Babar akan Laksanakan Seleksi Terbuka JPT

  • Whatsapp

Untuk Mengisi Kepala SKD yang Kosong

MUNTOK – Perubahan Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Barat (Babar) menyisakan beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mengalami kekosongan pada kursi jabatan pimpinan tinggi (JPT) pratama atau setara esselon 2 B.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Babar akan melaksanakan open bidding (seleksi terbuka) untuk mengisi kekosongan tersebut. Hal ini disampaikan Kepala BKPP Pemkab Babar Heru Warsito Rabu (4/1/2017).

“Dalam waktu dekat ini, kita akan melaksanakan seleksi terbuka untuk jabatan pimpinan tinggi pratama setara esselon 2B, yang nantinya untuk mengisi beberapa Kepala SKPD yang masih kosong. Kalau tidak salah, ada 5 yang kosong, makanya sekarang ini sedang kita persiapkan untuk open bidding,” ujar Heru Wasito kepada Wartawan di ruang kerjanya, Rabu (4/1/2017).

Ia menjelaskan, pelaksanaan open bidding untuk jabatan pimpinan tinggi pratama tersebut dilandasi dengan UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipik Negara (ASN). “JPT ini harus melewati open bidding, gak bisa kalau gak seleksi terbuka. Karena sudah diamanahkan oleh UU,” ungkap Heru.

Disisi lain Heru juga menerangkan, mulai 1 Januari 2017 Pemkab Babar sudah mengimplemetasikan SOTK dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang baru. Kedua hal ini menurutnya, dilandasi oleh PP Nomor 18 Tahun 2016.

Untuk mengisi jabatan pada OPD yang sudah dibentuk, maka beberapa waktu bahkan pada Selasa (3/1/2017) kemarin, Bupati Babar Parhan Ali pun melantik sekaligus mengukuhkan seluruh pejabat struktural di lingkungan Pemkab Babar. Pelantikan dan pengukuhan yang berlangsung pada Selasa (3/1/2017) kemarin, diikuti sebanyak 394 orang yang terdiri dari pejabat esselon 3, 4 dan 5.

“Total yang dilantik dan dikukuhkan kemarin itu sebanyak 394 orang, terdiri dari esselon 3A sebanyak 45 orang, 3B berjumlah 69 orang, esselon 4A sebanyak 239 orang, esselon 4B sebanyak 34 orang dan esselon 5A ada 7 orang. “Jadi, total keseluruhan sebanyak 394 orang” tegas Heru Warsito.

Menurut Heru, penerapan SOTK yang baru ini, memiliki konsekuensi adanya pengurangan esselon. Sedangkan disisi lain SDM yang tersedia melebihi jumlah SOTK yang ada.

“Ada konsekuensinya, karena SOTK yang baru ini, jumlah esselon berkurang, sedangkan SDM yang ada melebihi, bukan berarti menonjobkan. Lagi pula mutasi ini, suatu hal wajar dalam suatu organisasi birokrasi, karena tujuannya untuk penyegaran dan peningkatan kompetensi seorang aparatur,” tandasnya.(wan/3).

Related posts