Anomali Cinta

  • Whatsapp

Karya: R Sutandya Yudha Khaidar

‘Botol-botol miras dan suara perempuan merintih kesakitan adalah irama hidupnya yang baru.’

Sebelumnya ia adalah anak laki-laki yang penurut. Berprasangka baik, memiliki etos kerja setinggi bukit, suka mengaji dan satu lagi patuh pada kedua orang tua. Ukun Adzan Maghribi atau biasa dipanggil Ukun, diberi nama demikian oleh orangtuanya karena lahir pada saat adzan Maghrib berkumandang. Ukun adalah salah satu anak kampung yang boleh kau hadiahi predikat anak saleh. Jika kau benar-benar mengenalnya.
Setiap pagi setelah Sholat Shubuh ia sempatkan mengaji sebentar di kamarnya, hanya sekedar membaca tiga empat ayat suci Al-Quran. Lantas dilanjutkan pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Tepat pukul 06.00 ia sudah berada di rumah dengan setumpuk kayu bakar yang diikat di boncengan sepeda kumbangnya.
Sebelum pukul 07.00 ia sudah sampai di sekolah. Dia tidak seperti anak-anak lainnya, yang suka mampir di kantin lantas mengobrol banyak tentang berita-berita bola, seleb, dan perkara carut-marut yang malang melintang di bangsa ini. Barangkali ia juga pantas dihadiahi predikat murid teladan, yang layak dijadikan panutan bagi siswa-siswa berandal di SMA nya.
Menurutnya menjadi siswa yang baik adalah seperti itu, datang tidak pernah telat, langsung duduk di kelas membaca ulang pelajaran yang kemarin diajarkan bapak ibu guru. Menyimak baik-baik saat guru menerangkan, dan menjawab pertanyaan jika guru bertanya, entah jawaban benar atau salah itu urusan belakangan. Namun kenyataannya jawaban Ukun atas pertanyaan-pertanyaan gurunya tak pernah betul, meski cuma sekali. Terkadang kedisiplinan tak berbading lurus dengan tingkat prestasi. Barangkali itulah salah satu anomali yang melekat pada Ukun. Seperti halnya air dalam pelajaran fisika.
Barangkali seluruh hidup dan kebiasaan sehari-hari Ukun adalah sebuah keanomalian yang mutlak. Ia memilih jalan menyimpang dari kebiasaan orang-orang banyak. Ketika teman-temannya memilih tidur pulas saat dan setelah sholat Shubuh. Ukun memilih bangun dan mengerjakan hal-hal yang riskan, seperti mencari kayu bakar. Ketika minggu, teman-temannya memilih duduk manis di depan televisi dan menonton serial kartun Jepang. Ukun memilih pergi ke sawah dan menawarkan diri untuk menjadi buruh tani. Apa saja bisa dia kerjakan, dari membajak sawah dengan sapi, mencukur rumput liar, bercocok tanam, dan paket-paket pekerjaan pertanian lainnya. Itu mudah saja bagi Ukun. Maka tidak kaget jika kulit Ukun paling gelap diantara teman-temannya dan kadangkala tercium aroma sandal terbakar dari tubuhnya. Anomali-anomali lainnya masih banyak.
Dan Anomali Ukun yang membuat banyak temannya geleng-geleng kepala adalah perasaan cintanya pada Ling Ling, anak perempuan dari pedagang beras terbesar di kampungnya yang mengaku keturunan Cina. Perlu diketahui Ayah Ling Ling adalah pelaku kapitalisme pertama di kampungnya. Ia dengan seenaknya menaik turunkan harga beras di kampung. Maka tak jarang pedagang beras di kampungnya naik pitam atas kelakuan ayah Ling Ling. Dan akhirnya pedagang beras kecil-kecilan itu harus gulung tikar. Lalu jadilah ayah Ling Ling yang sipit matanya dan panjang kumisnya itu menjadi pelaku kapitalisme dan monopoli di kampungnya. Menurut cerita warga, beras ayah Ling Ling telah lama menumpuk berkarung-karung di gudang.
Dan Ukun adalah salah satu anak yang dianggap temannya tidak waras lantaran mencintai keturunan orang Cina. Apalagi perangai keduanya amat berbeda. Jika Ling Ling suka marah-marah maka Ukun suka memaafkan. Jika Ling Ling penuh kemewahan maka Ukun hanya membawa kesederhanaan. Merambat ke bentuk tubuh pun berbeda, Ukun matanya melotot seperti hendak melompat sementara Ling Ling matanya melesak kedalam sebagaimana orang Cina kebanyakan yang sipit itu. Dan satu lagi kulit mereka bagai siang dan malam, mana mungkin akan bisa serasi.

Suatu hari saat bulan Agustus, Ukun berlari-lari menuju bangku Ling Ling dan menyerahkan satu paket alat tulis di muka Ling Ling.

