Banjir dan Muhasabah Sistem

  • Whatsapp
ilustrasi
foto ilustrasi

Oleh: Nurul Aryani

Aktivis Dakwah Babel

Read More

Banjir kembali menerjang Ibu Kota Negara dan sekitarnya. Ketinggian air membuat Jakarta lumpuh total pada awal Januari ini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Jakarta memang selalu menjadi daerah langganan banjir. Banjir tak hanya melumpuhkan Jakarta saja, tetapi juga merambah berbagai daerah di Indonesia seperti Banten, Lahat, Sumatera Selatan hingga ujung Timur Indonesia. Banjir mematikan ini, bukan hanya melumpuhkan transportasi, namun juga merenggut puluhan nyawa serta membuat ribuan orang lainnya mengungsi. Belum lagi kehilangan harta benda.

Banjir yang berulang terjadi bahkan merambah ke wilayah baru yang jarang banjir memperlihatkan bahwa pemerintah masih stagnan dalam masalah ini, dan terus mengulang kesalahan yang sama. Padahal, masalah banjir ini, sudah menelan korban nyawa

Pembangunan Kapitalistik

Sebagaimana yang bisa kita lihat, pembangunan digencarkan dimana-mana, dari ujung Aceh hingga Papua. Parahnya lagi, pembangunan berbasis ideology kapitalisme ini hanya mementingkan keuntungan bagi para pemilik modal serta deal-deal lainnya. Sementara mereka tidak memperhatikan pembangunan yang mereka lakukan menyebabkan bencana. Tidak memperhatikan Analisis dampak lingkungan hingga deforestasi (alih fungsi hutan pada selain hutan) tak terelakkan. Liberalisasi hutan terjadi secara massif, pengalihan fungsi hutan untuk pembangunan infrastruktur jalan, Pelabuhan, Bandara hingga liberalisasi tambang yang merusak.

Organisasi lingkungan Jerman Naturschutzbund melaporkan pada laman dw.com (2/6/2016); bertajuk Bagaimana Ambisi Iklim Eropa Membunuh Hutan Indonesia, menegaskan hanya untuk memenuhi kebutuhan impor Eropa pada tahun 2012 dibutuhkan lahan produksi seluas 7.000 kilometer persegi. (Muslimahnews.com).

Saat ini, sudah puluhan juta hektare gambut tropis Indonesia yang dirusak demi program biofuel yang absurd dan hegemoni. Menurut WWF, untuk kepentingan perkebunan sawit, Kalimantan akan kehilangan 10-13 juta hektare hutan antara 2015 hingga 2020. (Muslimahnews.com).

Kembali ke masalah Banjir, itu terjadi karena asbab keserakahan manusia, ini memang akan terus terjadi selama diterapkannya ideology kapitalisme yang hanya mementingkan para pengusaha, para pemilik modal. Hutan-hutan akan terus beralih fungsi tanpa memikirkan dampak jangka panjang untuk rakyat. Daerah Aliran Sungai (DAS) sudah banyak yang “mampet” atau kritis, penambangan liar tanpa penghijauan kembali juga membuat kolong-kolong penampung air yang jika hujan akan mudah untuk meluap.

Banjir yang terjadi berulang kali hingga memakan korban nyawa tentu terjadi secara sistemik. Banjir produksi sistem yang serakah, yang semestinya sudah harus ditangani secepat mungkin agar tidak berulang setiap tahun atau setiap musim hujan.

Sistem Islam untuk Menyelesaikan Banjir Sistemik

Paradigma berfikir dalam islam penguasa menjalankan pemerintahan haruslah mengedepankan kepentingan rakyat, bagaimana ia mengatur masalah rakyat, melindungi mereka termasuk nyawa hingga harta benda. Atas dasar itu, berbagai deal-deal politik yang membuat kerusakan dan menjadikan rakyat sebagai korban tidak akan dilirik oleh Negara.

Dalam perihal hutan, ia merupakan harta milik umum yang harus dikelola ole Negara semata-mata untuk kemaslahatan rakyat. Tidak diperbolehkan memberikannya kepada swasta apalagi asing baik untuk tambang, pembangunan infrastruktur dll. Karena yang demikian bisa dilakukan dilokasi yang lain selain hutan atau hutan dikelola oleh Negara. Jikapun ada hasil tambang di hutan tersebut, negaralah yang harus mengelolanya untuk kepentingan rakyat dan tidak meninggalkan kerusakan yang membahayakan rakyat atau berakibat bencana.

Mari kita renungkan hadist berikut, Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput/hutan, air dan api”(HR Abu Dawud ).

Keserakahan akan hutan tidak akan terjadi, pengurusan penguasa pada rakyat didasari keimanan kepada Allah SWT, bukan ketundukan kepada pemilik modal. “Imam adalah ibarat penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya).” (HR Muslim).

Penguasa akan bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang menimpa rakyatnya, apalagi jika sudah menyangkut kerusakan dan kehilangan nyawa. Saatnya muhasabah sistem, apakah selama ini sistem kapitalisme memberikan keuntungan kepada rakyat atau justru hanya membuat derita rakyat kian bertambah ?

Jika kita sudah melihat fakta yang terjadi sedemikian, maka sudah saatnya kita kembali kepada aturan dan hukum Allah yang tidak memiliki kepentingan apapun kecuali akan menjadi berkah untuk seluruh alam. Wallahu’alam.(***)

Related posts