Banjir Beltim Akibat Tambang, Terbantah

No comment 487 views

UGM Bilang Sedimentasi dan Curah Hujan

Pangkalpinang – Isyarat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman bahwa banjir yang terjadi di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) bulan lalu disebabkan aktivitas tambang dan pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI), sepertinya terbantahkan.
Berdasarkan kajian cepat (Rapid Assisment) yang dilakukan Tim Leader dari UGM, banjir di Beltim diduga akibat curah hujan yang memang tinggi, ditambah sedimentasi cukup tinggi di beberapa aliran sungai.
“Praduga pertama ada memang hujan yang volumenya luar biasa, daya tampung tidak mencukupi karena proaes pendangkalan (sedimentasi). Kemudian bendung menjadi bendungan ada istilahnya salah konstruksi. Kalau bendung itu menjadi tempat irigasi, sementara PICE bendungan yang menyimpan air,” ungkap Tim Leader Kajian Rapid Assisment Bencana Banjir Beltim, Arief Kusumawanto kepada wartawan, Jumat (18/8/2017).
Arief yang juga dosen arsitek UGM ini menyebutkan, dari hipotesa yang diambil dalam survey di Beltim, banjir itu memang dikarenakan curah hujan (volume) hujan yang tinggi.
Dari hipotesa itu, kata dia, tim kemudian akan melakukan kajian lebih dalam sekitar satu hingga dua bulan untuk mendapatkan hasilnya. Sehingga nanti bisa disimpulkan langkah apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir kerusakan alam terjadi di Beltim.
“Kami belum bisa simpulkan, tapi baru hipotesa, akan dikaji lebih dalam,” imbuhnya.
Meski begitu, ada juga keterkaitan pertambangan dalam hal ini. Dan untuk jangka panjang UGM menawarkan pendidikan bagi masyarakat agar mendalami mengenai pertambangan. Supaya nantinya dapat menerapkan sistem pertambangan yang terintegrasi dengan lingkungan, serta sustainable development.
“Jangan sampai ada penambang yang bekerja tanpa SOP yang layak sehingga gampang terkena guguran longsoran. Kemudian katanya ada juga yang tersambar petir, makanya harus terintegrasi, siapa yang pasang anti petir dan sebagainya,” tukasnya.
Menanggapi itu, Gubernur Babel mengaku menunggu rekomendasi dari tim UGM. Ia mengakui selain curah hujan yang tinggi, sendimentasi menjadi penyebab banjir Beltim.
“Yang dilakukan tim ini baru Rapid Assisment, nanti rekomendasi akan keluar apa yang harus dilakukan. Salah satu penyebabnya adalah sedimentasi yang berlebihan ini karena dukungan alam di luar batas atau manajemen aktivitas pengelolaan lingkungan yang perlu penanganan secara khusus,” kata gubernur.
Mengingat sedimentasi yang cukup tinggi ini, makanya kata gubernur beberapa waktu lalu ia sempat menghentikan aktivitas pertambangan di Beltim, dan memanggil perusahaan tambang, HTI dan masyarakat untuk mengkaji dan mendata lebih jauh.
“Nanti kita lakukan pemanggilan kepada kawan-kawan disitu, bisa HTI, komunitas perumahan, pasar, tambang, setelah jadi baru tim melakukan kajian yang lebih mendalam,” ujarnya.
Kendati demikian, Erzaldi menegaskan bukan berarti aktivitas pertambangan di Beltim menunggu kajian ini selesai, tapi apa yang dihasilkan nanti diharapakan dapat dilaksanakan.
“Misalnya untuk mengkonsolidasikan agar sedimentasi sungai berkurang, apa yang harus dilakukan, membuat pola rekonstruksi penambangan bisa kita lakukan,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, Gubernur Erzaldi mengisyaratkan banjir yang terjadi di Kabupaten Belitung Timur sedikit banyak lantaran kawasan hutan sudah banyak menjadi kolong-kolong sehingga genangan air yang terjadi menjadi lebih banyak ketika hujan deras datang.
Meski tak ingin menyalahkan pertambangan yang menjadi pemicu terjadinya banjir, Erzaldi menyebutkan keberadaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Beltim salah satu penyebabnya. Hal ini ditegaskannya setelah melihat kondisi lapangan dari udara daratan Pulau Belitung memiliki banyak kolong-kolong eks tambang di masa lalu, dan alih fungsi hutan untuk peruntukan lainnya secara masif.
“Iya banyak kolong karena pertambangan, tapi kita jangan salah menyalah itu, saya belum melihat secara teliti. Ada desa di sana yang mendapat izin mengelola HTI tapi langsung membabat habis hutan, bayangkan saja,” sebutnya usai penyerahan LHP BPK RI di DPRD Babel, Kamis (20/7/2017).
Dari pantauan udara juga, sambungnya, air yang ada tidak masuk ke dalam saluran penampungan, sehingga air tersebut kemana-mana sekitar 2500 hektar.
“Kalau bahasa Bangka nya, 2500 hektar air itu nganyau kemana-mana, dak masuk ke pintu air, karena tidak ada salurannya, yang selama ini mungkin tertutup dengan aktivitas lain,” imbuhnya.
Untuk itu, Erzaldi menginstruksikan agar Bupati mengumpulkan para pengusaha yang ada di Beltim, baik pengusaha perkebunan, pertambangan maupun lainnya, untuk duduk bersama gubernur.
“Saya bukan mau minta pertanggungjawaban, tapi saya minta jangan hanya keruk alamnya saja, giliran bencana dak keliatan batang hidung e mana, saya gak mau,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan mantan Bupati Bangka Tengah ini, untuk menanggulangi banjir ini harus melihat master plan yang ada dan butuh waktu, mengingat musibah ini menelan kerugian yang sangat besar. (nov/1)

No Response

Leave a reply "Banjir Beltim Akibat Tambang, Terbantah"