Arti Kemerdekaan

  • Whatsapp

Oleh: Tri Melinda, S.Pd.I
Anggota Muslimah Study Club Babel

Tanggal 17 Agustus tahun 2019 ini, bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-74. Hari tersebut merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena Indonesia akhirnya mendapatkan kemerdekaannya setelah ratusan tahun mengalami penjajahan. Harapan besar muncul akan kehidupan berdaulat dan akhirnya meraih kesejahteraan.

Indonesia dinyatakan merdeka secara de facto dan de yure. Menurut KBBI (https://kbbi.web.id/merdeka), merdeka berarti bebas dari perhambaan atau penjajahan, berdiri sendiri dan tidak terikat atau bergantung pada pihak tertentu. Dari kemerdekaan yang diraih bangsa ini, Indonesia dinyatakan berdaulat dan memiliki wewenang untuk mengatur negaranya sendiri tanpa campur tangan penjajah. Namun ternyata, fakta di lapangan berbicara lain. Indonesia belum sepenuhnya berdaulat dan merdeka. Banyak sekali campur tangan negara asing yang muncul dalam kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah negara ini. Menurut Eva Kusuma Sundari, Politisi PDIP, berdasar info Badan Intelijen Negara, selama 12 tahun reformasi, ada 76 produk undang-undang yang sangat liberalisasi yang draftnya disusun oleh pihak lain, yakni bank dunia, IMF, USAID (www.nasional.tempo.co, 2010).

Pada bulan Juli lalu pun pemerintah kembali melakukan perpanjangan kontrak freeport (www.republika.co.id, 2018). Penguasaan freeport yang telah berlangsung bertahun-tahun yang sudah jelas merugikan negara milyaran bahkan triliyunan rupiah terus dilegalkan oleh pemerintah. Padahal di sisi lain, masih banyak rakyat Indonesia yang kondisinya jauh dari kata sejahtera.
Merdeka bagi negara bukan hanya kemerdekaan yang diungkapkan secara de facto dan de yure. Namun, lebih dari itu, kemerdekaan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat dan rakyat berada dalam kondisi merdeka sesungguhnya. Dalam Islam, merdeka bermakna bukan sekedar lepas dari penjajahan.

Dalam konteks individu kemerdekaan berarti terbebasnya seseorang dari tekanan hawa nafsunya dalam melakukan segala aktifitasnya. Menurut DR. Ing. Fahmi Amhar (Arti Kemerdekaan Hakiki dalam Perspektif Islam; 2001), individu yang merdeka ialah seseorang yang ketika ia bersikap dan berperilaku akan selalu di dasarkan kepada pertimbangan rasional. Dan bagi orang yang beriman pertimbangan rasionalnya adalah ketika ia menyandarkan segala perbuatannya kepada aturan Allah SWT.

Imam Ali ra. mengibaratkan hal tersebut dalam satu ungkapan; ”Seorang budak beramal karena takut hukuman, pedagang beramal karena menginginkan keuntungan, dan orang merdeka beramal karena mengharap keridhaan dari Allah SWT.”

Sedangkan dalam konteks masyarakat, kemerdekaan adalah ketika mereka tidak lagi menjadi pengekor pola pikir, budaya dan bahkan agama para penjajah. Masyarkat yang merdeka memiliki pola pikir, budaya dan agama yang khas membedakan mereka dari masyarakat lain (Fahmi Amhar; 2001). Kita bisa menjadikan masyarakat Madinah sebagai contoh masyarakat yang merdeka secara hakiki. Setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau mulai menata masyarakat di sana dengan kehidupan yang Islami yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Semula persatuan masyarakat dibangun di atas landasan kesukuan yang sangat rapuh dan sering memunculkan pertikaian di sana-sini, maka kemudian dirubah menjadi berlandaskan agama yang kokoh dan memunculkan ketentraman dan kedamaian. Budaya yang semula mengikuti budaya jahiliyah warisan nenek moyang yang dipenuhi takhayyul dan khurafat diganti menjadi budaya yang Islami yang rasional dan bernilai luhur.

Kemerdekaan yang didapatkan oleh negara dengan dasar Islam, akan melahirkan negara yang berdaulat sesungguhnya dan bebas dari intervensi asing. Negara tersebut telah memiliki dasar jelas yang melahirkan peraturan yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan dari yang kecil hingga besar, sehingga tidak perlu melihat atau mempertimbangkan kebijakan di negara lain. Negara dengan dasar Islam, mampu berdiri tegak mengelola kehidupan rakyatnya berdasarkan aturan yang akan membawa pada kebaikan dan kesejahteraan.
Bagi umat Islam tentu saja Negara tersebut haruslah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yaitu sebuah Negara yang menerapkan aturan Allah dalam berbagai kebijakannya. Karena umat Islam yakin hanya dengan menjalankan aturan Allah saja-lah mereka akan menjadi umat yang maju yang tidak akan bisa dijajah oleh Negara mana pun. Hal tersebut telah dibuktikan oleh kaum Muslimin dimasa lalu.

Inilah kemajuan dan kebangkitan umat yang dijanjikan Allah di dalam Al-Qur’an: “…dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur:55).

Ibnu Katsir mengatakan ayat ini adalah janji dari Allah kepada Rasulullah SAW bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai penguasa di muka bumi, yakni umat Islam akan menjadi pemimpin atas bangsa-bangsa lain. Saat itulah seluruh negri akan mendapatkan kesejahteraan dan semua manusia tunduk kepada mereka. Tidak ada lagi ketakutan seperti yang selama ini menerpa kaum Muslimin.

Namun semua itu akan terjadi jika kaum Muslimin benar-benar memegang teguh keimanannya dan mengamalkan agamanya dalam seluruh kehidupannya. Wallahu a’lam bishshawab.(***).

Related posts