Ataw Bos Timah “Bebas” Berkeliaran

  • Whatsapp

Ditahan Polda dan Kejaksaan, Dilepas Hakim

PANGKALPINANG – Kabar mengejutkan datang dari jaksa di Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung (Kejati Babel) terkait kasus dugaan perambahan Hutan Konservasi Bukit Mangkol dengan tersangka Ataw. Betapa tidak, tersangka ilegal minning yakni Sujono alias Ataw ini ternyata sudah “bebas” dan tidak lagi dikurung di Lembaga Pemasyarakatan Bukit Semut, Sungailiat, Kabupaten Bangka.
Ataw, sang pemilik Tambang Inkonvensioanl (TI) ilegal yang merusak kawasan Hutan Konservasi Bukit Mangkol di Desa Terak, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung ini rupanya berkeliaran bebas tanpa ditahan lagi sebelum memasuki proses persidangan.
Padahal sebelumnya, bos pasir timah yang memiliki penggorengan timah di Desa Jeruk, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah ini berikut barang bukti tindak pidananya telah dilimpahkan jaksa penyidik Kejati Babel ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka Tengah, untuk dijebloskan ke lembaga pemasyarakatan.
Namun penahanan kolektor timah mitra salah satu smelter swasta terbesar di Pulau Bangka ini diduga tidak lagi menjadi tahanan jaksa dan kini bisa menghirup udara bebas lantaran sejak peralihan masa tahanan dari kejaksaan ke hakim pengadilan negeri. Dan dipastikan, sebelum perayaan Imlek kemarin, Ataw sudah tidak lagi ditahan karena permohonan penangguhan penahanannya atau pengalihan menjadi tahanan kota, dikabulkan oleh hakim Pengadilan Negeri Pangkalpinang.
Hal itu dibeberkan seorang jaksa di Kejati Babel, Tatang Darmi yang menangani perkara piadana Kehutanan yang menyeret Ataw sebagai tersangka.
“(Ataw) gak ditahan (lagi). Kalau jaksa ditahan, tapi hakim yang gak nahannya. Hakim sini lah (PN Pangkalpinang),” ungkap Tatang saat ditemui Rakyat Pos, Rabu (1/2/2017) sore di PN Pangkalpinang.
Tatang tidak mengetahui secara persis alasan hakim tidak melakukan penahanan terhadap Ataw dan rekannya Bong Kiang. Namun yang pasti, ia menyebutkan pihak PN Pangkalpinang yang enggan untuk menahan Ataw, sedangkan dalam tahap proses penyidikan baik di kepolisian maupun di kejaksaan, bos timah itu ditahan.
“Kalau jaksa, dia (Ataw) ditahan, tetapi hakim yang tidak mau menahannya. Ada dia (bebas),” bebernya.
Dia mengungkapkan bahwa Ataw akan sidangkan di PN Pangkalpinang pada pekan depan. Sidang perkara Kehutanan yang menyeret Ataw dan Bong Kiang ini akan memasuki sidang perdana yakni pembacaan dakwaan.
“Minggu depan akan disidangkan. Nanti sidangnya di sini (PN Pangkalpinang) juga,” katanya.
Lebih lanjut Tatang menambahkan, barang bukti (BB) berupa alat berat atau PC berwarna orange milik tersangka Ataw yang diduga sebagai alat bantu merusak kawasan Hutan Konservasi Bukit Mangkol, masih terparkir di halaman Mapolda Babel. Sedangkan barang bukti lainnya masih di tangan jaksa.
“Untuk BB alat beratnya masih di Polda. Memang betul Jaksa Penuntut Umum (JPU) sidang nanti adalah saya,” pungkas Tatang seraya berlalu pergi.
Seperti diberita sebelumnya, Ataw (28) sejak Rabu (18/1/2017) dijebloskan ke dalam Rutan Bukit Semut, Sungailiat, Kabupaten Bangka, setelah dilimpahkan berkas dan perkaranya oleh penyidik Sub Direktorat IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Babel. Ia menjadi tahanan penyidik Kejati Babel bersama Suhendri alias Bong Kiang (27) warga Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang selaku pengurus TI Mangkol yang lebih dulu diciduk polisi.
Dalam pantauan wartawan, sebelum Ataw dan Bong Kiang diangkut ke Rutan di Lapas Bukit Semut, Sungailiat, terlebih dulu menjalani pemeriksaan di ruang pemeriksaan Tipidum Kejati Babel. Dua orang itu dicecar sejumlah pertanyaan oleh penyidik Pidum terkait kasus itu dan selanjutnya dilakukan pemberkasan.
Menariknya di sela-sela pemeriksaan, Ataw sempat menelpon seseorang agar meloloskan dia dari jeratan hukum dan penahanan badan. Dalam pembicaraan di telepon, dia sempat meminta tolong seseorang yang diduga bekingannya.
“Abang ade chanel gak di Bukit Semut? Ku ni lah mengajukan penangguhan, tetapi tidak dikabulkan,” katanya saat itu.
Kasi Penkum dan Humas Kejati Babel, Roy Arland mengakui bahwa pihaknya telah menerima pelimpahan tahap 2 kasus penambangan ilegal serta perusakan hutan konservasi itu.
“Tersangka Ataw dan Bong Kiang akan kita limpahkan ke Rutan Bukit Semut. Sedangkan, BB nya akan kita limpahkan ke Kejari Koba,” ujarnya didamping Kasi TPUL, A Risol dan jaksa Tatang Darmi.
Ditegaskan Roy, tersangka Ataw dan Bong Kian akan dijerat dengan Pasal 158 Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2013 tentang Kehutanan. Selain itu, penyidik juga menjerat kedua tersangka dengan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).
“Mereka tetap kita tahan karena merusak hutan, kan dak boleh. Kita tahan mereka di rutan,” tegasnya seraya tak menampik Ataw sempat mengajukan penangguhan penahanan, namun ditolak pihak kejaksaan.
“Dia (Ataw) memang mengajukan tahanan rumah, tetapi tidak jadi. Penangguhan penahanan ini tetap tidak bisa karena tidak kita acc. Dia tetap kita tahan,” tukasnya.
Sebelumnya, bos timah ini mengkoordinir penambangan ilegal di Hutan Konservasi Bukit Mangkol sejak lama. Pengerusakan kawasan hutan terlarang ini baru terbongkar pada 26 Oktober 2016 silam saat tim gabungan dari Polda Kepulauan Babel yang terdiri dari Sat-Brimob dan Ditres Krimsus bersama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Bangka Belitung melakukan penggerebekan terhadap aktivitas penambangan milik Ataw.
Ketika penertiban, tim gabungan berhasil mengamankan barang bukti berupa 1 unit alat berat merk Hitachi warna orange, dua unit mesin TI berkapasitas 22 PK, selang, pasir timah seberat 60 kilogram dan 8 orang pekerja, dengan Suhendri alias Bong Kiang (27) selaku pengurus tambang.
Sedangkan Ataw tidak berada di tempat dan dikabarkan kabur saat mengetahui tambangnya digerebek petugas. Cukup lumayan lama Ataw menjadi buruan Dit Krimsus Polda Babel. Hingga akhirnya, dua bulan kemudian setelah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), Ataw berhasil diringkus polisi dikediamananya, di Desa Jeruk. (bis/1)

Related posts