“Bangka Belitung Menuju Bebas Stunting”

  • Whatsapp

Oleh: Rahma Nurhamidah, S. ST
Statistisi Pertama BPS Kota Pangkalpinang

Pencapaian ekonomi Provinsi Bangka Belitung yang baik, tidak menjadikan Provinsi ini, bebas stunting. Sebab, Stunting masih menjadi masalah di Babel. Lantas, apakah stunting masih dianggap penting?
Tanggal 28 Februari dikenal sebagai Hari Gizi Nasional. Namun, kekurangan gizi masih menjadi permasalahan sampai saat ini. Terlebih lagi permasalahan kejadian balita pendek atau “stunting” yang telah merambah ke Negeri Serumpun Sebalai “Bangka Belitung”. Terdapat 4.565 anak balita di Provinsi Bangka Belitung yang mengalami stunting akibat kekurangan gizi. Fakta ini, merupakan hasil pemantauan status gizi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Media Indonesia, 2018). Ribuan anak yang mengalami stunting tersebut, tersebar di 6 Kabupaten/Kota, dengan rincian, Bangka Barat sekitar 694 anak, Bangka sekitar 1.045 anak, Belitung sekitar 486 anak, Bangka Tengah sekitar 534 anak, Bangka Selatan sekitar 597 anak, Belitung Timur sekitar 427 anak, dan Pangkalpinang sekitar 784 anak. Data e-PPGBM 13 Februari hingga 15 Februari 2019, dari 309 desa ada 77 desa di Bangka Belitung yang mengalami stunting, yaitu 4 desa di Kabupaten Belitung Timur, 15 desa di Kabupaten Belitung, 7 kelurahan di Kota Pangkalpinang, 8 desa di Kabupaten Bangka Tengah, di Bangka Selatan ada 9 desa dan 9 desa juga di Kabupaten Bangka (Rakyat Pos, 2019).

Pada Maret 2018, persentase penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Kepulauan Bangka Belitung mencapai 5,25 persen, turun sebesar 0,05 poin persen dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang sebesar 5,30 persen (Berita Resmi Statistik, 16 Juli 2018). Bahkan, Bangka Belitung memiliki gini ratio atau angka ketimpangan ekonomi terendah se-Indonesia, yakni sebesar 0,281 persen (BPS, 2018). Hal ini menunjukkan jurang kesenjangan antara kaya dan miskin semakin kecil dan terus menurun. Ditambah lagi, pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung triwulan III tahun 2018 menjadi pertumbuhan tertinggi di Sumatera, yang mencapai 7,09 persen. Pertumbuhan ini meningkat dari triwulan yang sama tahun 2017 sebesar 3,60 persen (BPS, 2018). Pencapaian ekonomi yang sangat baik tersebut, seharusnya memberikan kesejahteraan yang sama kepada setiap penduduk di Bangka Belitug. Hal ini tentunya memberi kesempatan baik kepada masyarakat Bangka Belitung untuk memenuhi ketercukupan asupan gizinya. Terlebih lagi, pada balita yang seharusnya membutuhkan asupan gizi lebih banyak. Namun, sangat disayangkan Bangka Belitung masih terjerat permasalahan balita pendek atau yang biasa dikenal dengan istilah “stunting.”

Stunting masih menjadi masalah sampai saat ini. Lantas, mengapa stunting dianggap menjadi masalah yang begitu penting? Apa sebenarnya dampak dari stunting itu sendiri?

Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang menderita stunting akan lebih rentan terhadap penyakit, dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit degeneratif. Dampak stunting tidak hanya pada segi kesehatan tetapi juga mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.

Anak merupakan aset di masa depan. Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi sumber daya manusia Bangka Belitung di masa yang akan datang jika saat ini banyak anak yang menderita stunting. Bangka Belitung tentunya akan sulit bersaing dengan daerah lain dalam menghadapi tantangan global. Sangat disayangkan, dengan pencapaian ekonomi yang baik, Babel masih terjerat masalah “stunting”. Stunting dalam hal ini menjadi penting, mengingat besarnya dampak yang ditimbukan terhadap kualitas Sumber Daya Manusia di Bangka Belitung. Hal ini tentunya secara tidak langsung akan berdampak pula pada penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Dengan skill yang ada, Bangka Belitung masih menghadapi masalah pengangguran, terlebih lagi ditambah masalah “stunting” yang menghasilkan SDM yang kurang berkualitas. Tentunya, pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung lambat laun akan melambat. Lantas apa yang dapat dilakukan pemerintah Babel dalam hal ini?

Terkait dengan solusi tersebut, Pemerintah telah merintis Rumah Data yang akan mengidentifikasi, mengumpulkan, memverifikasi dan memanfaatkan data kondisi penduduk secara berkala. Data yang ada diperbaharui secara berkala dan ditempatkan dalam Rumah Data tersebut. Dengan demikian, hal ini tentunya dapat mempermudah masyarakat ataupun instansi yang ingin mengetahui data tentang kependudukan khususnya masalah keluarga.

Penyelesaian persoalan stunting harus dilihat dalam dua sisi. Pertama, penanganan bagi masyarakat yang telah terkena stunting. Kedua, upaya pencegahan agar stunting tidak terjadi kembali. Penanganan balita yang sudah terdampak stunting adalah dari sisi kesehatan dan asupan gizinya, yang tentunya memerlukan perhatian dari banyak pihak. Sedangkan, untuk upaya pencegahan stunting dapat dilakukan sejak masih masa remaja. Pencegahan stunting tersebut merupakan peran dari berbagai pihak untuk memberikan edukasi. Untuk Edukasi tersebut diberikan sedari remaja, misalnya ketika mau menikah sudah harus merencanakan asupan gizi saat hamil dan kebutuhan lainnya, sampai bayinya lahir dan tumbuh kembangnya. Hal ini harus terus dipantau untuk menimalisir agar stunting tidak terjadi.

Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang sedang dihadapi Bangka Belitung. Hal ini menjadi penting karena menyangkut kualitas sumber daya manusia Bangka Belitung di masa yang akan datang. Namun, upaya pencegahan dan penurunan angka stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan, tetapi perlu melibatkan lintas sector, dan tentunya dari dalam keluarga itu sendiri. Oleh karena itu, mari kita dukung “Bangka Belitung Menuju Bebas Stunting!”.(***).

Related posts