#AyoHormatiGuru 

No comment 194 views


Oleh: Ari Sriyanto, S.Pd.I
Sekretaris MUI Prov. Kep. Bangka Belitung

Ari Sriyanto, S.Pd.I

Pendidikan berkaitan erat dengan persoalan hidup dan kehidupan bangsa di masa depan. Sejarah menunjukkan para ulama tidak berjuang dengan senjata yang canggih, tapi dengan pendidikan. Walaupun para ulama tidak mengajarkan pendidikan formal, namun pendidikan pesantren telah menelorkan para tokoh-tokoh Nasional yang tidak perlu diragukan kompetensinya. Belajar dari sejarah juga, contohnya Jepang, yang kalah perang pada Perang Dunia II, Jepang luluh lantak dan sumber daya alamnya terbatas. Jepang dalam kondisi berantakan, pertama kali yang dicari oleh Kaisar Hirohito adalah seorang guru. “Coba cari guru dimana mereka berada, selamatkan anak-anak dan beri pendidikan terbaik,” kata Kaisar Hirohito. Jepang betul-betul konsentrasi mencari guru bukan mencari tentara, jenderal atau pengusaha.
Salah satu tema peringatan Hari Guru Nasional ke-71 lalu, yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nasional yang juga menjadi viral di media sosial adalah #AyoHormatiGuru. Tema ini menjadi sangat penting sebagai bentuk apresiasi kepada para guru yang telah mendarmakan dirinya untuk bangsa dan negara tercinta ini. Tidak sedikit belakangan ini, guru yang dikriminalkan oleh oknum anak didik sendiri maupun oleh orang tuanya akibat kesalahpahaman atau informasi sepihak yang tidak utuh.
Pergeseran moral anak bangsa menggejala pada kurang ta’dzim atawa menghormat pada guru, ini ditengarai maraknya kasus tindak kekerasan dan kriminalisasi terhadap guru dengan berbagai alasan dan pembenaran emosional yang semestinya tak perlu terjadi. 
Kemajuan kolektif  tidak hanya bersifat fisik dan material, melainkan tumbuh suburnya nilai dan pranata keimanan, serta semakin menipisnya nilai dan pranata keburukan dan kemungkaran. Kemajuan budaya bagi suatu bangsa berarti bangsa ini, menyadari kembali jati dirinya yang telah lama tererosi.
Jati diri itu antara lain sebagai bangsa pejuang yang membenci segala bentuk penindasan, bangsa yang mandiri dan menolak segala format ketergantungan, serta bangsa yang terbuka terhadap perubahan dan menolak eksklusifisme atau fanatisme sempit. Bangsa yang maju tak selalu berarti meninggalkan nilai-nilai religius, tradisional dan lokal, sepanjang itu masih mencerminkan substansi kebaikan dan kebenaran universal.  Namun, bangsa yang mau adalah bangsa, yang mampu memadukan nilai-nilai modern yang lebih baik dengan warisan tradisional yang sesuai tuntutan zaman, yang berbasis keimanan.
Kita harus mewaspadai gejala ini, sebab jika tidak, akan menimbulkan preseden buruk bagi generasi yang akan datang. Kita bisa membayangkan seperti apa jadinya generasi yang akan datang jika generasi sekarang seperti ini. Dan inilah yang Allah gambarkan sebagai generasi yang buruk, suatu generasi yang akan membawa pada kehancuran dan kesesatan.
Karakter pertama dari generasi yang buruk adalah menyia-nyiakan shalat. Karakter kedua adalah memperturutkan hawa nafsu. Ke mana hawa nafsunya condong, ke situlah ia berjalan. Generasi seperti ini, tidak memperdulikan apakah sesuatu yang ia lakukan halal atau haram, dosa atau berpahala, yang terpenting bagi mereka tercapai semua yang diinginkannya. Dalam hal berpakaianpun yang penting mode atau sedang trend, tidak peduli apakah pakaian tersebut menutupi aurat atau malah mempertontonkan aurat. Generasi seperti ini, hanya akan membawa kesesatan hidup di dunia dan di akhirat.
Kesalehan individual semestinya mewujud menjadi kesalehan sosial. Sosok seperti itulah, yang diperlukan bangsa Indonesia untuk membebaskan dirinya dari keterpurukan dan berbagai jeratan immoralitas, serta kemudian mendorong bangsa kepada kemajuan dan keunggulan. Maka, mata pelajaran atau matakuliah yang menggarap aspek kepribadian seperti pendidikan agama dan pendidikan Pancasila dapat difungsikan sebagai medium untuk membangun manusia sehat. Sehat jasmani, rohani dan sosial. Pada gilirannya, dengan kekuatan kolektif membangun lingkungan hidup kemanusiaan yang sehat pula. Bermuara pada terwujudnya peradaban nilai yang sehat, dan menggantikan peradaban materi yang menggejala.
Oleh karena itu, persiapan pembentukan generasi yang akan datang mutlak suatu keharusan yang tidak bisa dibantah lagi. Sehingga perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, baik yang berkaitan dengan akidahnya, pendidikannya, muamalahnya, juga yang berkaitan dengan akhlaknya, sehingga pergantian generasi yang berlangsung menghasilkan generasi baru yang lebih baik daripada pendahulunya.
Tugas seorang guru bukanlah satu tugas yang mudah dan bukan boleh dilakukan oleh semua orang. Justeru itu, kerja sebagai seorang guru dianggap sebagai satu tugas yang sangat mulia dan istemewa. Lebih-lebih lagi dalam era yang penuh mencabar ini, menuntut pengorbanan dan komitmen  yang padu dalam mendidik anak bangsa menjadi insan yang cemerlang, berwibawa dan sentiasa mendapat petunjuk serta keridhoan dari Allah.
Memandangkan kedudukan guru itu sangat mulia, maka sawajarnya mereka dihormati dan dikenang jasanya sepanjang hayat. Para sahabat dan salaf al-shalih merupakan suri tauladan umat manusia yang telah memberikan banyak contoh dalam menghormati seorang guru. Rasulullah sallallahualaihi wasallam bersabda; “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).” Seorang penuntut ilmu harus duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak menyelunjurkan kaki, tidak bersandar, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dari gurunya  juga tidak membelakangi gurunya. Akhlak serta beradab yang baik merupakan kewajiban yang tidak boleh dilupakan bagi seorang murid kepada gurunya.(****).

No Response

Leave a reply "#AyoHormatiGuru "