Banyak Anak Bawah Umur di Club Malam

  • Whatsapp

KPAD Bakal Razia Tempat Hiburan

PANGKALPINANG – Maraknya kasus kekerasan terhadap anak, baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bangka Belitung (Babel).
Terlebih, saat ini banyak anak dibawah umur atau anak usai sekolah yang mendatangi tempat hiburan malam di Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang dan sekitar Komplek Perkantoran Pemprov Babel, ketika Rabu atau Sabtu malam. Bahkan ada dugaan anak belum cukup umur tersebut bekerja di beberapa club malam.
Karena itu, KPAD Babel berencana merangkul aparat Polri, TNI, maupun Sat Pol PP untuk bersama melakukan upaya preventif, dengan menggelar Razia terhadap sejumlah tempat hiburan malam di Babel.
“Kita akan melakukan razia di tempat hiburan malam berkoordinasi dengan Satpol PP, TNI dan Polda Babel. Ini kita lakukan karena informasi banyak anak-anak dibawah umur yang sering ke tempat-tempat itu,” ungkap Ketua KPAD Babel, Sapta kepada wartawan, kemarin.
Dilakukannya razia club malam tersebut merupakan upaya pencegahan terhadap dampak buruk dari kebiasaan anak-anak dibawah umur mengenal dunia malam, baik itu tentang minuman keras maupun narkoba. Sebab, kebiasaan buruk dunia malam apabila dirasakan anak-anak, berdampak pula pada tindakan negatif.
“Jika anak-anak dibawah umur menegak minuman keras atau merokok dan sebagainya apalagi ke tempat hiburan malam, itu akan mempengaruhi pola pikir dan tingkah lakunya. Bisa jadi mereka akan menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual dan fisik. Ini yang kita cegah,” tegasnya.
Jika memang nanti ada indikasi anak dibawah umur sering ke tempat hiburan malam, pihaknya kata Sapta akan memberikan teguran keras kepada pengelola tempat hiburan malam tersebut.
“Tentu kami bisa memberikan teguran dan rekomendasi untuk menutup club itu kepada kepala daerah,” tambahnya.
Tak hanya alasan itu saja, pihaknya juga mengendus adanya dugaan trafficking atau perdagangan manusia yang terjadi di Babel ini, dan melibatkan anak-anak.
“Kitapun sudah mendapatkan informasi indikasi trafficking anak dibawah umur. Dari investigasi kami, kasus seperti itu terjadi dimulai dengan pertemuan di cafe atau warung kopi. Ini yang perlu diselidiki. Makanya kami akan menggandeng aparat penegak hukum,” ujarnya.
Untuk itu, pihaknya akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Perlindungan Anak. Satgas Pengawasan ini, akan merekrut unsur-unsur masyarakat, seperti RT/RW bahkan media massa akan ada di dalamnya bersama Kepolisian, TNI dan Kejaksaan.
“Satgas inilah yang akan bergerak dan memberikan masukan kepada kita, termasuk hak dasar seperti masalah kesehatan anak anak atau anak yang ditelantarkan,” tukasnya. (bum/1)

Related posts