by

Aktifitas Bongkar Muat KIP Ricuh

Sesama Buruh Pikul Nyaris Bentrok
Bawa Buruh Luar, Panitia Langgar SOP
Nelayan Desak PT Timah Stop Sementara

SUNGAILIAT – Konflik antara warga nelayan Parit Pekir Sungailiat dengan panitia pembagian kompensasi kapal isap produksi (KIP) semakin meruncing.
Kericuhan kembali terjadi saat panitia sedang melakukan pembongkaran pasir timah KIP pada Selasa pagi (13/3/2018). Beruntung keributan yang dipicu permasalahan tidak dilibatkannya buruh pikul sesuai SK oleh Panitia Induk itu tidak berujung dengan bentrok fisik.
Dalam aktifitas bongkar muat KIP, Ketua Panitia Kompensasi KIP, Ratno Daeng Mapiwalli menggunakan buruh pikul diluar susunan panitia pembongkaran KIP yang sudah di SK kan.
Menurut Ketua buruh pikul lingkungan Parit Pekir RT 03 dan RT04, Emile merasa kecewa lantaran hak mereka selaku bagian dari pembongkaran KIP tersebut telah diambil oleh Panitia Induk.
Ia mengatakan berdasarkan jadwal yang ditentukan, pembongkaran pasir timah ini dilakukan oleh panitia KIP tingkat lingkungan Parit Pekir RT 03 dan RT 04.
Hanya saja, saat panitia yang dimaksud hendak melakukan pembongkaran bersama buruh pikul yang telah disediakan, ternyata Panitia Induk telah membawa buruh pikul lain untuk melakukan pembongkaran tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
Terpantau dilapangan, panitia Induk dan panitia pembongkaran sempat cekcok mulut. Panitia pembongkaran meminta agar aktifitas pembongkaran dihentikan. Namun oleh panitia Induk ngotot pembongkaran terus berlanjut.
Menghindari konflik dengan sesama buruh pikul yang dipilih oleh ketua induk, rombongan buruh pikul yang diketuai Emile akhirnya memutuskan pulang.
“Kami merasa hak kami diambil karena dia (Ratno) membentuk kepanitiaan yang baru tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada kami serta tanpa musyawarah,” katanya.
Walaupun kepanitian pembongkaran yang baru sudah dibentuk sepihak, dia bersama kepanitiaan lainnya tetap memperjuangkan hak mereka sesuai SK yang dikeluarkan panitia induk.
“Kami tetap ambil alih pembongkaran itu walaupun sudah terbentuk yang baru, karena ini hak kami,” tambahnya.
Sedangkan mantan panitia besar penyaluran kompensasi dan pembongkaran KIP, Juma menduga ada ketidakberesan didalam struktur organisasi kepanitian yang baru ini sehingga membuatnya mengundurkan diri dari panitia besar.
“Karena disini indikasinya ada sedikit penggelapan dan masyarakat sudah ngeluh,” bebernya.
Untuk itu dia berharap, masalah bongkar muat KIP ini dikembalikan kepada lingkungan masing masing dan untuk kepanitiaan yang ada sekarang ini agar dibubarkan.
“Karena di kepanitiaan yang sekarang ada semacam ketidakberesan,” bebernya lagi.
Senada dikatakan salah satu ketua kelompok nelayan Sungailiat, H. Bujang meminta agar bongkar muat KIP itu diserahkan kepada lingkungan masing masing.
“Karena sesuai SOP, hari ini jadwal panitia yang sudah di SK kan membongkar itu, tapi saat dilapangan, kenyataannya lain,” katanya.
Untuk itu, dia berharap kepada pihak terkait terutama PT Timah untuk sementara waktu menghentikan aktifitas bongkar muat KIP sebelum masalah dana kompensasi tersebut ada penyelesaiannya.
“Ditakutkan terjadi keributan yang lebih besar lagi,” pungkasnya. (2nd/6)

Comment

BERITA TERBARU