by

Atok

-Cerpen-250 views

Karya: Rusmin

Atok, demikianlah kami sebagai cucu memanggilnya. Bapak kandung Ibu ini sehari-hari pekerjaannya cuma membuat gula aren. Usai subuh dengan sepeda ontanya, Atok mulai pergi ke kebun untuk mengambil buah aren dari pohonnya. Tiba di rumah sebelum waktu Zohor. Dan usai menunaikan sholat zohor berjemaah di masjid, Atok kembali pergi untuk menaiki pohon aren. Biasanya sebelum magrib, Atok sudah tiba di rumah.
Aku sebagai cucunya sangat bahagia kalau saat liburan diajak Ibu ke rumah Atok. Sangat bahagia. Atok selalu memanjakan kami dengan membeli sesuatu yang kami minta. Tak ada yang tak dipenuhi Atok, apa yang kami minta. Mulai dari es hingga makanan kecil anak-anak lainnya.
Saat menginjak SMA, aku tinggal jauh dari orang tua. Aku kost. Tempat kost ku, kebetulan tidak jauh dari rumah Atok. Biasanya setiap Sabtu sore aku sudah meluncur ke rumah Atok. Dan pulangnya Senin pagi. Dan usai beliau sholat Isya di masjid, di teras rumahnya yang halamannya penuh dengan buah duku, ditemani cahaya rembulan yang bening, Atok bercerita tentang masa mudanya sambil memainkan alat musik gitar. Dia dengan gembira melantunkan lagu-lagu lama yang sangat asing di telingaku. Berhubung nada dan harmoninya terasa sangat melankolis, aku pun lama-lama amat menikmatinya.
“Ini lagu Belanda,” ujar Atok. Aku terdiam. “Hebat benar Atok kok bisa menyanyikan lagu Belanda,” batinku bergumam. Atok terus mendendangkan lagunya hingga aku kadang tertidur di kursi.
___
Sabtu sore itu aku kembali menginap di rumah Atok. Aku kembali malas untuk pulang ke rumah orang tua ku yang jaraknya sekitar 120 Km dri tempatku mengeyam pendidikan di Sekolah Menangah Atas. Maklum saat itu untuk menempuh jarak 120 Km harus ditempuh dengan waktu sekitar 3 hingga 4 jam. Jalanan ke Kampung ku saat itu masih belum sebagus sekarang. Aspalnya cuma setengah. Sisanya penuh dengan lubang dan tanah merah. Debunya pun minta ampun.
Malam itu Atok tampak bahagia. Terlihat dari wajahnya yang cerah. Sebatang rokok dia sulutkan. Asapnya menghambur tinggi ke langit Seolah ingin mengejar bintang. Aku melihat ada sebuah isapan yang amat nikmat saat Atok menghisap rokoknya. Sementara di hadapannya segelas kopi yang dibuatkan nenek menambah lengkap nutrisi Atok.
“Ibumu dulu kembang kampung,” ujar Atok membuka cerita. Aku terdiam. Sangat percaya dengan omongan Atok. Ibu memang memiliki paras yang cantik dengan berbalut kulit yang putih bak bintang sinetron.
“Sayang ibumu keburu menikah dengan ayahmu,” lanjutnya dengan nada pelan. Seolah tersirat sebuah penyesalan.
“Memang usia Ibu waktu menikah masih muda Tok,? tanyaku.
“Sekitar delapan belas tahunlah,” jawab Atok.
“Lho itu kan usia yang sudah lumayan matang, Tok,” sahutku.
“Iya,” jawab atok.
“Lalu,” tanyaku kembali.
“Karena Atok tak mampu menyekolahkannya, maka Ibumu menerima lamaran Ayahmu. Atok merasa bersalah,” ujarnya.
Kulihat ada segurat kesedihan di wajah Atok. Seolah ada perasaan bersalah.
___
Berdasarkan cerita Ibu, Atok saat masih bujangan tergolong lelaki yang menjadi idaman kaum hawa. Maklum wajah Atok sangat flamboyan. Postur tubuhnya tinggi. Walaupun cuma tamatan sekolah dasar, namun Atok tak minder. Demikian juga dengan pekerjaannya sebagai pembuat gula aren tak membuatnya malu. Menurut Atok semua pekerjaan kalau dilakoni dengan sungguh akan berhasil.
“IJangan memilih pekerjaan. Yang penting halal. Dan tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakoni dengan ikhlas,” ujar Atok kepadaku.
Tingginya kepedeaan sebagai lelaki muda saat itu, membuat Atok mampu menaklukan hati nenek yang masih keturunan Tionghoa. Padahal keluarga nenek banyak tak setuju Nenek menikah dengan Atok. Maklum keluarga nenek tergolong mampu. Punya toko besar di pasar kecamatan. Tapi, pandangan pertama mareka saat bertemu di sebuah toko saat Atok menjual gula arennya membuat Nenek akhirnya bersedia dinikahi Atok.
“Atokmu orangnya hebat,” cerita nenek.
Hebat gimana Nek?” tanyaku penuh dengan kebingungan.
“Iya, hebat. Dia mampu memberi nilai hidup kepada keluarga. Dia mampu menjadi imam bagi keluarganya, walaupun pekerjaannya cuma membuat gula aren. Atokmu pekerja keras dan sangat religius. Itu yang membuat nenek bersedia menikah dengan Atokmu,” lanjut nenek dengan muka sumringah.
Aku tak mengerti dengan penjelasan nenek. Tak mengerti sama sekali. Bagaimanan nenek bilang Atok hebat kalau harta yang dimilikinya cuma sepeda onta dan sebuah gitar saja yang nilainya era itu tak seberapa kalau dijual.
___
Saat Atok wafat, kami para cucunya sangat bersedih. Kami kehilangan seorang kakek yang memberikan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya, dengan kerja kerasnya tanpa harus mengeluh. Atok telah mengajarkan kami bahwa hidup harus dihadapi dengan perjuangan dan bukan dari belas kasihan orang.
“Kita harus punya harga diri walaupun kita hidup sederhana,” nasehat Atok kepadaku.
“Dan sebagai lelaki jangan sekali-kali kamu menghidupi anak dan istrimu dengan uang tak halal,” lanjut Atok.
Kini setiap ke rumah nenek, aku masih melihat foto Atok saat masih muda. Ganteng sekali bak bintang film laga tempo dulu. Sepeda ontanya masih terparkir dalam gudang belakang rumahnya. Demikian pula dengan gitar kecil yang selalu dimainkannya usai kerja siang hari, masih tergantung artistik di ruang tamu rumah nenek. (***)

Comment

BERITA TERBARU