by

Bahasa Ibu, Malang Nasibmu

-Opini-130 views

Oleh: Revi Tira Oktavianto, S.S
Alumni Sastra Inggris Universitas Teknologi Yogyakarta

Bahasa ibu dapat dimaknai sebagai bahasa pertama yang diajarkan kepada anak-anak. Umumnya di Indonesia, bahasa ibu merujuk pada bahasa daerah, kecuali bagi mereka yang dilahirkan di area metropolitan yang langsung diajarkan bahasa Indonesia oleh orang tuanya. Meski begitu, tak bisa dimungkiri bahwa tidak sedikit pula orang tua yang mengajarkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dalam waktu yang bersamaan, sehingga lahir dua bahasa ibu. Pada tahun 1999, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional atau International Mother Language Day (IMLD). IMLD diadakan untuk menghormati keberadaan bahasa ibu dan untuk menggalakkan pelestarian semua bahasa yang ada di dunia sebagai wujud perlindungan terhadap keanekaragaman bahasa.
Dewasa ini, bahasa ibu yang memiliki banyak penutur asli seperti bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Bugis, memang tidak serta merta ditinggalkan begitu saja oleh penuturnya. Akan tetapi, Indonesia punya sangat banyak bahasa lokal yang hanya digunakan oleh segelintir penutur, seperti bahasa Tobati (Papua), bahasa Lematang (Sumatra), dan bahasa Reta (NTT). Bahasa-bahasa inilah yang mulai ditinggalkan dan kehilangan penutur aslinya sehingga riskan mengalami kemunduran yang signifikan. Masuknya bahasa asing dan tuntutan kemajuan jaman untuk menguasai lebih dari satu bahasa asing disebut-sebut menjadi penyebab lunturnya minat anak muda untuk menggunakan, mendalami, dan memperkenalkan bahasa ibu mereka. Kondisi inilah yang akhirnya membuat posisi bahasa pribumi menjadi semakin tersudutkan dan banyak mengalami kematian, bahkan kepunahan.
Bahasa yang mati adalah bahasa yang tidak lagi memiliki penutur asli. Namun, orang-orang non-penutur asli masih bisa mempelajari dan menggunakannya karena bahasa tersebut sudah didokumentasikan, misalnya bahasa Latin dan bahasa Sansekerta. Pendokumentasian bahasa adalah pengumpulan segala data yang diambil dari penutur aslinya, diteliti oleh linguis, untuk kemudian dibukukan sehingga memungkinkan bagi orang lain untuk mempelajari bahasa tersebut secara komprehensif, baik dari segi pengucapan, kosakata, dan gramatikalnya. Sedangkan bahasa yang punah adalah bahasa yang tidak lagi digunakan oleh siapapun dan belum sempat didokumentasikan sehingga segala unsur bahasa tersebut hilang bersamaan dengan hilangnya penutur, sebut saja bahasa Mawes (Maluku) dan bahasa Hukumina (Papua).
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pada tahun 2017 telah berhasil mendata dan mengidentifikasi 733 bahasa asli yang ada di nusantara. Data tersebut belum menjangkau seluruh bahasa yang ada di NTT, Maluku, dan Papua, yang tidak menutup kemungkinan jumlahnya dapat mengungguli posisi negara tetangga, Papua Nugini, yang memiliki 867 bahasa asli. Sementara itu, dari sekitar 7.000 bahasa yang digunakan di seluruh muka bumi, menurut para ilmuwan bahasa, hampir 50 persen diantaranya berada dalam status terancam mengalami kepunahan di abad ini. Faktanya, banyak data pendukung yang menunjukkan ribuan bahasa mengalami penurunan jumlah penutur asli secara drastis. Lebih mengejutkan lagi, diperkirakan setiap dua minggu ada satu bahasa yang mengalami ancaman kepunahan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kemdikbud, dari ke 733 bahasa yang ada di Indonesia, 13 bahasa telah mengalami kepunahan, 4 bahasa mengalami kritis (sangat terancam), 18 bahasa terancam punah, 2 bahasa mengalami kemunduran, 17 bahasa stabil namun tetap berpotensi punah, dan 18 lainnya berada di zona aman. Bahasa-bahasa daerah yang berada di sisi timur Indonesia cenderung lebih rentan mengalami kepunahan mengingat kebanyakan penuturnya berusia lanjut dan karena berbagai faktor, seperti generasi penerusnya tidak menggunakan bahasa daerah mereka lagi. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi dengan bahasa-bahasa pribumi yang ada di balahan dunia lainnya.