“Ini untukmu Ling. Hadiah juara satu lomba balap karung di desaku.” Ukun tersenyum bangga seolah menjuarai balap karung adalah sebuah kehormatan yang luar biasa.

“Aku tidak butuh benda macam ini.” Ling Ling melemparkan ke muka Ukun dengan kesal. Namun Ukun hanya tersenyum. Baginya itu merupakan feedback positif, sebab Ling Ling mau menanggapi perkataannya barusan. Dan lagi-lagi teman sekelasnya tertawa-tawa.

Bagi Ukun, apapun dan bagaimanapun kelakuan Ling Ling, entah itu mirip setan atau anak setan sekalipun tidak begitu masalah buatnya. Bahkan teman-temannya sudah menyerah untuk mengingatkan bahwa Ling Ling bukan perempuan yang pantas buat dia.

Di sore hari saat Ukun hendak pergi ke surau untuk mengaji. Ia melihat toko ayah Ling Ling ramai dipenuhi pembeli. Mereka mengantri untuk membeli beras. Namun tujuan Ukun sebenarnya bukanlah untuk melihat-lihat kerumunan orang yang tengah membeli beras itu. Melainkan ingin melihat wajah Ling Ling di sela-sela kerumunan itu. Tapi naas Ling Ling tak pernah sekalipun terlihat diantara kerumunan. Konon Ling Ling tak pernah mau membantu orang tuanya bekerja. Beda sekali dengan Ukun, yang tiap pagi rela mencari kayu bakar di hutan. Namun bagi Ukun itu tak jadi masalah, biarlah jika berumah tangga nanti ia saja yang bekerja. Biar Ling Ling di rumah duduk sambil menonton televisi saja. Urusan uang biar dia yang mencari.

“Kau sedang menulis apa Kun?” Romli teman sebangku mengajinya bertanya.

Sambil melipat kertas dan memasukkan dalam amplop yang ada gambar bunga-bunganya, Ukun menjawab. “Ini surat cinta buat Ling Ling.” Seperti biasanya Ukun tersenyum ketika mengucap nama Ling Ling. Saat itu isi kepala Ukun hanya ada gambar-gambar tentang Ling Ling. Sementara guru ngajinya masih sibuk menulis huruf Hijaiyah di papan hitam menggunakan kapur.

“Kau itu tak pantas bersama Ling Ling, Kun. Kalian bagai air dan api,” kata Romli, mengingatkan untuk kesekian kalinya.

“Air dan api, malam dan siang, hitam dan putih bukankah mereka diciptakan Allah berbeda namun untuk berpasangan. Seperti aku dan Ling Ling, Rom!”

“Hah… Suka-suka kau lah!” Romli kembali menatap papan dan menyalin huruf Hijaiyah ke dalam buku tulisnya.

Tepat disamping Romli, Ukun tersenyum-senyum sendiri macam orang ketempelan setan. Sesekali ia mengelus-elus amplop bergambar bunga-bunga tadi sambil membayangkan raut muka Ling Ling saat membaca surat itu nanti.

Pagi harinya Ukun berangkat sekolah dengan niat yang sama sekali tak patut untuk dijadikan murid teladan. Hari itu niatnya lebih condong pada keinginan untuk mengantarkan surat dan melihat wajah Ling Ling ketimbang duduk takzim mendengarkan gurunya berkhotbah tentang ilmu-ilmu pengetahuan.
Pagi itu kelas masih sepi belum ada satu orangpun yang datang ke kelas. Bahkan tukang sapu pun belum terlihat batang hidungnya. Barangkali pagi itu tanda-tanda kehidupan di sekolahnya hanya dia seorang. Ini kesempatan bagus pikirnya. Dengan sigap ia lantas memasukkan surat itu ke laci bangku dimana Ling Ling duduk. Sesekali mata Ukun mengawasi pintu dan jendela-jendela kaca. Berharap tak satupun ada orang melihat.
Benar, harapannya kali ini bolehlah terkabul. Kelas bahkan sekolah masih sepi dari tawa-tawa pekak siswa. Hanya menyisakan kicau burung yang sesekali terdengar dari ranting-ranting pohon. Ukun senang bukan main, kini usahanya mendapatkan cinta Ling Ling tinggal satu langkah lagi.

