Alasan Nelayan Selat Nasik Lepas Liarkan Paus & Dugong yang Terdampar Di Pulau Selat Gelasa

Oleh: AbriandikaI Pratama
Project Asisstant of Pan Semujur Foundation

Paus yang terluka dan terdampar di Pantai Desa Gual, terjadi tiga hari setelah perayaan Ritual Laut yang diadakan oleh masyarakat tiga desa di Pulau Selat Nasik. Paus yang membuat heboh masyarakat Belitung khususnya, diperkirakan memiliki panjang 14 meter dan tinggi 2 meter serta bobot sekitar 10 ton ini, disinyalir adalah jenis Paus Sperma. Team dari Pan Semujur Foundation (Yayasan Pan Semujur Lestari) yang menerima berita dari masyarakat yang bersumber dari Belitung pada pagi hari jam 08:00 wib langsung menghubungi berbagai pihak termasuk DKP Provinsi, KKP, WWF-Indonesia, LIPI, dan ALOBI. Wal hasil Erzaldi Rosman selaku Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung langsung merespon berita yang juga disampaikan oleh pihak PSF untuk segera berangkat ke Belitung bersama team bantuan dari ALOBI untuk turut membantu evakuasi dan pengambilan data di lapangan.
Terdamparnya Paus terjadi pada tanggal 29 November dan kemungkinan besar sudah terdampar di antara karang-karang di pinggir Pantai Desa Gual sejak dini hari itu ditemukan pertama kali oleh Bapak Hendra selaku nelayan tradisional pencari cumi pada pukul 06:00 WIB, yang selanjutnya dilaporkan kepada masyarakat dan anggota nelayan yang lain bahwa ada Paus yang terdampar hidup di karang-karang yang berjarak hanya sekitar 50 meter dari bibir pantai. Syukurlah Paus yang terdampar tersebut bisa diselamatkan oleh warga Desa Gual khususnya secara bahu-membahu menarik tubuh paus yang dipenuhi luka ke tengah laut agar dapat kembali berenang dan terhindar dari jebakan wilayah karang meskipun team bantuan dari Pangkalpinang terkendala datang tepat waktu dikarena jarak dan akses menuju lokasi memakan waktu yang cukup lama, namun demikian tidak membuat semangat para nelayan surut guna mengambil tindakan langsung tanpa arahan.
Dalam sosialisasi mengenai mamalia laut terdampar serta DSCP-Indonesia (Dugong Seagrass and Conservation Project) oleh Pan Semujur Foundation yang disampaikan pada tanggal 30 November, para nelayan yang terjun langsung membantu menangani dan melepas liarkan Paus tersebut mengungkapkan bahwa ini adalah Paus pertama yang pernah terdampar didaerah ini, dan menjadi sejarah bagi Desa Gual. Mereka juga heran kenapa mamalia besar tersebut bisa menyasar terdampar didaerah yang memiliki banyak karang-karang yang cukup besar. Sayadi Katar selaku nelayan tradisional yang kapalnya digunakan secara sukarela untuk menarik paus ke tengah laut mengatakan bahwa selama hidup 50 tahun baru kali ini melihat Paus.
Dari hasil wawancara dan dokumen yang didapat di lapangan terlihat bahwa nelayan lokal tersebut dalam penanganan pertama menganai Paus ini, perlu diapresiasi. Ketika melakukan penarikan mamalia laut raksasa ini, mereka tidak mengikatkan tali pada ekornya yang malah bisa menyebabkan hewan tersebut cidera apabila sampai ekornya patah, maka mereka cukup memasukkan tali tambang kebagian tengah tubuh paus dan menariknya ke tengah laut. Mereka juga tidak menutup bagian saluran pernapasan Paus dibagian atas kepala yang dapat membuat kondisi mamalia menjadi semakin lemas.