Sebenarnya, apa pentingnya menyelamatkan bahasa dari kepunahan? Bahasa adalah salah satu kekayaan peradaban umat manusia. Ketika suatu bahasa menghilang, kitapun akan kehilangan informasi mengenai bagaimana bahasa itu digunakan, bagaimana suatu kelompok bertahan hidup, termasuk bagaimana budaya dan sistem nilai yang dibawa oleh masyarakat tersebut. Bagaimana tidak, manusia mendeskripsikan semua aspek kehidupannya dengan bahasa. Ketika orang yang menggunakan suatu bahasa menjadi semakin sedikit, maka anak-anak sebagai generasi penerus pun lambat laun akan berhenti menggunakannya. Meski begitu, kepunahan bahasa daerah tidak disebabkan oleh hilangnya penutur asli saja, namun bisa juga terjadi karena tergesernya fungsi bahasa tersebut oleh bahasa lain, taruhlah bahasa Samasuru di Maluku yang semakin tergeser penggunaannya oleh bahasa Melayu Ambon.
Di sisi lain, bahasa Indonesia sebagai lingua franca atau bahasa pengantar (sekaligus pemersatu), memang sedang digencarkan oleh pemerintah untuk disebarluaskan ke seluruh dunia agar tidak tergeser oleh bahasa asing. Sebagaimana bahasa Inggris yang akhirnya menjadi bahasa dunia, pemerintah ingin menguatkan posisi bahasa Indonesia, dengan harapan suatu saat bahasa Indonesia bisa menjadi lingua franca di ASEAN. Untuk itu, penting bagi kita untuk mengetahui lebih jauh tentang bahasa Indonesia, apalagi setelah kita memiliki Uji Kemampuan Bahasa Indonesia (UKBI) – bak TOEFL versi bahasa Indonesia – yang digunakan untuk mengukur kecakapan berbahasa Indonesia bagi penutur asli maupun penutur asing. Akan tetapi, tidak perlu jauh-jauh sampai ke UKBI, cukup mulai dari aturan-aturan dasar sederhana yang bisa kita ajarkan ke orang asing saja, katakanlah, apakah kita tahu bahwa penulisan kata “terima kasih” adalah dipisah dan disambung, “terimakasih”?
Pada akhirnya, Penulis meyakini bahwa pelestarian bahasa ibu bisa dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran untuk menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang melakukan urbanisasi cenderung enggan berbicara menggunakan bahasa daerah asalnya dan merasa lebih merasa percaya diri berbicara dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing yang mereka kuasai, bahkan ketika pulang ke kampung halamannya sendiri. Jika dibiarkan, semakin maju peradaban, posisi bahasa daerah akan semakin tergeser dan terlupakan. Bagaimanapun juga, kita harus bisa melakukan upaya bersama untuk menjaga warisan nenek moyang yang menjadi akar dari identitas kita.
Campur tangan pemerintah dalam penggunaan bahasa lokal, misal dengan menampilkan bahasa itu di bandara, stasiun, mall, lokasi wisata, dan ruang publik lainnya, dirasa perlu untuk menumbuhkan kebanggaan suku penuturnya agar mau terus menggunakan bahasa daerah mereka. Pengalihbahasaan ke bahasa lain agar dapat dipahami khalayak umum sah-sah saja dilakukan, karena hal ini sejalan dengan salah satu slogan yang didengungkan Kemdikbud melalui BPPB: “utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing” yang, menunjukkan bahwa ketiganya adalah penting dan bisa dilakukan tanpa mengeliminasi satu dari yang lainnya.(***).

Comment

BERITA TERBARU