Bangkit untuk Kebermajuan

  • Whatsapp

Oleh: Rusmin
Penulis Buku tinggal di Toboali, Bangka Selatan

Negeri ini sungguh luar biasa. Kemolekan alamnya menebarkan aroma harum hingga ke seluruh penjuru dunia. Libido para penguasa dunia pun tertancap di ubun-ubun untuk menikmati kemolekan Ibu Pertiwi. Ratusan tahun imperilis Belanda menyusui Ibu Pertiwi. Inggris dan Portugis pun mencoba menghisap darah negeri ini. Raksasa Asia Jepang pun tak mau ketinggalan untuk ambil bagian untuk menikmati kemolekan alam negeri ini dengan nafsu menjajah.

Haus hegemoni yang diperlihatkan bangsa-bangsa penjajah membuat para rakyat negeri ini sadar dan terbangun dari mimpi buruk. Adalah tak patut bangsa lain menikmati kemolekan dan kekayaan ibu Pertiwi. Rakyat negeri inilah sebagai pemegang kekuasaan negeri ini yang harusnya wajib menikmati kemolekan dan kekayaan negeri ini untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Rasa kebangsaan dan nasionalisme pun tumbuh dan lahir dalam nurani, jiwa dan pikiran para bangsawan pikiran bangsa ini bahwa martabat bangsa wajib diperjuangkan meskipun taruhannya darah, airmata bahkan jiwa raga.

Indonesia Raya pun berkumandang dari Sabang hingga Merauke. Sang Saka MERAH PUTIH berkibar dengan gagah berani di halaman-halaman rumah rakyat yang tersebar dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Proklamasi digaungkan SOEKARNO HATTA. Pekikan MERDEKA membelah angkasa dan jagad raya dan mengalir dalam darah, nurani rakyat. Kita telah MERDEKA.

Negeri ini terus melaju. Membelah riak-riak untuk terus menuju negeri kesejahteraan sebagaimana cita-cita para pejuang bangsa. Dan zaman pun berubah. Orde lama tumbang. Lahir orde baru. Orba runtuh era reformasi dibangun. Pemimpin yang menakhodai negeri ini pun terus berganti dari Soekarno hingga sekarang SBY. Bangkitkah kesejahteraan rakyat? Apakah rakyat sebagai pemegang kekuasaan negeri ini makmur? Apakah penghuni negara ini yang berdiam diri dari Miangas hingga Rote bahagia?

Rakyat negeri ini sungguh-sungguh hebat dan patriotik dalam menempuh kerasnya kehidupan. Berjuang dan terus berjuang untuk hidup dan kehidupannya. Berbagai gairah purba yang dilakukan pemimpin dan pemegang kekuasaan dan pengemban amanah rakyat tak membuat rakyat negeri ini putus asa dalam menempuh kehidupan. Mereka tetap hidup dan terus menantang kehidupan.

Suara rakyat yang mereka dititipkan kepada WAKIL RAKYAT di TPS dengan rasa bahagia lenyap entah kemana. Bergema lantang hanya untuk kepentingan kantong safari WAKIL RAKYAT, Pemimpin yang dipilih oleh rakyat pun kini sibuk menebar pesona di media dan citra diri. Tampil dimana-mana. Di koran, di televisi, di radio, di baliho untuk pamerkan diri dengan slogan yang penuh kata-kata dan diksi heroik bak pahlawan. Padahal strategi besar untuk kepentingan hanya ada di catatan dan dalam bualan saja tanpa ada implementasi nyata untuk kesejahteraan rakyat.

Hegemoni seolah-olah hanya milik para penguasa dan pemegang amanah rakyat. Padahal tanpa suara rakyat impian mareka untuk menjadi pemimpin hanya ada di kasur sebagai penghias tidur siang. Sok kuasa pun ditunjukkan. Kesana kesini naik mobil berflat merah. Rakyat cuma dihibur dengan suaraknalpot dan deru debu. Namun rakyat tetap bangga dengan kehidupannya dalam menjalani kehidupan. Dengan hasil kebun. Dengan penuh perjuangan rakyat tetap hidup dan berkehidupan.

Menjelang PILKADA dan PEMILU, para pemimpin menunjukan sikap baik hati. Bertandang ke rumah-rumah rakyat. Bercerita dan berkelakar. Tunjukan diri paling pro rakyat. Ceritanya pun membela langit tujuh soal kesejahteraan rakyat. Gayanya bak malaikat. Egomania. UUD. Ujung-ujungnya minta Dukungan.
Rakyat negeri ini sudah sangat cerdas dan pintar, Rakyat tahu mana Pemimpn yang pro rakyat yang hakiki. Rakyat makin paham dan memahami, mana Wakil rakyat yang sesungguhnya berjuang untuk rakyat. Rakyat tidak akan pernah memilih Pemimpin dan Wakil Rakyat yang lahir dari proses perekrutan yang bersandarkan pada keturunan sebagaimana dalam aristokrasi. Rakyat tidak akan pernah memimpikan pemimpin dan Wakil Rakyat yang lahir dari proses perekrutan pada kekayaan sebagaimana dalam plutokrasi.

Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dinegeri ini akan melahirkan Pemimpin dan Wakil Rakyat yang berjejak pada prestasi (meritokrasi) yang berjuang dengan aksi nyata dan amat dirasalan rakyat. Bukan yang mengatasnamakan rakyat namun berjuang untuk kemakmuran pribadi. Dan ini yang kata Bung Karno bahwa dalam suatu masa kamu (rakyat) akan lebih berat dalam berkehidupan karena menghadapi bangsamu sendiri.
Harus dipahami bahwa rakyat negeri ini tidak akan ernah bermimpi sedetikpun untuk melahirkan Pemimpin dan Wail Rakyat yang ambisi berkuasanya berada diubun-ubun yang selalu lupa akan kemampuan diri dalam mengartikulasikan suara dan kepentingan rakyat. Silahkan para pengambisi di ubun-ubun mendirikan Partai, mencalonkan diri. Turun gunung untuk menebar pesona masa lampau. Para pengambisi diubun-ubun berasumsi kehadiran mareka dengan libido kekuasaana akan mampu merebut simpati dan empati rakyat yang kini didera jeritan hidup yang menggenaskan akibat ulah para pemegang amanah rakyat.

Pengambisi diubun-ubun tampaknya lupa atau amnesia bahwa rakyat negeri ini sudah sangat cerdas dan bernas dalam berpikir. Rakyat makin paham dan memahami siapa dan mana pemimpin yang berjuang untuk kepentingan rakyat dan mana pemimpin yang ketika diberi amanah berjuang untuk kepentingan pribadi, keluarga, golongan dan para konconya. Dan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dinegeri ini akan melakukan penghakiman di TPS-TPS para hari dan waktunya. Pada hari itu rakyat akan menentukan perubahan di negeri ini. Rakyat akan melahirkan pemimpin buat mereka dan bekerja serta mengabdi untuk mereka, rakyat.

Saatnya kita sebagai rakyat pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini bangkit untuk melawan ketertindasan, kemiskinan, kebodohan dan arogansi kekuasaan. Saatnya bangkit untuk perubahan dan kebermajuan harus, kita gemakan dengan lantang dan penuh patriotisme ke seluruh penjuru nurani dan jiwa anak negeri ini untuk bangkit menuju perubahan kebermajuan demi kemakmuran kita sebagai rakyat. Saatnya bangkit untuk perubahan kebermajuan kehidupan. Salam Junjung Besaoh.(***).

Related posts