaknya sudah mulai mendata mineral ikutan yang menjadi limbah timah di pabrik peleburan (smelter) di Babel. Dan terdapat 75.000 ton slag II, yang akan menjadi slag akhir kemudian berubah jadi limbah.

“Di Babel memiliki potensi monasit yang sangat banyak, terbesar di Indonesia adanya di Babel, makanya kita mengawasi itu. Dan posisi yang tergali 7 ton lebih, kedepan akan bertambah setelah pengelolah tailing,” katanya usai Diseminasi Pengawasan Tenorm di Novotel Bangka, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Dul, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Rabu (26/6/2019).

Ia menegaskan, apabila tidak diawasi dan dikelola dengan baik, maka dikhawatirkan radioaktif dari mineral ikutan ini akan berdampak pada masyarakat dan lingkungan.

“Kami berharap, pengawasan seperti ini menjamin keamaman dan keselamatan, ini dilihat dari bagaimana menyimpan mineral ikutan tersebut,” ulasnya.

Jazi Eko menilai, masyarakat Babel sebetulnya sudah terbiasa dengan radiasi. Hanya saja selama ini kurang disadari, seperti halnya perokok pasif yang selalu terpapar oleh perokok aktif.

“Semua ada risiko dan manfaat seperti apa. Yang kita awasi banyak, di Babel juga ada rumah sakit yang menggunakan peralatan yang izin dari BAPETEN, seperti Rontgen gigi, CT-SCAN, dan radioterapi,” tandasnya.

Rumah sakit dan industri ini juga diawasi oleh BAPETEN dalam penggunaannya, dan memiliki petugas proyeksi radiasi. “Yang paling banyak itu dunia industri, rumah sakit,” imbuhnya.

Dalam diseminasi ini, ia berharap nantinya dapat bekerjasama dengan Pemprov Babel dan seluruh pemerintah daerah untuk regulasi serta kelancaran dalam pengawasan terhadap bahan radioaktif ini.

Wakil Gubernur (Wagub) Babel, Abdul Fatah di tempat sama mengaku telah menyadari, bahwa radioaktif yang ada di Babel harus terawasi dengan baik.

“Kalau kita memiliki radiasi, kadar tinggi rendahnya perlu pengamanan, inilah tugas dan kewenangan BAPETEN, yang ada pada timah ke mineral ikutan. Pengamanan bagaimana, itulah yang didiskusikan oleh BAPETEN kepada pelaku usaha yang ada,” sebutnya.

Menurutnya, deteksi dini ini dilakukan sesuai arah dan cara melalui komunikasi dengan pihak terkait. Dengan tujuan memberikan rasa aman.

“Mereka tau cara mengelola galian mineral ikutan, penyimpanannya harus sesuai, itulah yang akan kita kerjasama,” imbuh Fatah.

Untuk penyusunan regulasi seperti keinginan BAPETEN, kata wagub akan dilakukan secara bersama dengan pihak yang memiliki kewenangan.

“Masuk dalam tataran pengawasan tenaga nuklir, saya berpikir memang saat ini di Babel satu hal yang sedang mencuat, berkaitan mineral ikutan terhampar dimana-mana buangan dari limbah timah. Dari situ muncul gairah masyarakat bagimana mengelola mineral ikutan. Agar masyarakat bisa melakukan mengelola zircon dan lainnya bisa dilakukan secara benar tidak dikejar penagak hukum, maka kemudian gubernur dan kami menerbitkan Perda mengenai pengelolaan mineral ikutan, kita perkuat dengan Pergub,” bebernya.

Radiasi diakui menjadi hal penting yang harus diawasi. Pemprov Babel pun ingin melakukan suatu kegiatan dalam penambangan mineral ikutan, tapi juga ingin mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam kehidupan.

Picu Kanker Paru

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Inspeksi Safeguards BAPETEN, Kusbandono menyebutkan, radioaktif yang ada pada mineral ikutan timah setelah proses pengolahan, dapat memicu berbagai penyakit, salah satunya kanker paru.

“Radiasi ini berbahaya, dapat menyebabkan kanker kalau disini ke kanker paru, sehingga keselamatan kerja merupakan hal utama yang harus diperhatikan pabrik pengolahan timah. Kita ingin kerja selamat dan enggak penyakitan,” katanya.

Batasan radiasi yang berbahaya ini, menurutnya memang ada standar. Batasan itu yang perlu dilakukan pengawasan oleh berbagai pihak.

Namun, ia menegaskan harus ada penelitian dan kajian mendalam tentang dampak radiasi terhadap kanker di masyarakat Babel.

“Kanker perlu kajian lebih lanjut, yang jelas kita berharap sebenarnya kita mencegah, dan memang kajian kesehatan perlu kerjasama Kemenkes dengan pemda maupun BAPETEN, melihat apakah sebabnya karena radiasi,” ulas Kusbandono.

Tapi ditegaskan dia, radiasi radioaktif ini akan meningkat apabila telah dilakukan proses pengolahan dari penambangan timah menjadi mineral ikutan. Jika masih dalam bentuk timah, radiasinya masih kecil.

“Begitu diolah naiknya berkali lipat. Setelah dipisahkan ya. Inilah yang perlu diatur, di smelter ada slag, sebenarnya berbahaya dengan proses yang cukup lama. Sejak 2005 semuanya sudah mulai kita awasi,” sebutnya.

Diakui Kusbandono, smelter di Babel sudah mulai menyadari dampak dan bahayanya radioaktif dari mineral ikutan timah. Sehingga beberapa smelter telah melakukan safety yang cukup baik dalam proses pengolahan timah.

Menurutnya, untuk tambang mineral ikutan ilegal maupun legal, sebetulnya tidak terlalu berdampak terhadap radiasi karena masih dalam bentuk bijih timah, dan belum diolah menjadi mineral ikutan.

“Ini yang akan kita atur. Kita bersama pemda tentunya harus bekerjasama, agar dampaknya dapat diminimalisir. Kita bukan mau menghambat industri, tetapi kita ingin menjamin keamanan pekerjanya,” jelas dia.

Bentuk pengawasan inilah, kata Kusbandono yang akan dilaksanakan sesuai peraturan Kepala BAPETEN, termasuk bagaimana metode penyimpanan dalam pemanfaatan, yang harus mendapat rekomendasi badan itu untuk keselamatan kerja. (nov/1)

Related posts