Aplikasi yang Memudahkan WFH di Tengah Covid-19

  • Whatsapp
Sentosa Lumban Toruan, S.Sos
Pranata Humas Ahli Muda Prov. Kep. Babel

Sejak merebaknya Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dari Negeri Tirai Bambu, China tepatnya di Provinsi Hubei, Wilayah Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia, membuat masyarakat dunia yang terdampak harus selalu waspada untuk selalu menjaga jarak (physical distancing) dan mengurangi aktivitas untuk keluar rumah atau bekerja dari rumah tanpa kecuali di Indonesia.

Untuk di Indonesia sendiri, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan di tengah Covid-19 seperti sekarang, agar masyarakat bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Aktivitas bekerja, belajar dan beribadah dilakukan di rumah. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi interaksi manusia secara langsung. Meski begitu, tak sedikit pekerjaan yang dilakukan mengharuskan tatap muka, baik pada rekan kerja maupun klien. Agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar, khususnya pemerintah menerapkan sistem pembagian tugas bagi pegawai/karyawannya dengan mengatur jadwal tugas masing masing pegawai/karyawannya dalam bekerja.
Tetapi, banyak hal yang harus dilaksanakan dalam bekerja dan berkoordinasi tentang tugas dan fungsinya masing – masing, sehingga aktivitas dan kegiatan dapat berjalan dengan lancar dengan melakukan koordinasi harus melalui aplikasi percakapan (chat), media sosial, ataupun aplikasi video conference yang saat ini lagi trend.

Saat ini, sudah ada aplikasi video call atau video conference yang bisa diakses para pengguna yang menggunakan PC, laptop, gadget berbasis iOS maupun Android. Seiring dengan kondisi tersebut, beberapa vendor besar dunia telah menyiapkan aplikasi yang dapat digunakan dalam menyiasati kegiatan pertemuan/meeting secara virtual, termasuk aplikasi yang saat ini banyak digunakan masyarakat dunia seperti Zoom, serta Whatsapp Mesengger dari Facebook, dan beberapa aplikasi lainnya seperti platform besutan Microsoft yaitu Skype, dan beberapa aplikasi yang telah lama di perkenalkan Google yaitu Google Meet, Google Hangout, dan Google Duo, serta beberapa aplikasi lainya seperti Imo, Slack, Cisco Webex Meeting.

Satu satu aplikasi pertama yang disebutkan di atas bisa digunakan untuk mendukung produktivitas ketika bekerja dari rumah khususnya untuk rapat di tengah Covid-19, yakni Zoom dikenal dengan nama Zoom Cloud Meeting, yang dapat diakses melalui laman zoom.us, dapat diunduh gratis dan mendukung program yang dapat diinstal di PC, Laptop, Smart TV, gadget berbasis android dan iOS. Tidak tanggung – tanggung aplikasi zoom cloud meeting ini dapat menampung hingga 100 orang dalam satu kali panggilan video termasuk pengguna (host).

Baca Lainnya

Zoom telah dibekali dengan sejumlah fitur mumpuni untuk kemudahan pertemuan tatap muka secara online. Misalnya fitur membagi layar pengguna ke para peserta (screen sharing), serta dukungan Google Drive, Dropbox, dan Box untuk berbagi dokumen dan foto. Ada pula fitur yang memungkinkan pengguna mengundang partisipan berdasarkan nomor telepon hingga e-mail.

Melansir laman resminya, zoom.us, zoom adalah aplikasi komunikasi video dengan platform cloud yang mudah dan andal untuk konferensi video dan audio, kolaborasi, obrolan, dan webinar di seluruh perangkat seluler, desktop, telepon, dan sistem ruang. Banyak orang yang tidak tahu kalau aplikasi Zoom merupakan aplikasi hasil cipta yang dikembangkan oleh seorang keturunan cina di Amerika Serikat yaitu Eric Yuan yang merupakan pendiri Zoom.

