Babel Harus Mampu Manfaatkan Bonus Demografi

  • Whatsapp

Pemprov Lakukan Berbagai Upaya

PANGKALPINANG- Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) menyiapkan berbagai strategi dan upaya untuk memanfaatkan bonus demografi pada tahun 2030. Salah satu cara yang dilakukan yakni berkolaborasi dengan BKKBN.

Wakil Gubernur Babel, Abdul Fatah menyebutkan saat ini jumlah penduduk di Provinsi Babel sebanyak 1.459.873 jiwa, terdiri dari usia 0-14 tahun 24 persen, usia 15 – 64 tahun 68 persen dan usia 65 tahun ke atas ada delapan persen. Bonus demografi, sebutkan akan mulai dirasakan pada 2020, dan puncaknya pada 2030.

“Masyarakat harus disiapkan menjadi masyarakat yang berkualitas, berdaya saing, kita harus membentuk manusia Babel yang sehat, cerdas dan kompetitif salah satu caranya adalah berkolaborasi dengan program BKKBN,” kata Fatah dalam kegiatan telaah tengah tahun pertama BKKBN Babel, Kamis (15/8/2019).

Tak hanya itu, menurut dia, masyarakat juga harus merubah mindset untuk berpikir kedepan dan mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas salah satunya dengan program KKBPK, termasuk mengatur usia perkawinan, agar pernikahan anak usia dini dapat diminimalisir.

“Anak-anak peserta didik generasi berencana, seperti berapa usia minimal perkawinan baik pria maupun wanita dan jumlah anak yang harus dimiliki. Yang kita tawarkan menikahlah di usia matang, agar mereka melahirkan anak-anak yang berkualitas,” bebernya.

Mantan Sekda Belitung ini menambahkan pertumbuhan penduduk juga harus diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi dan pemerintah dan swasta harus menyiapkan lapangan pekerjaan, agar pertumbuhan ekonomi juga bisa meningkat.

“Pemprov mempersiapkan siswa-siswa di sekolah kejuruan yang terampil, dengan memperbanyak volume praktek bagi siswa dan penyiapan tenaga kerja yang berketrampilan, berupa pelatihan-pelatihan kerja di balai latihan kerja. Dengan demikian bisa menciptakan sumber daya yang siap pakai dan berkompeten,” ulasnya.

Jika saat ini, sambung Fatah, BKKBN dengan program dua anak cukup, maka kedepan tak menutup kemungkinan satu anak cukup untuk menekan angka kelahiran dan menciptakan generasi yang berkualitas. “Kalau sekarang dua anak oke lah, tapi kedepan cukup satu,” imbuhnya.

Hal inilah, kata dia yang diterapkan oleh negara-negara maju yang sukses memanfaatkan bonus demografi seperti Korea Selatan, China dan Jepang. “Mari kita berkolaborasi, bergandengan tangan, antar lintas sektor, provinsi, kabupaten dan kota untuk menangani masalah kependudukan dan KB dalam rangka menghadapi bonus demografi dan melahirkan manusia yang sehat, cerdas dan kompetitif,” ajaknya.(nov/10)

Related posts