Bahasa Persatuan Sang Negeri Khatulistiwa

No comment 73 views


Oleh: Nilam Munawaroh
Siswa Kelas X Bahasa SMAN 1 Koba

Nilam Munawaroh

Negara Indonesia merupakan negara yang terlahir sebagai bangsa yang besar. Bentang alam geografis dan tropografisnya yang terpisah dan terisolasi antara satu pulau dengan pulau lainnya mendorong tumbuhnya berbagai suku bangsa, bahasa, dan kebudayaan yang beraneka ragam sesuai dengan daerahnya masing-masing. Terdapat berbagai macam suku, agama, ras, bahasa, budaya dan lain-lain ini membuat Indonesia dikenal sebagai negara yang paling heterogen di dunia.
Fakta ini mengantarkan Indonesia pada sebuah konsep yang menyatakan Indonesia bukanlah negara yang terbentuk dari satu suku, satu budaya, satu agama, satu bahasa, satu ras, ataupun satu golongan saja, melainkan Indonesia terbentuk dari keberagaman yang ada. Pemahaman ini mengantarkan Indonesia pada satu predikat yang dikenal sebagai negara pluraris. Pluralisme itu sendiri merupakan suatu kondisi masyarakat yang majemuk.
Maka dari itu, diperlukan satu bahasa yang berperan sebagai sarana komunikasi sekaligus sarana untuk menyatukan kemajemukan yang ada di Indonesia dalam satu ikatan, yakni bahasa Indonesia. Bahasa yang disahkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Sumpah Pemuda ini sangat jelas sekali pada ikrar ketiganya menyatakan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia pun sudah dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 besamaan dengan disahkannya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, yang dalam Undang-Undang itu sendiri disebutkan bahwa bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.
Berbicara mengenai Bahasa Indonesia tentunya tak bisa lepas dari asal-usul Bahasa Indonesia itu sendiri. Menguak tentang sejarah Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional ini, nyatanya ditemukan sebuah fakta tentang bahasa Melayu yang diketahui sebagai akar lingua fanca Indonesia. Bahasa persatuan Nusantara yang dinamai Bahasa Indonesia ini siapa sangka ternyata berasal dari bahasa Melayu, yakni salah satu bahasa daerah pribumi.
Fakta ini dipertegas kembali oleh peryataan Sutan Takdir Alisjabana dalam bukunya “Sejarah Bahasa Indonesia” yang mengutarakan bahwa bahasa Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersama sehingga dipakai di Nusantara layaknya seperti fungsi bahasa sebagai pemersatu. Selain itu, James Sneddon, penulis The Indonesia Language: Its History and Role in Modern Society terbitan UNSW Press, menyatakan Australia mencatat pula bahwa butir-butir dari Sumpah Pemuda merupakan bahasa Melayu Tinggi.
Dipilihnya bahasa Melayu sebagai Bahasa Indonesia tentu banyak mengundang pertanyaan mengapa harus bahasa Melayu. Padahal Indonesia sendiri tercatat memiliki hampir kurang lebih sekitar 742 bahasa ibu ditiap-tiap daerah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dengan menenpati posisi ke-2 bahasa daerah terbanyak di dunia setelah negara Papua New Guinea. Hal ini nampaknya masih menjadi ambigu bagi siapa saja yang baru mengetahuinya..
Dengan dijadikannya Bahasa Melayu sebagai bahasa dalam buku pelajaran agama Budha pada zaman Kerajaan Sriwijaya, menunjukkan bahwa bahasa Melayu adalah bahasa yang mudah dipelajari, apalagi bahasa tersebut tidak mempunyai tingkatan-tingkatan bahasa seperti yang dimiliki oleh bahasa daerah lainnya.
Selain itu bahasa Melayu juga merupakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, hal ini terbukti dengan digunakannya bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan di Nusantara yang terlihat dari bahasa Melayu itu sendiri dijadikan ciri khas bahasa perdagangan dan pelayanan di pelabuhan Indonesia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu, baik itu pemersatu antar suku di Nusantara maupun pemersatu bagi pedagang yang datang dari luar Nusantara. Artinya, bahasa Melayu ini mempunyai peranan yang amat penting bagi Indonesia, khususnya dalam menyatukan keberagaman yang ada. Tentunya hal ini memberikan keistimewaan tersendiri bagi bahasa Melayu
Tidak hanya itu, bahkan pada era penjajahan pemerintahan Belanda, bahasa Melayu nyatanya juga pernah menang bersaing dengan bahasa Belanda. Di mana pada saat itu ada oknum-oknum berkebangsaan Belanda yang tidak menyukai kehadiran bahasa Melayu yang bersikeras menginginkan bahasa Belanda sebagai bahasa di Indonesia dengan memasukkan bahasa Belanda ke dalam mata pelajaran wajib di sekolah rakyat dan sekolah pendidikan guru tahun 1900.
Namun hal itu dapat diatasi melalui jumlah penutur dari kedua bahasa tersebut di mana bahasa melayu lebih banyak digunakan orang kala itu dibandingkan bahasa Belanda yang hanya mampu dikuasi oleh segelintir orang saja. Di tambah lagi bahasa Melayu mudah disosialisasikan oleh semua orang dengan nasionalisme Indonesia dan tidak adanya perubahan yang berarti terhadap kebijakan resmi bahasa Belanda, membuat pengajaran bahasa Belanda mengalami pemerosotan.
Bahasa Melayu sendiri ternyata merupakan bahasa yang reseptif, yang artinya mudah menerima masukan dari bahasa daerah lain maupun bahasa asing. Terbukti bahwa bahasa Melayu juga menyerap berbagai kosakata bahasa-bahasa lain seperti bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Hal ini menegaskan bahwa bahasa Melayu yang digunakan di daerah-daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi berbagai corak budaya untuk mempercepat proses perkembangannya hingga ke pelosok Nusantara.
Pertumbuhan dan perkembangan bahasa melayu tampak makin jelas dari peninggalan-peninggalan kerajaan islam kisaran abad ke-16 dan ke-17 baik berupa batu tertulis seperti batu nisan maupun hasil-hasil susastra seperti syair karangan dari berbagai penyair terkemuka di zamanya di berbagai daerah di Nusantara.
Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mendorong tumbuhnya rasa persaudaraaan dan persatuan dalam keberagaman yang memenuhi sudut negeri. Membuat para pemuda Indonesia tergabung dalam pergerakan mengangkat bahasa Melayu sebagai Bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia.
Melihat kenyataan yang menegaskan bahwa bahasa Melayu layak menjadi bahasa persatuan di tanah keberagaman ini, tidak menjadikan bahasa-bahasa daerah lainnya terpinggirkan, melainkan menjadi satu. Tentunya pilihan ini diambil atas berbagai pertimbangan dan semata-mata ini untuk mencapai keuntungan yang lebih besar guna menghidupkan jiwa persatuan di tengah keberagaman.
Sehingga sudah sangat jelas bahwa bahasa Melayu adalah akar dari Bahasa Indonesia. Di mana bahasa Melayu itu bukan hanya bahasa untuk satu daerah ataupun satu golongan saja, melainkan bahasa untuk satu bangsa. Maka dari itu, cintai sekaligus lestarikanlah Bahasa Persatuan Sang Negeri Khatulistiwa ini. Jadikan Bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggaan yang mampu menunjukkan jati diri bangsa Indonesia kepada bangsa-bangsa lain di dunia. (****).

Print Friendly
No Response

Leave a reply "Bahasa Persatuan Sang Negeri Khatulistiwa"