Bangun PLTSa, Babel Butuh Banyak Sampah

  • Whatsapp

Sinergi Pemprov-PLN Babel
Teken MoU dalam Waktu Dekat

PANGKALPINANG- Pemprov Bangka Belitung (Babel) bekerjasama dengan PT PLN Unit Induk Wilayah Babel dalam waktu dekat akan merealisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PTLSa). Penandatanganan nota kesepahaman terkait PTLSa ini akan dilaksanakan Minggu depan.

“Minggu depan dijadwalkan penandatanganan MoU antara Pemprov dan PLN, draf kerjasamanya sudah selesai, tinggal pelaksanaan saja,” kata Kabid Pemeliharaan Lingkungan Hidup, Pengelolaan Sampah, dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Babel, Mega Oktarian kepada wartawan akhir pekan lalu.

Menurutnya pembangunan PTLSa tersebut seiring dengan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35/2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah.

Ia menyebutkan, sampah yang bisa dijadikan sumber listrik ini berasal dari sampah masyarakat, mulai sampah plastik, sampah organik dan lainnya yang akan dilakukan teknik peuyeumisasi dan dalam 10 hari sampah menjadi pelet.

“Pelet inilah yang nanti dilakukan pembakaran hingga berubah menjadi gas dan dijadikan sumber listrik, berapapun nanti yang didapat PLN siap membeli,” kata Mega.

Rencananya, tempat pengolahan ini akan diterapkan di lingkungan RT/RW yang sudah mengelola sampah, agar lebih dirasakan manfaatnya, ketimbang dikelola di TPA. Namun, ia belum memastikan pilot project ini nantinya ditetapkan di daerah mana.

“Sasaran PLN maunya di kelompok masyarakat, sampah menjadi listrik ini di pihak PLN ada program tempat olah sampah setempat (tost) sebagai proses pembuatan energinya,” ulas Mega.

Sebelumnya, tambah Mega, PLN sudah pernah ujcoba pelet dari sampah ini sebagai sumber energi di PLTD Merawang.”Sudah pernah dibuat, semua sampah bisa, daun, kertas, plastik kresek pun bisa,” imbuhnya.

Disinggung pemerintah yang akan memberikan tipping fee (biaya ongkos-red) kepada daerah yang mengelola PLTSa ini, ia mengaku belum mengetahui perihal tersebut.

“PLTSa ini kita kembangkan karena selama ini kompos yang dihasilkan dari sampah agak kesulitan dijual oleh pengelola, sehingga kita mencari alternatif lain yang lebih bermanfaat,” tandasnya.

Mega berharap, setelah nantinya PLTSa ini berjalan serta sampah yang menjadi sumber listrik ini banyak, harga bahan listrik menjadi lebih murah dan masyarakat tidak lagi membeli listrik dengan harga tinggi atau lebih murah.

“Hanya saja memang dibutuhkan banyak sampah, karena terjadi penyusutan 1/3, misalnya 30 kilo sampah ketika diolah hanya akan menghasilkan 10 kilogram pelet saja,” bebernya.

Pelet inilah yang akan dibeli oleh PLN seharga Rp 700/kg dan bank sampah yang dikelola oleh RT atau desa rencananya akan dilirik oleh PLN.

“Sampah ini harus diawali dari kemauan, ketika sudah tau nilai sampah, akan menjadi berkah. Selama ini karena ketidaktahuan, walaupun kecil tapi berkahnya banyak,” pungkasnya.(nov/10)

Related posts