Bangka & Babar Masuk Daerah Stunting

  • Whatsapp

Salah Satu Penyebab Pernikahan Dini
Hasil Riset Riskesda 2013

SUNGAILIAT- Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) yang dilakukan pada tahun 2013, ada dua kabupaten di Bangka Belitung, termasuk dalam daerah stunting atau kasus gizi kronis, yakni ada di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka.

Menurut Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan, Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bangka, Boy Yandra, pada 2019 Kabupaten Bangka ditugaskan untuk menangani kasus stunting.

“Di Kabupaten Bangka ada 10 desa yang harus kita tangani bersama-sama dengan maksimal, sehingga kasus stunting dapat ditangani dengan tuntas,” ujarnya.

“Dan salah satu penyebab, kasus stunting tersebut yakni pernikahan dini, karena anak yang menikah muda tersebut, belum saatnya hamil, kemudian berpikir mengasuh anak dan kurangnya pemahaman pemberian gizi yang layak kepada anaknya,” lanjut Boy pada acara rapat kader koordinasi keluarga berencana PKB/PLKB dan rapat bulanan pegawai DP2KBP3A Kabupaten Bangka di gedung Sepintu Sedulang Sungailiat, Jumat (7/12/2018).

Menurutnya, dari hasil riset Riskesda tersebut, 10 desa di Kabupaten Bangka, adanya kasus stunting cukup tinggi yakni di Desa Rukam, Kota Kapur, Penagan, Air Duren, Mendo, Cengkong Abang, Maras Senang, Neknang, Baturusa dan Riding Panjang.

Terkait hal tersebut, upaya dari Dinas DP2KBP3A, bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, lanjut dia, ada kegiatan yang bersamaan untuk penanganan kasus stunting.

“Yang pertama ada kegiatan bina balita, yakni pemberian makanan tambahan, kegiatan penimbangan rutin untuk anak, dan juga diadakan sosialisasi tentang perkawinan usia dini, khusus di 10 desa di Kabupaten Bangka yang ada kasus stunting tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan, kami juga melakukan sosialisadi di desa lainya,” ujar Boy.

Ia menegaskan, salah satu penyebab stunting tersebut yakni perkawinan usia dini. “Ibu yang nikah muda belum mengetahui, memahami terkait gizi yang diperlukan saat ia hamil, dan juga saat bayi tersebut lahir nantinya. Dari segi ekonomi, anak yang dibawa usia 17 tahun, tidak boleh dipekerjakan, maka dari segi ekonomi, pasti lemah, begitu juga suaminya, sehingga hal tersebut menjadi penyebab stunting. Anaknya pertumbuhnya kerdil, perkembangan otaknya tidak normal, hal itu yang dinamakan stunting, maka Pemkab Bangka pada 2019 nanti, sesuai program tadi akan memaksimal menangani kasus stunting, bekerjasama dengan para kader- kader kita,” tandas Boy Yandra.(2nd/6)

Related posts