Bangka Krisis Kader, DHY Bentuk Poros Baru

  • Whatsapp

Songsong Pilkada Bangka 2018

Dudi Helmy Yudha

SUNGAILIAT – Pengusaha asli Bangka, Dudi Helmy Yudha (DHY) berinisiatif membentuk Poros Bangka Baru dalam menyongsong Pemilihan Bupati (Pilbup) Bangka tahun 2018 mendatang. Menurut dia, sekarang ini Kabupaten Bangka krisis kader dan tidak ada bibit-bibit yang dapat meneruskan estafet kepemimpinan di Bangka tahun 2018-2023.

“Saya berdiskusi dengan kawan-kawan dan senior, serta tokoh yang ada di Kabupaten Bangka, mereka mengatakan sekarang ini Kabupaten Bangka krisis kader. Oleh karena itu, kata Dudi, dibutuhkan suatu kerjasama di masyarakat. Ia pun Untuk itu saya berinisiatif bersama relawan DHY membentuk Poros Bangka Baru,” kata DHY dalam keterangannya pada jumpa pers dengan awak media, Rabu (12/4/2017).

Poros Bangka Baru, kata DHY, bertujuan untuk mencari kader-kader yang ada di Kabupaten Bangka. Ia mengakui sudah mendengar banyak kader yang ada di wilayah Bangka, yaitu Belinyu, Sungailiat dan juga Mendo Barat. Semakin banyak kader, kata dia akan semakin baik untuk Kabupaten Bangka.

Pada kesempatan itu ia menekankan, banyak orang Bangka yang berada di luar daerah dan berpotensi menjadi pemimpin. Ia mencontohkan saat ini DKI Jakarta dipegang oleh orang Babel, termasuk sebelumnya pimpinan KPK yaitu Antasari Azhar yang juga orang Bangka.

“Bangka ini akan maju kalau semua elemen masyarakat bersatu. Utamanya mereka yang berada di luar Kabupaten Bangka. Mereka itu sebetulnya produktif. Saya ingin Bangka lebih baik, kita perlu kerjasama,. Ada stakeholder yang berada disana. Masyarakat yang ada di lautan, pesisir pantai, pegunungan. Saya ingin berpartisipasi, memberikan sumbangsih kepada Kabupaten Bangka ini supaya masyarakat Kabupaten Bangka lebih serius, persaingan lebih ketat,” katanya.

DHY menjelaskan, dalam undang-undang ada dua cara untuk maju dalam Pilkada yaitu melalui jalur partai politik ataupun independen. Namun ia mengakui bahwa kekuatan partai politik memang sangat berpengaruh.

“Saya ingin mengatakan, perlu koalisi dengan siapa saja karena jumlah kursi 30 syarat untuk maju 7 kursi. Satu-satunya partai yang bisa maju tanpa koalisi hanya PDI-P. Sementara partai lain mau tidak mau harus koalisi. Saya ingin membuka kran sebesar-besarnya terhadap Poros Bangka Baru. Di Poros Bangka Baru siapa saja yang nanti masuk dalam hitungan kita. Tidak saya, siapa saja boleh maju artinya saya tidak ambisius. Teman Kabupaten Bangka yo kita bangun. Ayo keluarlah, tidak usah malu-malu. Sudah saatnya kita bekerjasama, bersatu padu membangun Kabupaten Bangka tercinta ini,” terangnya sambil menuturkan sudah mulai melakukan pendekatan melalu media sosial dan ke masyarakat langsung.

Transportasi Publik Jadi Sorotan

DHY mengutarakan hal yang belum ada di Kabupaten Bangka. Salahsatunya adalah mengenai transportasi publik di kecamatan. Ia berasumsi mengenai hal tersebut, mungkin belum terpikirkan. Padahal transportasi publik sangat penting untuk penunjang ekonomi.

“Satu atau dua bus setiap kecamatan supaya transportasi di Kabupaten Bangka ini bisa bergerak. Yang menyebabkan ekonomi bisa maju adalah transportasi publik. Seperti misalnya bandara. Bayangkan di Babel tidak ada bandara, ekonomi bisa maju atau tidak. Saya rasa tidak akan maju. Makin banyak bandara makin bagus. Saya dengar setiap kabupaten bisa dibangun bandara,” ujar putra kelahiran Sungailiat ini.

Selain itu, soal infrastruktur juga harus dipikirkan oleh pemimpin penerus dan lebih serius lagi nanti supaya Bangka tidak seperti itu-itu saja tanpa adanya kemajuan.

“Mungkin ada progresnya tapi tidak masif dan progresif. Yang kita inginkan Bangka ini masif dan progresif. InshaAllah saya siap bekerja dengan relawan DHY dengan masyarakat Kabupaten Bangka untuk bagaimana Kabupaten Bangka lebih baik,” imbuhnya.

Menyangkut pertumbuhan ekonomi di Bangka, DHY tak menampik lesunya perekonomian masyararakat Kabupaten Bangka pasca tambang saat ini.

“Maaf, Kabupaten Bangka saat ini kehilangan arah. Arah dan tujuannya mau dibawa kemana. Bangka mau dibawa ke pertambangan, ke pariwisata atau mau kemana. Harusnya kepala daerah itu tegas. Dalam artian misal mau ke pariwisata fokus ke pariwisata. Memang kebetulan Bangka memiliki sumber daya alam luar biasa dan pariwisata luar biasa sehingga kepala daerah kebingungan untuk mengambil sikap. Harus fokus ke pertambangan atau mau ke pariwisata atau ke pertanian. Harusnya kecamatan-kecamatan itu potensinya digali. Saya berharap pembangunan ekonomi di Kabupaten Bangka tidak terfokus dipertambangan saja. UU pertambangan sekarang makin ketat. Sekarang yang terjadi apa
Tingkat kerawanan karena ekonomi turun makin tinggi. Ini bukan hanya tanggungjawab kepala daerah tapi kita semua,” pungkasnya.(snt/10)

Related posts