APD Medis Tangani Corona di Babel belum Siap

  • Whatsapp
JAS HUJAN – Sejumlah tenaga medis tampak mengenakan jas hujan sebagai pelindung diri, lantaran minimnya APD untuk menangani pasien dan penyebaran virus Covid-19 di Bangka. Foto ini telah viral di media sosial. Sedangkan pemda telah membeli APD namun belum juga datang. (Foto: Istimewa)

PANGKALPINANG – Sejumlah foto viral yang memperlihatkan banyak tenaga medis di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seadanya ketika menangani Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Corona Virus Disease (Covid-19), bahkan menggunakan jas hujan atau plastik, menarik perhatian para wartawan.

Gubernur Babel, Tim Gugus Tugas, Dinas Kesehatan maupun kepala daerah lainnya diserbu wartawan untuk menanyakan kesediaan APD bagi tenaga medis. Terlebih, saat ini sudah ada lima dokter yang menjadi PDP Corona di Indonesia, meninggal dunia.

Gubernur Erzaldi saat dikonfirmasi tak menampik banyaknya PDP di Provinsi Babel), tidak diimbangi dengan ketersediaan APD untuk para tenaga medis.

Akibatnya, beberapa tenaga medis terpaksa menggunakan APD ala kadarnya, yang sebetulnya jauh dari tingkat keamanan terhadap penularan virus Corona yang bisa saja ditularkan pasien. Ada yang menggunakan jas hujan, bahkan plastik seadanya untuk membungkus diri dari terpapar virus.

Baca Lainnya

Namun gubernur memastikan, dalam dua hingga tiga hari kedepan, APD yang sudah dipesan akan segera datang.
“Kita sudah dapatkan APD, mudah-mudahan dalam dua tiga hari kedepan sudah datang, dalam waktu dekat ini,” kata Erzaldi kepada wartawan, Senin (23/3/2020).

Gubernur menegaskan, pengadaan alat-alat kesehatan ini tentunya sudah mendapatkan pengawalan dan pengawasan dari Kejaksaan. Agar dalam melaksanakan tugas, aparat pemerintah yang menggunakan keuangan negara merasa aman.

Selain menambah APD, Pemprov Babel juga menambah ruang isolasi yang disiapkan di Rumah Sakit Umum Provinsi RSUP Dr Soekarno di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Serta rutin melakukan penyemprotan disinfektan.

Pemerintah, kata dia akan menambah perangkat untuk penyemprotan disinfektan, baik di bandara maupun tempat umum lainnya. Ia mengingatkan, kepada masyarakat untuk tidak berkeliaran di tempat umum jika memang tidak ada kepentingan mendesak. Sebaiknya masyarakat di rumah saja, menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran Covid-19.

“Semua kegiatan yang berkaitan dengan orang banyak baiknya dihentikan sementara. Tabligh Akbar, Ceng Beng kita minta dihentikan sementara,” imbaunya.

Sedangkan Wakil Gubernur Babel, Abdul Fatah pada rapat pembahasan pengadaan alat kesehatan terkait penanganan Covid-19, menekankan harus ada pergerakan cepat dengan membentuk tim pengadaan barang dan jasa yang melibatkan Kejati Babel, BPKP, Polda Babel, dan Inspektorat, kemudian dituangkan dalam Surat Keputusan (SK).

Wagub menyebutkan, pengadaan alat kesehatan bisa menggunakan metode kontrak, penunjukkan langsung, atau cash and carry untuk kebutuhan mendesak selama satu bulan kedepan.

Untuk pembangunan ruang isolasi tambahan yang merupakan masukan dan saran dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepulauan Babel, menurut wagub juga harus segera dilakukan. Sebab, dengan adanya ruang isolasi, maka para tenaga kesehatan dapat lebih fokus dalam menangani pasien. Sehingga tidak semua pasien dengan berbagai penyakit yang akan bertumpuk disatu tempat.

Sekda Babel, Naziarto menambahkan, untuk mengantisipasi wabah corona bergerak cepat, saat ini Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Babel sudah bergerak di lapangan. Namun diakui sarana dan prasarana sebagai unsur pelindung diri, dirasa masih kurang.

“Mereka (Tim Gugus Tugas-red) kurang dalam sarana dan prasarana, kasihan tim ini harus bekerja dengan alat yang terbatas. Ini harus cepat dibeli dengan tetap mematuhi aturan dan norma hukum yang berlaku,” tegas Sekda.

Ditengah wabah saat ini, disesalkan harga-harga yang dibutuhkan untuk antisipasi Covid-19 sangat fluktuatif, bahkan mengalami pelonjakkan kenaikan harga lebih dari 100 persen. Jika menunggu harga normal, maka pembelian akan sulit dilakukan, sedangkan perkembangan virus sangat cepat.

“Dari 22 item yang dibutuhkan, saat ini tidak bisa dibeli dengan harga normal, harga sudah meningkat diatas 100%. Harga patokan yang ditetapkan tim ternyata tidak bisa lagi dilakukan pembelian dengan harga segitu, misalnya saja untuk thermo gun yang tadinya seharga 2,5 juta rupiah, saat ini di lapangan sudah seharga 4,7 juta rupiah,” ulasnya.

Pesan 850 APD
Terpisah, Pemerintah Kabupaten Bangka mengaku telah memesan sebanyak 850 pcs APD untuk tim medis di daerahnya. APD itu masih dalam proses pengiriman.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, dr. Then Suyanti kepada wartawan tadi malam saat dikonfirmasi menjelaskan, pihaknya masih menunggu kedatangan APD itu.

“Kita sudah pesan 850 unit untuk kebutuhan tim medis di Kabupaten Bangka dalam melayani pasien Corona,” ujarnya.

Hanya saja diakui, saat ini pemesanan terkendala pengiriman lantaran belum juga tiba. Sehingga sekarang ini, untuk pasien suspect Covid-19 harus dirujuk pihaknya ke RSUD Depati Hamzah (DH) Pangkalpinang dan RSUP Soekarno di Air Anyir.

“Kendalanya saat ini belum sampai juga. Jadi untuk pasien suspect kita rujuk ke RSUD Depati Hamzah dan RSUP,” jelasnya.

APD yang ada saat ini di rumah sakit di Bangka menurut Then, hanya memenuhi standart untuk penanganan awal bagi Orang Dalam Pemantauan (OPD) Covid-19. Namun untuk PDP belum memenuhi, sehingga pasien harus dirujuk dari RSUD Depati Bahrin Sungailiat ke RSUD DH dan RSUP Soekarno.

“Kalau APD saat ini sudah standart untuk OPD. Namun untuk PDP kita rujuk,” ujarnya.
Then Suyanti menegaskan, RSUD di Kabupaten Bangka bisa saja melayani PDP Corona dengan catatan APD dan ruang isolasi sudah siap. Saat ini 5 ruang isolasi baru di RSUD Eko Maulana Ali di Belinyu, sedang dalam persiapan.

“Bisa saja kita melayani pasien (PDP), dengan catatan APD dan ruang isolasi sudah siap,” tandasnya. (nov/2nd/1)

Related posts