Antu Berantu

  • Whatsapp

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

“Suami saya kencing di antara pohon bakau, saat kembali ia tak bisa bicara lagi. Kata tetangga, suami saya dimasuki roh Antu Berantu,” tutur Cik Milut pada dukun bernama Atok Toboali. Cik Milut terlihat panik. Keringat mengalir deras dari pori-pori tubuhnya. Cik Milut bergidik ngeri, apabila mengingat kejadian yang menimpa suaminya.

Suaminya dirangkul teman-teman melautnya malam itu. Firasat buruk Cik Milut terbukti, sebelumnya gelas lepas dari tangannya lantas terpecah belah. Cik Milut menangis histeris mendapati suaminya yang membatu dan membisu. Suaminya tak bisa berbicara lagi kendati dipaksa. Dalam mata suaminya, Cik Milutmelihat ketakutan yang amat sangat. Perihal itu membuat Cik Milut meremang, bulu-bulu kuduknya berdiri dengan sendirinya. Menurut penuturan teman melaut suaminya, perihal itu terjadi setelah suaminya kencing di antara pohon bakau.

Semua orang tahu pohon bakau itu memang “rit” (angker). Orang-orang percaya, dalam pohon bakau itu terdapat roh penjaga air payau. Antu Berantu sebutan roh itu. Menurut gambaran sesepuh, Antu Berantu mempunyai jenggot lebat, mata merah, dan kulit gelap. Tak hanya suami Cik Milut, beberapa orang juga pernah mengalami perihal yang serupa. Kejadian-kejadian buruk itu akan terjadi, kala seseorang mengusik roh antuberantu. Roh antuberantutakkan berulah macam-macam bila tak diganggu. Sebenarnya mengencingi pohon bakau memang sebuah pantangan. Namun apalah daya, Suami Cik Milut mungkin sedang lupa atau memang sengaja.

Baca Lainnya

Cik Milut telah membawa suaminya ke beberapa dokter yang ada di kampung. Namun mustahil, dokter tak menemukan penyakit dalam tubuh suaminya. Cik Milut sengaja membawa suaminya ke dokter, sebab ia ingin menghindari dan tak mau mempercayai mitos-mitos yang beredar di kampungnya.Namun ia juga tak tega, apabila melihat suaminya harus terbaring tanpa sepatah kata seperti patung saban waktu. Selain itu, Cik Milut kerap didatangi roh antuberantu di dalam mimpinya. Di dalam alam bawah sadarnya, antuberantu itu tampak geram. Lidah antuberantumenjulur panjang menjilati suaminya. Cik Milut juga melihat suaminya meronta-ronta hendak melepaskan diri. Namun Cik Milut tak bisa berbuat apa-apa, sebab itu hanya mimpi. Cik Milut dihantui mimpi-mimpi buruk saban malam, menjadikannya enggan untuk menutup mata.

Tetangga Cik Milut telah menyarankan berkali-kali untuk dibawa ke dukun saja. Namun, baru kali ini Cik Milut mengikuti saran tersebut. Mungkin Cik Milut sudah putus asa. Ia tak bisa menolak lagi, kalau sebenarnya suaminya memang dimasuki roh antuberantu. “Saya mohon Tok, sembuhkan suami saya. Tolong usir roh antuberantu dalam diri suami saya,” ujar Cik Milut dengan kecemasan yang amat sangat.

Asap kemenyan di hadapan AtokToboalimengepul. Asapnya nyaris membuat Cik Milut batuk-batuk. Namun ia tahan, demi menghormati Atok Toboali. Mata Atok Toboali menatap lekat-lekat raut wajah Cik Milut. Atok Toboali melihat kegamangan yang amat sangat dalam diri Cik Milut. Atok Toboali mengetahui kecemasan Cik Milut melewati raut itu.
“Antu Berantu. Roh itu sukar diajak bicara bila kadung marah,” Atok Toboali mulai menanggapi. Kerutan-kerutan di wajahnya dan rambutnya yang beruban, menandakan dirinya sudah berumur. Orang bilang, sepanjang hidupnya Atok Toboali mengabdi sebagai dukun perantara manusia dan roh halus. Atok Toboali sudah pengalaman berbicara dengan roh halus. Bahkan, ia juga berpengalaman bertarung dengan roh halus. “Benar AntuBerantunama roh itu. Antu Berantu adalah roh penjaga laut, darat, udara dan gunung.”

Darah Cik Milutmendesir mendengarkan kata-kata Atok Toboali. Bulu-bulu kuduknya yang tadinya sudah terlelap, kembali berdiri dengan sendirinya. Baju Cik Milut basah, sebab keringat yang kian deras. Di ruang kecil yang hanya diterangi lampu teplokyang temaram, Atok Toboalimerapalkan mantra-mantra.Tangan Atok Toboali bergerak-gerak menyerupai pesilat yang ingin memulai petarungan. Bibirnya komat-kamit membaca mantra yang sukar dimengerti. Mata Atok Toboali merem-melek, meradang entah pada siapa. Tubuh Atok Toboalimenggeliat seperti perut ulat. Cik Milut yang menyaksiksan perihal itu, hanya dapat melongo terheran-heran.

Entah dari mana datangnya angin ribut? Cik Milut bergidik ngeri, saat melihat tirai melambai-lambai, lampu teplok bergoyang-goyang. Sedangkan Atok Toboali, masih dengan gerakan dan komat-kamitnya.

