Alat Berat Tangkapan Ditreskrimsus Polda Babel, Milik Ahap Diurus Bohot?

  • Whatsapp

Lima Unit Eksavator Garap HL Sarang Ikan dan Merapin

Alat berat jenis eksavator yang diamankan tim gabungan dari kawasan Hutan Lindung di Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung tadi sore. Disebut-sebut alat berat yang ikut merusak kawasan hutan ini milik pengusaha bernama Ahap yang diurus oleh Bohot. (Foto: M. Tamimi)

RAKYATPOS.COM, LUBUK BESAR – Tim gabungan dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung (Ditreskrimsus Polda Babel) bersama Polres Bangka Tengah dan Polsek Lubuk Besar, mengamankan satu unit alat berat jenis eksavator merk Kobelco, dalam penghentian tambang ilegal di Kawasan Hutan Lindung Merapin, Desa Lubuk Besar, Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Senin sore (06/04/2020).

Eksavator yang ikut merusak kawasan hutan lindung itu disebut-sebut milik Ahap, pengusaha alat berat ternama di Kabupaten Bangka Tengah. Alat berat ini kepergok polisi saat mengeruk tanah di hutan lindung untuk kegiatan penambangan skala besar yang tidak dilengkapi perizinan.

Pantauan wartawan di lapangan, eksavator Kobelco ini selanjutnya diamankan di Polres Bangka Tengah oleh tim. Polisi mengklaim saat diamankan alat berat itu dalam kondisi tanpa operator.
Namun informasi yang beredar bahwa eksavator atau PC biasa disebut penambang di Bangka Belitung ini milik pengusaha bernama Ahap.

Baca Lainnya

“PC ini milik Ahap yang diurus oleh Bohot,” ujar warga setempat yang tidak mau disebutkan namanya, kepada wartawan.

Menurutnya, sebelum tim datang, jumlah alat berat yang beraktivitas di kawasan hutan lindung itu sebanyak tiga unit. Tapi saat tim polisi bertindak, hanya berhasil mengamankan satu unit eksavator saja.

Kapolres Bangka Tengah, AKBP Slamet Ady Purnomo tak menampik adanya penangkapan alat berat yang menggarap lokasi tambang timah ilegal di kawasan Hutan Lindung (HL) Sarang Ikan dan Merapin VI Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah. Namun ia belum bisa memastikan jumlah alat berat yang diamankan tim.

“Kan mau diperiksa dulu. Informasinya sih ada (eksavator yang diamankan-red). Belum, belum jelas (berapa unit),” kata Slamet ketika dihubungi rakyatpos.com, Senin sore (6/4/2020).

Menurutnya, informasi mengenai penangkapan alat berat di kawasan hutan lindung dari anggotanya, terkendala signal handphone yang tidak ada di lapangan.

“Soalnya, di lapangan signal tidak ada. Jadi, saya belum tahu, nanti pasti dikonfirmasikan,” ujarnya.

Kapolres menyarankan agar informasi terkait penangkapan ini disatukan dengan Polda Babel.

“Satu pintu saja sama Polda. Ada, ada informasinya (penangkapan alat berat-red). Belum tahu, saya (telepon) putus-putus sama anggota yang ada di lapangan,” tuturnya.

Dia menambahkan, penangkapan ini koordinasi antara Polda Babel dan Polres Bangka Tengah.

“Nanti dari Polda aja ya. Belum tahu hasilnya, masih di lapangan. Iyakan kita bareng sama Polda,” tukas Slamet.

Informasi lain yang dihimpun wartawan menyebutkan, sebanyak lima unit alat berat beroperasi di dua kawasan hutan lindung Kecamatan Lubuk Besar ini.

Selain itu, tambang inkonvensional (TI) jenis Rajuk yang ilegal juga terpantau beberapa unit. Sedangkan dua unit eksavator lain beroperasi di hutan lindung Sarang Ikan.

Rinciannya, tiga unit alat berat berada di kawasan HL Merapin VI, dua eksavator berukuran sedang beroperasi normal dan satu lagi dalam keadaan rusak, tidak beroperasi. (ran/bis/1)

Related posts