Asita Belitung Tuntut Pengembangan Pariwisata

  • Whatsapp

Perda Wisata tak Berjalan
Dewan Nilai Pemda Kurang Perduli

TANJUNGPANDAN – Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) terdiri para pengusaha travel, agen perjalanan di wilayah Kabupaten Belitung, Kamis (06/07/17)mendatangi kantor DPRD Kabupaten Belitung.
Mereka menuntut agar para pemegang kewenangan di Kabupaten Belitung memberikan keadilan terhadap mereka yang tengah berusaha mengembangkan pariwisata di Pulau Belitung ini.
DPRD Kabupaten Belitung dan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Belitung diminta menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Pariwisata dan Perda Sampah serta fasilitas lainnya yang bisa membantu dan membangkitkan gairah wisata di Pulau Laskar Pelangi.
Namun, menurut wakil ketua DPRD Kabupaten Belitung, Isyak Meirobi, peraturan daerah (perda) mengenai pariwisata sudah lama dibuat dan disahkan hanya saja memang belum sosialisasikan kepada masyarakat.
“Perda yang mengatur untuk pariwisata sudah dua tahun yang lalu kita buat dan di sahkan, namun buku kecilnya belum beredar, perda sudah disahkan dan diundangkan secara resmi,” kata Wakil Ketua DPRD, Isyak Meirobie saat menerima pelaku usaha Asita dalam rapat gabungan di gedung DPRD Kabupaten Belitung.
Isyak Meirobie menambahkan, seharusnya masyarakat dan para pelaku wisata harus mengetahui hal ini, karena semua sudah diatur di dalamnya, dari hal kecil hingga yang besar.
Perda ini, lanjut Isyak Meironi sudah cukup lengkap walaupun belum sempurna semuanya, tugas untuk mensosialisasikannya seharusnya ada di bagian hukum pemda, kami tidak ingin menyalahkan siapa pun tapi kami ingin bersinergi.
Isyak Meirobi nengaku kecewa dengan kalangan pemerintah daerah yang dianggap tidak bisa melaksanakan perda. ” Kalau tugas itu tidak bisa dilaksanakan eksekutif biar kita ambil alih saja, kita bikin seminar aja, jadi judulnya kebalik, yang jadi eksekutornya DPRD ,” kata politisi politisi Partai Nasdem.itu.
Menurutnya, banyak yang harus dilakukan, seperti turis informasi center yang ada di provinsi dan bandara harus dimiliki di tempat-tempat wisata serta fasilitas tempat wisata sudah diatur didalamnya, bahwa pemerintah wajib menyediakan.
“Saya katakan di perda ini sudah cukup lengkap mengatur segalanya, serta mengenai fasilitas, pemerintah wajib menyediakannya, serta angkutan air pak Kadis Perhubungan, bapak sudah pernah tahun lalu mengatakan akan segera berkoordinasi dengan pelaku usaha mengenai angkutan di laut buatkan loket tiket untuk penyerangan, tiket yang dibayar oleh wisatawan sudah termasuk asuransi jiwa, ada pelampung dan lainnya, jangan dibiarkan mereka berusaha sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Belitung Erwandi A Rani mengaku tak bisa berbuat banyak mengenai masalah penganggaran, sebab menurut Erwandi A. Rani, Wakil Bupati tidak ada kewenangan dalam hal anggaran.
“Untuk hal-hal mengenai anggaran, saya tidak ada wewenang, tapi cobalah kalau rapat-rapat seperti ini dihadirkan Bupati, Sekda , karena saya tidak mempunyai wewenang, jadi percuma,” sebut Erwandi.
Para pelaku wisata Belitung sudah banyak kecolongan, sebab sudah banyak travel-travel dari luar masuk ke Belitung tanpa berkoordinasi dengan pelaku usaha yang ada di Belitung.
“Cobalah dibuatkan regulasi yang jelas, jangan sampai pemain-pemain luar itu sudah masuk ke kabupaten kita, kita di kabupaten ini hanya jadi penonton, kita mau aturan ini kuat, mereka travel-travel besar sudah masuk tanpa melibatkan pemain lokal,” kata Juntamin selaku pelaku wisata.
Selain itu, Agus Pahlevi selaku ketua DPD ASPPI Babel menyampaikan dari pemandu di Belitung sudah cukup banyak yang memiliki sertifikat pemandu.
“Ada 280 yang punya sertifikat pemandu dari HTI, namun belum ada kartu lisensi, namun sudah kita usulkan ke gubernur untuk di keluarkan pergub,” ucapnya.
Menurut. Agus, dimintanya peraturan gubernur (pergub) dalam mengeluarkan lisensi ini agar itu berlaku untuk Babel, kalau Bupati yang keluarkan akan mengalami kesulitan jika memandu turis yang akan berwisata keluar kabupaten.
“Lisensi ini berlakunya untuk wilayah Babel, kita gunakan orang lokal karena orang lokal lah yang tau seluk beluk Belitung, seperti jika terjadi apa-apa, orang lokal sudah memiliki nomor RSUD, polisi dan hal-hal lainnya, seperti memberikan pemahaman kepada turis-turis agar tidak tertipu,” tutupnya. (yan/6)

 

Related posts