by

Aktifkan Kontrol Sosial

-Ramadhan-699 views

Oleh: Mahbub Zarkasyi

Ramadan memang tinggal beberapa hari lagi, tapi tausiyah, kultum, khutbah Jum’at dan rubrik-rubrik Ramadan lainnya masih ramai kita mendengar dibawakan ayat tentang kewajiban berpuasa Ramadan. Dalam ayat tersebut juga terdapat wasiat taqwa sebagaimana firman Allah SWT berikut, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. [TQS. Al-Baqarah: 183].
Hari ini kita masih menyaksikan yang rajin Shaum Ramadhan, maka dia akan terus Shaum Ramadhan, Shalat Tarawih, Shalat Tahajud, tilawah Al-Qur’an dan berbagai shalawat didengungkan di masjid-masjid hampir tengah malam, bahkan menjelang shubuh. Belum lagi infaq sunnah yang dikeluarkan setiap hari/malam ke kotal amal yang tiap malam dihitung pengurus masjid dan infaq yang langsung disalurkan kepada keluarga, tetangga dan kaum dhuafa lainnya. Shadaqah wajib yaitu Zakat Fitrah, Zakat Harta (maal), zakat perdagangan, pertanian dan lain-lain pun disalurkan melalui lembaga-lembaga zakat maupun kepanitian masjid-masjid yang dibentuk setiap tahunnya di 10 malam terakhir Ramadhan. Bahkan hasilnya pun terkumpul begitu besar sehingga kaum muslim baik kaya maupun miskin bisa ber Idul Fitri bersama-sama dengan gembira ria. Sepertinya mereka sibuk mengejar predikat Taqwa sebagaimana yang tersurat dalam ayat di atas. Terasa Syurga begitu dekat.
Di sisi lain kita pun menyaksikan masih banyak para muda-mudi kumpul baik siang maupun malam tanpa melaksanakan ibadah, seolah mereka tak peduli dengan bekal akhiratnya. Siang hari begitu banyak kita saksikan orang-orang tidak berpuasa dengan makan-minum dan merokok di tempat umum atau terbuka tanpa rasa malu. Iya, mungkin mereka uzur syar’i, namun tak harus dengan makan-minum di tempat umum dan terbuka. Remaja dengan seragam sekolah tanpa malu merokok sembari nongkrong atau berkendara motor dengan rokok menyala di tangan, atau yang bermesraan di atas motor dengan lawan jenisnya dan lain-lain. Disatu sisi kita menyaksikan begitu ramai tempat ibadah, namun disisi lain masih banyak yang maksiat menunjukkan mereka tidak berpuasa Ramadan tanpa rasa malu.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kita predikat terbaik. Dalam kehidupan Sekuler-Kapitalis termasuk Sosialis-Komunis kita mengenal yang terbaik biasanya hanya satu orang. Tak pernah lebih. Yang lain tidak disebut terbaik. Namun dalam Islam Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan predikat terbaik kepada banyak orang sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. [TQS. Ali-Imran: 110].
Di dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan ‘umat terbaik (khoiru Ummah)’ dengan sebutan jamak yaitu menggunakan kata ‘Kalian (Kuntum)’. Dan kriteria untuk mendapatkannya pun terbuka lebar untuk orang banyak. Kriteria/syarat mendapat predikat umat terbaik hanya tiga: pertama, ‘Ta’muru nabil ma’ruf’ yaitu menyeru kepada kebaikan. Kebaikan yaitu apa-apa yang baik menurut Allah yaitu menyerukan orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladan kerasulan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena Allah telah menyatakan bahwa “sesungguhnya agama yang diterima disisi Allah hanyalah Islam”. Sehingga mereka selamat dari kekal terbenam dalam api neraka Jahannam. Kemudian kepada saudara muslimnya menyerukan melaksanakan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana yang disyariatkan kepada kita. Jadi syarat pertama yaitu bukan hanya melaksanakan ibadah kepada Allah, namun untuk mendapat predikat terbaik tersebut kita dituntuk untuk menyeru.
Kriteria/syaratkedua, ‘watanhawna‘anilmunkar’yaitu menyerukan untuk manusia meninggalkan keburukan dan kekejian. Termasuk kepada muslim menyerukan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh syariat Islam. Kriteria/syarat yang ketiga, watu’minunabillah’ yaitu beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi bila belum masuk Islam, maka amal seseorang akan sia-sia sebaik apapun amalnya.
