by

Amerika Serikat, Islam dan Terorisme

-Opini-349 views

Oleh: Muhammad Fakhri Abdurrahman
Mahasiswa Hubungan Internasional UMY

Muhammad Fakhri Abdurrahman

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita mengenai terorisme selalu menghiasi kita setiap waktu. Diskursus ini seakan tak ada habisnya, karena di produksi secara terus menerus entah apa motifnya. Kita pun selalu melihat media “merayakan” kematian korban serangan para teroris, orang yang terduga teroris, dan teroris itu sendiri. Memang terlihat pahit, namun inilah realitanya. Jikalau sudah berbicara mengenai terorisme, hanya satu kata yang langsung teringat di benak orang, yaitu Islam. Hal ini tidaklah mengherankan apabila kita melihat ke belakang. Stigmatisasi teroris terhadap Islam tidak lain merupakan agenda utama Barat (Amerika Serikat) paska perang dingin, yang mana mereka dianggap sebagai pemimpin tunggal dunia.

Paska runtuhnya rezim komunis, Amerika Serikat yang merupakan pemimpin tunggal dunia seakan gusar dan mereka pun mencari lawan yang baru karena menganggap bahwa mereka hanya bisa kuat bila ada yang lebih kuat. Mulai dari situlah barat mulai melirik Islam sebagai musuh barunya.
Awal mula dijadikannya Islam sebagai musuh Barat bermula ketika Samuel Huntington, seorang ilmuwan politik dari Universitas Harvard, menjadi sangat terkenal dengan memperkenalkan wacana “The Clash of Civilization” yang notabene merupakan tesis lama Huntington. Wacana ini, menjadi pembahasan utama para ilmuwan politik di barat yang menganggap bahwa Islam lah lawan Amerika Serikat selanjutnya. Melalui bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996), Huntington menyadari bahwa barat tidak memiliki sejarah peradaban yang besar layaknya dunia timur. Ia menyarankan agar barat menaruh perhatian ekstra terhadap Islam, karena Islam lah satu-satunya peradaban yang berpotensi menggoncang barat. Sejak saat itulah Amerika Serikat seolah-olah menjadikan Islam sebagai musuh mereka berikutnya, karena dalam tesis tersebut ia menyatakan bahwa perang yang sebenarnya adalah perang antara Islam dan Kristen Ortodox.
Banyak yang mengecam gagasan Huntington tersebut, bahkan timbul ide-ide alternatif dari berbagai pihak termasuk dari Presiden RI, BJ Habibie yang bekerjasama dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia saat itu, Anwar Ibrahim, guna merespon wacana itu. Namun naas, Peristiwa WTC pada 11 September 2001 tiba-tiba Meletus. Peristiwa ini seolah menjadi justifikasi Amerika Serikat terhadap tesis Huntington tersebut. Serangan inilah membuat Amerika Serikat mendeklarasikan “War on Terrorism”, yang juga dikenal sebagai The Bush Doctrine. Paska serangan tersebut, Amerika Serikat seolah mulai merasa didzalimi oleh orang-orang yang mereka anggap teroris, yang notabene adalah Islam. Sejak saat itulah kita mulai mengenal kelompok-kelompk teroris seperti al-Qaeda dan ISIS (sekarang disingkat IS).
Itulah titik awal Terorisme yang marak terjadi di seluruh belahan dunia. Paska serangan tersebut, AS pun langsung gencar melakukan serangan ke negara Islam seperti serangan ke Irak dan Afghanistan. Sejak saat itulah terorisme marak terjadi, bahkan hampir di seluruh belahan dunia. Hal inilah yang membuat agenda Amerika Serikat tersebut compatible dengan keadaan yang ada. Namun, keadaan yang compatible itulah yang membuat orang curiga bahwa AS sendirilah yang memproduksi terorisme itu. Tentu kita masih ingat laporan dari wikileaks beberapa tahun lalu bahwa ISIS (Islamic State in Iraq and Suriah) dibuat Amerika Serikat, dan negara lah yang membina organisasi itu. Masih segar dalam ingatan kita ketika Hillary Clinton dalam debat pemilihan presiden melawan Donald Trump, mengatakan bahwa ISIS itu dibuat oleh Amerika Sendiri.
Jelas sekali bahwa terorisme yang ada sekarang lebih sebagai kepentingan politik yang dibuat-buat meskipun harus mengorbankan banyak orang, dimana ini sangat tidak mengherankan karena manusia hidup di dunia yang anarki. “The World Depends on Who Rules it”. Jadi, keadaan yang sekarang tentu tidaklah mengherankan, karena pemimpin dunia itu sendiri yang menghendakinya. Wallahuálamu Bishawab.(****).

Comment

BERITA TERBARU