Sesuai isi surat tadi, maka tepat setelah sholat Ashar Ukun sudah berada di gudang bekas penggilingan beras milik warga asli kampungnya. Dindingnya kini sudah kusam, ada retakan-retakan di sana-sini. Jaring laba-laba tumbuh subur di langit-langit gudang. Ukun masuk dengan mudah, gerbangnya telah rusak tidak bisa lagi ditutup. Karat-karat seakan memakan engsel gerbang itu sehingga gerbang hanya bisa menganga saja. Konon penggilingan beras itu bangkrut lantaran kapitalisme yang dilakukan oleh sekumpulan orang Cina yang tinggal di desa itu. Salah satu pelaku dari kapitalisme itu adalah ayah Ling Ling sendiri. Kasihan sekali pemilik penggilingan beras itu. Menurut kabar warga, si pemilik kini pergi merantau dan hanya meninggalkan papan tulisan “DISEWAKAN” di depan gudang penggilingan beras itu.
Tapi masyarakat sepertinya acuh. Tak ada yang berniat menjadi penggiling beras selanjutnya. Maka jadilah gudang itu sebagai taman bermain anak-anak kampung. Jika sore hari mereka akan berkumpul untuk main bola di halaman gudang itu. Di hari minggu pagi tempat ini menjadi arena bersepeda yang menyenangkan. Atau dinding-dinding gudang selalu menjadi media yang bagus untuk gambar-gambar radikal dan sama sekali tidak sopan. Lihat saja tepat di belakang Ukun kini berdiri. Terdapat gambar kelamin yang diciptakan dari arang kayu. Tak usah kalian heran, hal seperti ini memang sudah biasa terjadi di negara berkembang.
Ukun tak bosan-bosannya menunggu dan terus menatap gerbang yang menganga itu. Langit sore mendung dan sesekali angin berhembus kencang. Sepertinya beberapa saat lagi hujan akan turun. Namun Ukun entah kenapa ia begitu yakin dengan kekuatan suratnya. Bahwa Ling Ling akan datang sebentar lagi.
Dan benar apa yang diyakini Ukun. Kini ia tersenyum. Seorang perempuan berkulit putih langsat dan bola mata yang sipit terlihat berjalan memasuki gerbang yang rusak itu. Ukun merasa gugup. Berkali-kali ia merapikan rambut dengan ludahnya yang disapukan oleh telapak tangannya berkali-kali. Agar kesan rapi dan tampan nampak pada wajahnya, begitulah harapannya. Namun yang terlihat adalah kebalikannya. Sungguh memilukan.
“Ini aku kembalikan suratmu yang kampungan bocah!” Ling Ling melempar surat itu sembarangan. Tepat di depan Ukun surat itu melayang lalu rebah di tanah.
“Lalu bagaimana Ling?”
“Bagaimana apanya? Semuanya sudah jelas bocah!”
Lalu sebuah mobil Colt berwarna hitam tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu gerbang yang rusak itu. Kaca jendela mobil turun perlahan-lahan. Seorang laki-laki terlihat dari jendela mobil. Kemudian klakson mobil berbunyi tiga kali. Tin…tin…tin. Ia melambaikan tangan ke arah Ling Ling. Dan Ukun melihat Ling Ling tersenyum lembut ke arah lelaki yang berada di dalam mobil itu.
“Ayo cepat, Ling!” Lelaki di dalam mobil itu berteriak.
Tanpa pamit atau sekedar melambaikan tangan kepada Ukun, Ling Ling lantas pergi. Berlari menuju mobil Colt itu dengan senyum riang. Seolah Ukun bukanlah apa-apa, hanya tembok tua yang pantas untuk ditinggalkan dan dilupakan karena sama sekali tidak menarik.
Setelah sore itu Ukun tidak pernah lagi melihat Ling Ling.

***
Satu tahun berselang kampung Ukun telah berubah. Ukun kini telah menjadi anak paling mursal di kampungnya ketimbang anak-anak yang telah mursal duluan. Dan kini ia lebih suka ke warung remang-remang ketimbang pergi ke surau untuk mengaji. Ia juga sudah tidak bangun pagi lagi, apalagi pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Ketika jam menunjuk pukul 10.00 siang, Ukun baru akan terlihat berjalan di jalanan dengan baju yang dipenuhi bau air liur, sedang berjalan menuju rumah. Setiap malam ia tidur di sembarang tempat di kampungnya. Di pos ronda, teras rumah warga, bahkan terkadang tidur di kandang kambing. Orang-orang menganggapnya gila semenjak Ukun mendengar kabar bahwa Ling Ling telah ikut ke kota bersama orang salah.
Orang-orang di kampung dan Ukun sendiri tak pernah tahu Ling Ling masih ada atau hanya tinggal nama. Hanya dengan berperilaku aneh semacam itulah kadang-kadang Ukun melihat Ling Ling sedang memandangi bintang-bintang di jalanan kampung. Atau kadang ia juga melihat Ling Ling sedang bercakap-cakap dengan kambing. Atau bahkan ia juga pernah melihat Ling Ling menjadi pelayan di warung remang-remang yang berada di pojok kampungnya sendiri.

Itulah kenapa, botol-botol miras dan suara perempuan merintih kesakitan adalah irama hidupnya yang baru. (***)

Related posts