Yang menjadi pertanyaan mendasar yang terjadi yaitu mengapa perusahaan ini melampaui perusahaan lain yang sudah ada dan besar selama ini seperti Skype milik Microsoft atau Google Hangouts?
Para pakar teknologi sepakat bahwa tingginya penggunaan Zoom karena mudah digunakan, dan pengguna tak perlu mendaftar, dengan 100 orang dapat bergabung, dan juga gratis, untuk masa komunkasi selama 40 menit atau lebih. Namun dengan beredarnya informasi yang menyatakan bahwa aplikasi zoom tidak aman yang dikeluarkan oleh beberapa negara dunia seperti Amerika Serikat, Taiwan, Singapura dan Jerman, karena berdasarkan penelitian yang mereka lakukan bahwa aplikasi zoom belum melakukan end-to-end encryption dimana data atau percakapan dapat diambil alih oleh orang lain yang melakukan hack di sistem yang ada.

Dikutip dari Wikipedia berbahasa Inggris di laman https://en.wikipedia.org/wiki/End-to-end encryption, kata end-to-end encryption (E2EE) is a system of communication where only the communicating users can read the messages. In principle, it prevents potential eavesdroppers – including telecom providers, Internet providers, and even the provider of the communication service – from being able to access the cryptographic keys needed to decrypt the conversation.

Bila diterjemahkan, artinya kira – kira ada sebuah sistem komunikasi di mana hanya pengguna yang berkomunikasi dapat membaca pesan. Pada prinsipnya, ini mencegah penguping potensial termasuk penyedia telekomunikasi, penyedia Internet, dan bahkan penyedia layanan komunikasi tidak dapat mengakses kunci kriptografi yang diperlukan untuk mendeskripsi percakapan.

Hal itu juga terjadi di Indonesia, pihak Istana Kepresidenan Republik Indonesia memastikan tidak lagi menggunakan aplikasi Zoom dalam kegiatan rapat virtual rutin, baik ditingkatan pejabat eselon hingga kepresidenan bersama para menteri. Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan larangan kepada seluruh pegawainya untuk menggunakan aplikasi Zoom sebagai sarana video conference selama Pandemi, begitu juga dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengambil langkah yang sama.

Larangan tertuang dalam Surat Edaran Kepala BNPT No.08 Tahun 2020 tentang Larangan Penggunaan Aplikasi Video Conference Zoom di Lingkungan BNPT Terkait Pengamanan Informasi Data. Karena disinyalir terjadi kebocoran data dan informasi ke pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menghindari potensi pencurian data atau scamming. Dengan adanya kekhawatiran tersebut mengakibatkan kegiatan yang dilakukan Pemerintah Pusat melalui video conference menggunakan aplikasi CloudX, yang merupakan aplikasi video conference hasil karya anak bangsa yang merupakan produk anak perusahaan BUMN yaitu Telkomsel.

Namun hingga saat ini pengguna aplikasi zoom cloud meeting masih terbilang sangat banyak walaupun diterpa informasi yang menyerang aplikasi tersebut tidak aman, dibandingkan aplikasi lainnya yang sudah lama ada, sehingga masih terbilang belum meresahkan para pengguna akibat berita yang beredar di media massa sebelumnya. Sementara itu aplikasi CloudX milik Telkomsel dapat menampung video conference sebanyak 100 orang termasuk didalamnya host dan beberapa fitur yang dimiliki hampir sama dengan aplikasi zoom.

Penulis mengutip dari laman Telkomsel yaitu di https://www.telkomsel.com/mybusiness/solution-enterprise/mobilitas-perusahaan/cloudx mengatakan bahwa aplikasi cloudX telah mengakomodir seluruh fitur PABX on premise analog dan contact center serta dapat diakses dimana saja, meningkatkan produktivitas dengan meeting online (audio atau video) atau berbagi file ketika karyawan berada di luar kantor, kemudahan mengkonfigurasi dan mengontrol pengguna melalui dashboard, dapat diakses menggunakan berbagai perangkat (aplikasi, deskphone, komputer, atau smartphone, proses deployment yang mudah dan cepat dengan tingkat keamanan yang baik, sehingga memudahkan dalam menambah pengguna.

Jadi, para pekerja baik negeri maupun swasta, atau para pelajar, tak perlu khawatir lagi, karena sekarang sudah ada aplikasi sebagaimana Penulis paparkan di atas, yang memudahkan untuk bekerja dari rumah (work from home) meski di tengah Pandemi Covid-19. (***).

Related posts