Angka Perceraian Tinggi, Rapuhnya Ketahanan Keluarga

  • Whatsapp

Oleh: Ummu Neysariella – Muslimah Bangka Belitung

Hampir setengah juta perceraian terjadi di Indonesia sepanjang 2019. Perceraian ini melanda pasangan keluarga di Indonesia termasuk di Provinsi Kepuluan Bangka Belitung. Ajuan perceraian kebanyakan istri yang menggugat cerai sedangkan gugatan suami hanya beberapa persen.

Data perceraian ini adalah data yang masuk dilaporkan, sementara data yang tidak terlapor belum terhitung jumlahnya. Bila digabungkan tentunya akan melebihi dari angka di atas. Misalnya pernikahan di bawah tangan kemudian bercerai, bercerai tetapi malu untuk melapor, dan perceraian terjadi karena penelantaran kemudian juga tidak melaporkan pada depertemen terkait. Faktor tingginya perceraian untuk di seluruh Indonesia kebanyakan gugat cerai  karena faktor ekonomi, faktor ketidakharmonisan, faktor pasangan selingkuh, faktor kekerasan dan faktor lain – lain.

Baca Lainnya

Untuk data Kota Pangkalpinang kasus perceraian ada 573 kasus gugat cerai yang dilakukan kedua belah pihak  hingga Oktober 2019. Untuk gugat cerai dari perempuan menurut data harian lokal Bangka Belitung perempuan mengajukan gugatan berjumlah 450 perkara dan laki-laki menggugat cerai berjumlah 123 perkara. Penyebab angka perceraian ini menurut data koran lokal, karena faktor ekonomi, faktor perselingkuhan, faktor pertengkaran, kekerasan dan lain sebagainya.

Rapuhnya ketahanan keluarga muslim disebabkan jauhnya agama dari kehidupan dan agama tidak lah menjadi pedoman hidup. Janji suci sakral yang diucapkan ketika berjanji Ijab dan Qobul hanyalah sebatas lisan. Tetapi, penerapannya tidak menjunjung tinggi ajaran Islam sebagaimana membangun rumah tangga seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat Nabi. Sehingga pertahanan rumah tangga menjadi rapuh, hanya seumur jagung, hitungan jari, bertahan hanya puluhan tahun. Bahkan ada kejadian duduk nikah tegak cerai, atau pernikahan hanya mengambil status kemudian bercerai.

Terjadinya kerapuhan dalam rumah tangga akan berimbas pada semua aspek. Visi dan misi keluarga tidak jelas dan tidak terarah mau dibawa kemana. Moral dan tingkah laku rusak anak-anak karena tidak kuatnya akidah islam. Anak-anak mencari dunianya sendiri, pergaulan tidak terarah, perilaku menyimpang, LGBT, kriminal dan lain lain.

Apabila keluarga rapuh, masyarakat rapuh dan negara tidak berperan akfif dalam mengarahkan umat dalam ketaatan kepada Sang Pencipta yakni Allah SWT yang memberikan kehidupan, maka kehidupan akan kebablasan tanpa arahan yang yang jelas.

 

Pembekalan Pra Menikah Menjamin Langgeng?

Pasangan yang akan menikah sudah melaksanakan kursus pernikahan atau pembekalan sebelum menikah di kantor agama. Mereka diberikan penyuluhan yang berkaitan dengan dunia pernikahan dan gambaran ke depan setelah menikah. Meskipun kursus atau pembekalan sebelum pernikahan ini sudah diberikan, namun tidak berpengaruh terhadap angka perceraian. Malah tingkat perceraian semakin tahun semakin tinggi angkanya.

Termasuk usulan dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendi mengatakan bahwa, calon pengantin tidak boleh menikah jika belum memiliki sertifikasi layak kawin. Apakah itu berpengaruh terhadap angka perceraian ? Sedangkan pelatihan tersebut sudah diberikan .

Pelatihan yang diberikan kepada pasangan yang akan menikah, 2 hari, 2 bulan, 2 tahun itu tidak menjamin angka perceraiannya turun. Karena semua solusi yang diberikan bukanlah dari Allah SWT melainkan dari hukum yang dibuat oleh manusia sesuai dengan perasaan mereka. Keputusan yang diambil oleh pasangan menikahpun bukanlah keputusan karena Allah tetapi fakta yang ada karena ketidakcocokan atau keputusan nafau semata. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Halal yang paling dibenci Allah adalah talak”. ( H.R Abu Daud no 2180).

Sebenarnya negara tidak hanya berfokus pada pelatihan dan memberikan sertifikat pernikahan, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Tingginya angka percerian karena masalah sistemik yang dihadapi umat dari pendidikan yang dijauhkan dari agama dan ekonomi yang sulit. Selain itu perempuan berperan super power,  sebagai ibu pengurus rumah tangga, sebagai pendidik maupun sebagai pelaku ekonomi. Sehingga fokus terhadap ketahanan keluarga menjadi buyar.

Pemimpin dalam negara Khilafah menghapuskan ancaman terhadap keluarga. Selain itu Pemimpin dalam negara khilafah akan berperan sebagai pelayan umat (khadimul ummat). Sistem ekonominya menghasilkan keluarga yang berkesejahteraan. Sistem pendidikan dan sosialnya menghasilkan masyarakat berperilaku mulia dan generasi berkualitas insan kamil. Serta sistem hukumnya yang menciptakan rasa keadilan dambaan semua orang. Jadi solusi tuntas bagi persoalan massalnya kerapuhan keluarga adalah berjuang bersama menegakkan sistem khilafah yang akan secara nyata menghadirkan Negara sebagai perisai.  Wallahu a’lam bish-shawabi. (***)

Related posts