Asyraf Harap Peserta Bimtek SPP dan TIK Mampu Transformasi Layanan Perpustakaan

  • Whatsapp
Kepala DKPUS Babel Asyraf Suryadin.(foto: ist).

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG – Kepala Dinas Kearasipan dan Perpustkaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (DKPUS Babel) Dr Asyraf Suryadin, Kamis (23/7/2020) resmi menutup Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi Pengembangan Perpustakaan (SPP) dan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) untuk transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial tahun 2020 melalui virtual meeting zoom di Ruang Kerjanya.

Bimtek yang berlangsung selama 3 hari sejak dari tanggal 21 – 23 Juli 2020 itu, diikuti peserta dari DKPUS Provinsi dan sejumlah DKPUS Kabupaten di Babel.

Kepala DKPUS Babel dalam sambutan penutupannya berharap kepada peserta Bimtek agar mampu melakukan transformasi layanan perpustkaan berbasis inklusi sosial.

“Setelah selesai pelaksanaan Bimtek ini, peserta diharapkan mampu melakukan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dan dapat menyusun rencana atau program-program kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dalam situasi kenormalan baru,” harap Asyraf.

Baca Lainnya

Kegiatan- kegiatan tersebut, menurut Asyraf, bisa dilakukan melalui 3 strategi, yaitu peningkatan kualitas layanan informasi melalui buku, komputer dan internet, memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang menjadi kebutuhan masyarakat, serta melakukan advokasi dan membangun kemitraan.

Perpustakaan, dikatakan Kepala DKPUS Babel Asyraf Suryadin, harus dirancang agar memiliki nilai kemanfaatan yang tinggi bagi masyarakat. Melalui pendekatan inklusif, perpustakaan mampu menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh semangat baru dan solusi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.

Dengan penguatan literasi individu, kata dia, maka akan terjadi perubahan pengetahuan dan perilaku individu yang akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan.

Transformasi layanan perpustakaan yang berbasis inklusi social, ditambahkannya, akan ditandai dengan adanya ketersediaan dan kemudahan akses bahan pustaka dan sumber informasi bermutu untuk masyarakat.

Masyarakat, masih dijelaskan Asyraf, dapat memanfaatkan perpustakaan untuk berbagi pengalaman dan melatih keterampilan, agar memperoleh keahlian dan pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraan.

“Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan sebuah inovasi untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat yang berkelanjutan dengan memanfaatkan layanan TIK untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Asyraf.

Sebagai provinsi dan kabupaten penerima manfaat dari program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di tahun 2020, melalui berbagai kegiatan di perpustakaan, ditambahkannya lagi, harus berkomitmen dalam memfasilitasi kebutuhan masyarakat agar program dapat terus berkelanjutan dan memberi kebermanfaatan kepada masyarakat.(rel/aliyah).

 

Related posts