“Paus itu kondisinya cukup baik pak, meskipun bagian disekujur punggungnya mengeluarkan darah segar akibat karang. Tapi, kami tidak tahu apakah Paus ini juga menabrak kapal besar (kapal barang), yang jelas tidak ada luka sobek seperti bekas baling-baling kapal,” ungkap Suparlan selaku Kadus Desa Suak Gual.
Ia juga menuturkan bahwa paus itu hanya beberapa meter ditarik ke tengah agar tidak terjebak oleh alur karang yang ada di pulau-pulau kecil didaerah Desa Gual. “Bahkan ketika berada diperairan yang sudah agak dalam, Paus nya yang malah menarik perahu, untung cepat-cepat talinya kami lepas ketika ekornya mulai menghepas,” sambung Kadus yang sehari-harinya juga bekerja sebagai nelayan tradisional.
Bagi nelayan tradisional Paus menghepaskan ekornya adalah sebagai ucapan terimakasih, padahal secara study itu mendakan bahwa sang mamalia sedang memberi tanda bahwa ia sedang merasa terancam dan menghimbau untuk menjaga jarak.
Ketika ditanyakan alasan mereka mau melepaskan Paus tersebut dan menolongnya hingga ke tengah laut, adalah karena kewajiban sebagai manusia untuk menolong makhluk hidup yang lainnya, apalagi Paus tersebut adalah hewan yang langka dan dilindungi. Terlebih para nelayan juga tidak mau direpotkan apabila Paus tersebut sampai mati dan bau karena terlalu lama terdampar, karena bau yang ditimbulkan dari bangkai hewan seukuran itu bisa membuat repot warga satu pulau. Kalaupun untuk dikonsumsi juga mikir-mikir. “Apalagi jika harus mengevakuasi bangkai paus yang sudah mati, kami masyarakatnya repot, pemerintahnya repot, dan bapak juga repot karena harus membawa Paus nya ke darat,” sambung Suyadi Katar selaku nelayah pemilik kapal yang juga pernah berjumpa Hiu Martil di wilayah Pulau Selat Nasik.
Memang wilayah perairan Pulau Selat Nasik terbilang masih sangat bagus sehingga beberapa jenis dari hewan laut yang langka masih dijumpa secara tidak sengaja oleh nelayan seperti tertangkapnya Nautilus oleh pencari kepiting.
Solihin selaku Dukun Laut di Pulau Selat Nasik mengatakan, pihaknya mendapatkan info mengenai Duyung (Dugong) yang tidak sengaja masuk ke Sero (alat tangkap nelayan) milik Rahim yang tinggal di Desa Petaling beberapa waktu yang lalu. “Segera kami mengecek lokasi dan informasi ke kediaman Bapak Rahim selesai dengan tugas mengenai Paus terdampar. Berdasarkan penuturan nelayan dari Desa Petaling yang berhasil kami temukan di kediamannya, Dugong yang masuk ke dalam Sero itu memiliki panjang kurang lebih 2 meter dan sayangnya tidak berhasil diidentifikasi jenis kelaminnya, karena kurangnya pengetahuan beliau. Pak Rahim mengatakan bahwa disekitar wilayah tempat Dugong itu ditemukan memang banyak tersebar unas dan juga lamun. Dugong itu pun lalu dilepas liarkan tanpa instruksi siapapun setelah Dugong tersebut selesai direkam dengan menggunakan kamera handphone sebagai bukti bahwa benar pernah masuk ke Sero beliau secara tidak sengaja,” katanya.
Uniknya, ketika ditanyakan alasan kenapa mau melepas liarkan dan tidak memanfaatkan daging dari Dugong tersebut, ia menuturkan bahwa “Dugong yang panjangnya 2 meter itu tidak mungkin bisa digotong sendirian ke darat, karena bobot tubuhnya sangat berat nanti malah saya yang susah, dan lagi jika dimanfaatkan dagingnya untuk dimakan juga saya tidak minat karena jijik. Melihat rupa wajahnya juga mirip babi, serta disini masih banyak jenis ikan yang lain yang bisa saya makan. Terlebih hewan tersebut kan dilindungi,” tutur laki-laki berusia 50-an tahun tersebut.
