Cerpen

AZAZIL


Oleh: Galuh Lara Yudhistira

Dia terlihat begitu gagah ketika nyalanya memerah atau bahkan ia sering dicap pembakar yang keras dan menghancurkan, tapi ia tak pernah merasa sedih begitupun aku, aku tak pernah merasa terancam saat berada didekatnya. Kurasa ia sudah mencuri hatiku dengan kehangatan dan cahayanya yang terang .

Diluar sana orang-orang memandangnya dari intensitas cahaya yang dimilikinya, mereka akan senang ketika ia termasuk dalam tingkatan kombusi sehingga dapat digunakan untuk keperluan suatu bahan bakar, dan ia akan dimusuhi ketika tingkatannya menjadi pembakar yang keras. Bagaimanapun penilaian orang-orang kepadanya aku tetap mengaguminya sebab ia adalah api yang tak lupa akan hakekatnya ia adalah kehangatan bagi siapapun yang mampu menyelami sisi terbaiknya.

Kami sering menghabiskan waktu bersama, bercerita mengenai berbagai hal. ia pun bercerita tentang perjalanan hidupnnya ketika ia terbentuk dari pertemuan udara dengan berbagai reaksi kimia, bahkan ia memiliki tiga saudara, masing-masing lahir dari intensitas yang berbeda-beda, yaitu biru, putih dan hitam. Saudara-saudaranya dapat ku jumpai diberbagai tempat dibumi ini kecuali Hitam, ia adalah yang paling panas diantara mereka, bertemu tidaknya aku dengan hitam bergantung pada diriku sendiri, tapi ia berharap aku tak usah bertemu sebab Hitam tidak begitu bersahabat, aku sendiri tak begitu peduli dengan yang lainnya sebab aku hanya tertuju pada dirinya saja. Ia sendiri adalah api merah yang menjilat-jilat dan gagah yang berasal dari lava gunung.

Apabila gunung sedang marah, ia akan merasa cemas sebab magma yang terkandung dibawah gunung yang marah itu akan memaksanya untuk keluar dan membuatnya mengalir menjadi lahar yang seolah-olah lenyap bersama material dipermukaan bumi yang konon dapat membuat letusan yang siap menghancurkan apa saja yang ada didekatnya. Walau begitu aku tidak membencinya karena aku tau ia tidak menghendaki akan berbuat seperti itu.

Aku selalu menemani petualangan hidupnya, menikmati merdu kobarannya yang memecahkan sunyi dirimba raya. Terkesima oleh gemuruh suaranya ketika melompati ratusan meter gunung bermega. Cercah cahayanya menari menghilangkan segala gelap dan nelangsa dihati. Diajaknya aku melihat tempat yang pernah ia lalui sebelum bertemu denganku. Ku ikuti langkahnya dari belakang dengan tenang, dari kejauhan terlihat samar air terjun melompat dengan beraninya. Burung-burung silih berganti terbang ditengah birunya cakrawala kepak-kepaknya menyanyikan romansa, ini adalah suguhan alam yang begitu sempurna bagiku. Waktu berlalu , cakrawala yang semula biru kini berubah menjadi jingga, surya sedang mempersiapkan diri untuk tenggelam rupanya.

Waktu demi waktu sudah kami lalui bersama, walaupun masing-masing kami tau bahwa ada sekat yang memisahkan aku dengannya sekat yang menghalang sekalipun aku berada sejengkal disampingnya, ‘’aku ingin sekali menggampaimu, membelai panjang rambutmu, mengecup manis bibirmu atau menyentuh rindang alis matamu, katanya. Aku juga ingin sekali merasakan sentuhannya walaupun aku takut apakah akan merasakan sakit dari energi panasnya, batinku.

Belum sempat aku mengeluarkan kata-kata ia langsung melanjutkan “ tapi kita adalah dua zat yang berbeda kau manusia cantik dan aku adalah percikan dari pemantik‘’, aku api kau tanah lanjutnya. Maksudmu bagaimana? kau meragukan rasa cintaku? Apa kau anggap perjalanan jauh kita selama ini sia-sia? Kau tak usah ragu aku selalu mencintaimu, tak peduli betapa banyak perbedaan, tak peduli betapa banyak rintangan asal bersamamu aku sanggup, jika berkenan aku ingin memohon kepada Tuhan agar menjadikan aku Api sepertimu, apa enaknya jadi manusia yang selalu berada dalam kesulitan, menapaki kehidupan yang sulit di dunia ini, harus mencari uang untuk makan memiliki nafsu yang banyak untuk dituruti ,percayalah aku mencintaimu dan Aku yakin ketika aku memilihmu Tuhanpun bersamaku.

Tuhanmu sekalipun akan meyakinkanmu untuk tidak memilihku, kau pun akan sadar kehidupan sulit yang kau rasakan menjadi manusia yang terusir dari surga adalah karenaku, karena ulah nenek moyangku: Azazil yang menggoda Adam. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

To Top