Dari ketiga syarat/kriteria di atas tentu banyak orang yang bisa mencapai predikat tersebut. di sini bisa dimaknai dengan kontrol sosial dari seorang muslim. bila kita melakukan ibadah, maka serukan orang lain untuk melakukan ibadah yang sama. Bila kita melihat orang lain melanggar Syariat Islam maka kita serukan untuk meninggalkannya. Jadi kita harus menentukan baik dan buruk itu sebagaimana yang Allah tetapkan. Setiap yang Allah wajibkan/perintahkan merupakan kebaikan bagi kita, sedang setiap yang Allah haramkan/larang merupakan keburukan bagi kita, bukan menurut hawa nafsu manusia.
Syariat Islam bisa kita bagi ke dalam tiga aspek, yang pertama, hablumminallah yaitu perkara hubungan kita hanya kepada Allah. dalam hal ini terbagi dalam perkara Aqidah dan ibadah. Bila seorang manusia belum memeluk Islam, disinilah peran kita untuk control sosialnya menyelamatkannya dari salah ibadah dengan mengajak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan memeluk agama Islam. Bagi seroang muslim yang melakukan perbuatan syirik seperti bersekutu dengan Jinn, maka kita serukan mereka untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Untuk perkara ibadah (seperti Shalat, Shaum Ramadhan, Zakat dan Haji), ini tentunya hanya seruan kepada muslim, bila mereka tidak menunaikan ibadah ritual sebagai seorang muslim, maka kita serukan mereka untuk menunaikannya.
Kemudian aspek yang kedua, hablubinafsiy, yaitu hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam hal ini terbagi dalam 4 perkara yaitu perkara Pakaian, Makan, Minum dan Akhlaq atau adab2. Perkara pakaian, Islam telah menentukan bagaimana batasan aurat dan tatacara berhijab syar’i bagi seorang muslim. maka bila kita melihat saudara muslim kita tidak menutup aurat, atau yang telah menutup aurat namun berlum syar’i, maka serukan mereka untuk melakukannya sesuai tuntunan Syariat. Begitu juga terkait makanan dan minuman, kita harus makan dan minum sesuatu yang halal baik zatnya maupun cara mendapatkannya. Kemudian perkara akhlaq dan adab-adab yang perlu kita teladani yaitu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabatnya dan orang-orang yang memiliki keutamaan seperti Ulama yang telah diakui keimanan dan keilmuannya.
Sedang aspek yang ketiga, hablumminannas yaitu perkara hubungan manusia dengan dengan manusia yang lain. Hal ini biasanya tersistem. Maka Islam telah menurunkan hukum-hukum untuk mengaturnya seperti yang tertuang dalam kita-kitab Ulama, Sistem Pemerintahan Islam, Sistem Pergaulan dalam Islam, Sistem Ekonomi Islam, Sistem Politik Islam, sistem persanksian/peradilan dalan Islam. Maka semua perkara kita harus berhukum dengan hukum Islam. Bila terjadi pelanggaran maka tugas muslim yang lain sebagai Control Sosialnya menyelamatkan muslim yang lain dari dosa dengan menyerukan kembali melakukan segala sesuatu sesuai dengan tuntunan syariah Islam yang biasa tertuang dalam kitab fiqih Islam.
Khatimah
Wahai kaum muslimin, mari kita aktifkan control sosial di tengah-tengah umat dengan saling mengingatkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan-perbuatan yang munkar. Tiada yang peduli kepada kita diakhirat nanti kecuali orang-orang yang selamat dari azab neraka jahannam. Orang-orang yang selamat dari azab Allah akan mencari sahabat-sahabatnya di dunia dulu dimana mereka beribadah dan berjuang untuk tegaknya Syariah Allah di muka bumi bersama-sama. Bila pun ada sahabatnya yang tergelincir, mereka akan memohon kepada Allah agar sahabat-sahabatnya yang tergelincir tersebut dimasukkan ke dalam Al-Jannah (Syurga-Nya). Semoga kita termasuk generasi pejuang yang selalu beramal shalih dan masuk syurga tanpa hisab (bebas dari azab neraka). Aamiin… aamiin… yaa Rabbal’alamiin. Allahu’alam. [MZiS]

Comment

BERITA TERBARU