by

Bangka Selatan KLB Difteri

-NEWS-394 views

Mirip Sango, Dua Anak Suspek Meninggal
Awas! Jenis Penyakit Berbahaya dan Menular

Pangkalpinang – Dua orang anak asal Kabupaten Bangka Selatan (Basel) dinyatakan suspek Difteri. Namun sayangnya, belum sempat diobati lebih lanjut, dua anak yang menderita penyakit Difteri ini terlebih dahulu meninggal dunia. Atas kasus ini, Provinsi Bangka Belitung dinyatakan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri Lokal, khusus di daerah Kabupaten Bangka Selatan.
Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Kadinkes Babel), Mulyono Susanto mengatakan, Difteri adalah jenis penyakit menular. Penyakit ini umumnya diderita oleh anak yang tidak atau kurang lengkap mendapatkan imunisasi sejak bayi.
“Ada dua kasus (di Bangka Selatan) tapi masih suspek, belum sempat dikirim ke pusat sudah keburu meninggal, klinis Difteri. Dua kasus dengan dua kematian di Basel, dan kita sudah dinyatakan KLB Lokal,” jelas Mulyono.
Untuk penanganan Difteri ini, pada tahun depan sebanyak 19 provinsi di wilayah Sumatera, termasuk Bangka Belitung akan dilakukan imunisasi massa ulang untuk anak usia 1-19 tahun.
“Wilayah Sumatera hampir menyeluruh di 19 provinsi, triwulan pertama 2018 akan dilakukan imunisasi ulang,” imbuhnya.
Oleh karenanya, Dinas Kesehatan Provinsi Babel dan kabupaten akan menyusuri betul anak-anak di Bangka Selatan serta daerah lainnya yang belum mendapatkan kekebalan melalui imunisasi. Karena penyakit ini, umumnya menyerang anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi.
“Mestinya dibawah satu tahun itu sudah mendapatkan tiga kali imunisasi ini hingga nanti duduk di bangku SD itu diberikan lagi total lima kali,” tandasnya.
“70 persen kasus ini terjadi pada orang yang tak terimunisasi, 28 persen yang imunisasinya tak lengkap, dan 2 persen yang terimunisasi. Jika sudah terimunisasi mestinya sudah terlindungi,” tambahnya.
Dokter gigi ini menambahkan, Difteri disebabkan oleh kuman/bakteri yang menyerang kerongkongan/tenggorokan. Masyarakat awam di Pulau Bangka kerap menyebutnya dengan sakit Sango. Dan Difteri ini hampir mirip dengan penyakit Sango.
“Tapi tak semua Sango itu Difteri, resikonya lebih tinggi, dan ini penyakit menular,” imbuhnya. Untuk itu Mulyono berharap para orangtua agar tidak menyepelekan imunisasi, dan harus mengimunisasi anak-anak sejak bayi, karena imunisasi merupakan kekebalan untuk bayi.
“Kalau yang ibunya sibuk, ya luangkanlah waktu untuk mengantar anaknya imunisasi di Posyandu. Itulah pentingnya imunisasi untuk kekebalan tubuh, karena kalau tak diimunisasi kekebalan tubuh anak kurang sehingga rentan terserang penyakit,” bebernya.
Untuk diketahui, Difteri disebabkan oleh Bakteri Corynebacterium Diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin Difteri. Ada sejumlah cara penularan penyakit ini yang perlu diwaspadai. Seperti, terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan Difteri yang paling umum.
Kemudian dari barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri. Contohnya mainan anak-anak, ponsel barang lain atau handuk. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat Difteri di kulit penderita, juga membuat Difteri gampang menular. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
Bakteri Difteri akan menghasilkan racun yang membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
Terkadang, Difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, maka mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama yang belum mendapatkan imunisasi.

Gejala Difteri
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi, terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel. Demam dan menggigil. Sakit tenggorokan dan suara serak. Sulit bernapas atau napas yang cepat. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher. Lemas dan lelah. Pilek. Ingus atau cairan dari hidung awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental
dan terkadang bercampur darah.
Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.
Cara paling gampang mengantisipasi Bakteri Difteri masuk ke dalam tubuh adalah dengan segera memeriksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Sebab, penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi. (nov/1)

Comment