Rahim kala itu mengatakan, mengetahui hewan-hewan tersebut dilindungi karena mendapat informasi dari siaran radio juga dari televisi.
Erzaldi Rosman selaku Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ketika usai menerima hasil laporan via WhatsApp mengenai Paus tersebut mengatakan “Masyarakat nelayan Pulau Selat Nasik sangat perlu sekali di apresiasi. Sebagai Gubernur Bangka Belitung saya mengucapkan banyak terima kasih atas kepeduliannya terhadap makhluk hidup lain yang membutuhkan pertolongan kita sebagai manusia. Dan saya imbau kepada pihak-pihak terkait termasuk DKP Provinsi Bangka Belitung untuk mengambil langkah serius agar hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi semisalnya pemanfaatan daging Duyung (Dugong) untuk konsumsi dan lain sebagainya, bahaya kalau hewan-hewan baik yang di darat maupun dilaut sudah tidak ada lagi, kasihan anak cucu hanya bisa dengar cerita atau lihat gambar saja dibuku-buku pelajaran sekolah-sekolah,” ungkap Gubernur.
Dan juga untuk Pan Semujur Foundation (Yayasan Pan Semujur Lestari) yang sudah menjadi mitra kerja di DSCP-Indonesia harus mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengupayan kegiatan serupa yang pernah dilaksanakan di Pantai Pan Semujur oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut yaitu berupa Bimtek juga bisa dilaksanakan untuk masyarakat nelayan tradisional yang telah membantu menyelamatkan Paus dan melepas liarkan Dugong yang terdampar diwilayah itu (Pulau Selat Nasik). Kegiatan sosialisasi mengenai mamalia laut rentan punah ini, sangat penting bagi masyarakat. Jadi, harus sering-sering dilaksanakan baik oleh instansi terkait maupun oleh para penggiat lingkungan seperti Pan Semujur Foundation dan mitra kerjanya ALOBI.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Saudara Mifta selaku staff perusahaan penampung kepiting rajungan di salah satu perusahaan di Belitung, di Daerah Membalong sering sekali nelayan secara tidak sengaja mendapat Dugong terjerat dijaring pukatnya, namun sayang mamalia tersebut tidak dilepas liarkan, akan tetapi dimanfaatkan daging untuk diperjual belikan di pasar di daerah Tanjung Pandan. Malah kadang sengaja ditombak apabila tidak sengaja ditemukan ketika sedang melaut. Kadang Duyung yang tertangkap di wilayah Belitung Timur juga dibawa ke Tanjung Pandan, dengan harga yang cukup tinggi, mengingat harga daging hewan tersebut dirasa lebih baik dari rasa daging sapi.
Mengingat kondisi cuaca saat ini sangat buruk, serta seringnya terjadi badai dan hujan, maka perlu kita khawatirkan bersama-sama akan kemungkinan terjadi kasus terdamparnya mamalia laut baik Paus maupun Dugong diwilayah pesisir laut daerah lain. Terlebih sekarang adalah musim migrasi bagi kawanan Paus dari daerah timur ke bagian barat, dan beberapa hewan laut mencari perairan dan wilayah yang aman sebagai tempat berlindung dari cuaca yang buruk dilautan. Untuk itu, sangat diimbau agar masyarakat yang menemukan kasus serupa untuk segera menghubungi pihak terkait tentang kejadian kemunculan, tertangkap dan terdamparnya mamalia laut seperti Paus dan khusunya juga Dugong ke fanpage: dscp.indonesia, twitter: @ditkkji, dan email : humas.prl@kkp.go.id untuk melengkapi data dan informasi yang sudah ada.

No Response

Leave a reply "Alasan Nelayan Selat Nasik Lepas Liarkan Paus & Dugong yang Terdampar Di Pulau Selat Gelasa"