Bedempurrr! Lampu teplok jatuh. Ruangan menjadi gelap gulita. Dada Cik Milut menderu-deru. Samar-samar Cik Milut dapat melihat wajah Atok Toboali yang diterangi bara dupa. Atok Toboali tampak kelelahan. Napasnya terengah-engah, dan keringat membasuh mukanya. Atok Toboali berdiri. Ia berdiri dan berjalan menembus kegelapan, ke belakang. Dada Cik Milut kian bergemuruh, ia was-wasbila ditinggal pergi oleh Atok Toboali. Namun, Cik Milut hanya membisu; tak berkomentar apa-apa. Tak berselang lama, Atok Toboali kembali dengan membawa lampu teplok yang baru.

“Antu Berantu menolak keluar dari tubuh suamimu. Saya tadi sudah memaksanya. Akan tetapi roh bajingan itu terlalu kuat,” Atok Toboali mengawali pembicaraan.

Kata-kata itu seperti pisau belati yang menikam hati Cik Milut. Perih rasanya, Cik Milut seperti kehilangan harapan untuk menyembuhkan suaminya. Cik Milut berusaha menghilangkan perasaan itu, ia percaya pasti ada cara lain. “Saya mohon Tok. Tolong carikan cara lain, agar suamiku dapat sembuh dan bicara lagi.”

Dahi Atok Toboali berkerut. Ia tampak berat untuk memutuskan tindakan. Namun tak berselang lama, bibirnya kembali terbuka,“Bisa.” Sedikit harapan muncul di benak Cik Milut. Atok Toboali berdiam sejenak untuk melanjutkan kata-katanya. “Roh itu akan lebih mudah dilawan apabila ada di luar.”

“Jadi kita harus memancingnya keluar, Tok?!” Cik Milut menanggapinya cepat.

“Iya. kamu kuncinya.”

“Maksud Atok?!” Cik Milut masih belum mengerti. “Apa pun itu, saya akan lakukan demi suami saya.” Cik Milut meneruskan kata-katanya, seolah-olah ia sudah mengerti tentang ucapan Atok Toboali.

“Pegang tangan saya, pejamkan matamu, dan konsentrasilah,” Atok Toboali memberi perintah. Tanpa banyak pikir lagi, Cik Milut menurut. Tak ada yang dapat dilakukannya lagi, selain cara ini.

Atok Toboali kembali merapalkan mantra-mantra. Jiwa Cik Milut seperti ditarik-tarik. Entah bagaimana cara kerjanya, Seketika Cik Milut mendapati tubuhnya sudah berada di ruang yang berbeda. Seperti mimpi yang kerap muncul, Cik Milut melihat suaminya meronta-ronta hendak melepaskan diri. Bedanya, di samping Cik Milut kini ada Atok Toboali. Tak berselang lama bayangan hitam muncul. Melesat membabi buta mengarah ke Cik Milut. Atok Toboali juga tak kalah cepatnya, tubuhnya juga melesat menghempas bayangan itu. kini dalam pandangan Cik Milut, dua bayangan saling membentur satu sama lain. Terakhir, satu bayangan terpelanting jauh lantas lenyap.

Seketika mata Cik Milut terbuka. Cik Milut kembali ke ruangan Atok Toboali. Dalam hatinya sangat girang, ia merasa Atok Toboali sudah mengalahkan roh Antu Berantu itu.

***
Menembus malam, Cik Milut berjalan di jalanan becek dan berbatu. Cik Milut setengah berlari, ia tak sabar ingin melihat suaminya yang sudah sembuh. Angin menyelusup ke dalam bajunya, aura dingin menemaninya pulang. Suara-suara binatang malam tak henti-henti berbunyi di perjalanan. Binatang itu seperti bernyanyi di hati Cik Milut.

Cik Milut tersenyum mengingat perihal barusan. Ia setengah tak percaya, pada kejadian-kejadian yang dialaminya di rumah Atok Toboali. Semua terasa seperti mimpi. Cik Milut mengingat betul, bibir keriput Atok Toboali yang merapalkan Mantra, lampu teplok yang tiba-tiba jatuh, dan bertemunya ia dengan roh Antu Berantu di alam yang gelap gulita.

Malam semakin larut. Keringat dan letihnya terbayar lunas setelah rumahnya terdapat dalam pandangan. Kaki berlumpur tak ia gubris. Semangatnya lebih membara dari pada pegalnya ia melangkah.

Betapa senangnya hati Cik Milut. Ia melihat suaminya berdiri di beranda rumah. Suamiku telah sembuh, pikirnya. Cik Milut berlari dan langsung memeluk tubuh suaminya. Tempo lalu, Suaminya masih terbaring di kasur tanpa bicara. Ya, beberapa jam lalu suaminya masih kemasukan roh antuberantu. Ia senang dapat memeluk tubuh suaminya sekarang.

“Kamu tak bisa memaksaku keluar dari tubuh ini,” ujar suaminya untuk yang pertama kalinya. Ada yang lain dengan suara itu. Suara itu terasa berat dan menyeramkan. Suara itu bukan suara suaminya. Sontak ingatan tentang Atok Toboalibergentayangan di kepala Cik Milut. Sampai Cik Milut pergi, Atok Toboali tak bicara apa-apa. Lebih tepatnya, Atok Toboalitak bisa bicara lagi. Mendadak tangan Cik Milut menjadi dingin, bulu kuduknya berdiri, darah mendesir, dadanya menderu-deru, seperti ada sesuatu yang janggal. Setetes air mata pun jatuh dari mata Cik Milut!.

Related posts