Agar Ramadhan Menjadi Pembuka Rahmat Allah Swt.

  • Whatsapp

Oleh: Fakhruddin Halim

Salah satu aktivitas menyambit Ramadhan adalah dilaksanakannya Tarhib. Tak terkecuali ketika menyambut datangnya Ramadhan 1440 Hijriyah. Istilah Tarhib Ramadhan sudah menjadi akrab dalam aktifitas tahunan ummat Islam, yang selalu dinanti dan dimeriahkan. Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan ummat berbondong-bondong menghadiri kegiatan bernama Tarhib Ramadhan. Sebagai bukti diri, siap menyambut Ramadhan dengan sukacita, lapang dada, senang, dan gembira, layaknya menyambut tamu istimewa bagi kita semua.
Tentunya kegiatan tersebut, bukanlah sekedar eforia semata. Tak lain mengandung berbagai makna dan sejuta harapan, akan besarnya keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam unsur bahasa, kalimat “tarhib Ramadhan” memiliki maksud, mengucapkan kata “marhaban” atas datangnya “tamu” yang berupa bulan Ramadhan. Yang berarti, kedatangan bulan Ramadhan disambut dengan sambutan “marhaban”, yakni hendaknya kita sambut kedatangan Ramadhan dengan do’a, “semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan keluasan dan kelapangan ruang dan waktu, serta kelapangan dada dan qolbu kepada kita, untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan bulan Ramadhan dengan berbagai amal Sholih, yang akan memberikan manfaat kepada kita di dunia dan di akhirat, dan juga bagi seluruh umat-Nya, aamiin…
Maka hakekatnya, seorang muslim perlu membangun sikap positif dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang istimewa ini. Bahkan berdasarkan sebuah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ’alaih wa sallam, sejak dua bulan sebelum kedatangan Ramadhan, Beliau sudah Memanjatkan doa kepada Allah Ta’aala dalam rangka Tarhib Ramadhan atau welcoming Ramadhan.
Adalah Nabi Muhammad Shallallahu ’alaih wa sallam apabila memasuki bulan Rajab berdoa: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan berkahilah kami di bulan Ramadhan.” (HR Ahmad 2228)
Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan merupakan bulan ketujuh, kedelapan, dan kesembilan dari sistem kalender Hijriyah Ummat Islam. Hadits di atas seolah mengisyaratkan bahwa Nabi Shallallahu ’alaih wa sallam punya kebiasaan menyambut kedatangan Ramadhan bahkan dua bulan sebelum ia tiba. Artinya, Nabi Shallallahu ’alaih wa sallam ingin menggambarkan betapa istimewanya Ramadhan, sehingga dua bulan sebelumnya sepatutnya seorang Muslim sudah mulai mengkondisikan diri menyambut Ramadhan lewat do’a tersebut.
Bahkan memeriahkan penyambutannya pun bagi anak-anak muslim, juga merupakan hal yang sangat penting. Membangkitkan semangat dan nalurinya, untuk menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita, motivasinya dengan pemahaman yang benar dan dikelola dalam bentuk kegiatan yang meriah, penuh semangat dan makna. Memberikan pemahaman bahwa bulan Ramadhan, sebagai bulan yang spesial, karena adanya perintah Allah untuk wajibnya melaksanakan puasa selama sebulan penuh, disertai ibadah sunnah lainnya, dan berbagai amal Sholih. Dan semuanya itu menjadi ibadah yang nilai pahalanya berlipat ganda, bahkan mampu menjadi wasilah penghapusnya dosa-dosa kita, dan semua itu perlu diraih dengan keikhlasan dan keridhoan. Maka bentuk dan rangkailah segala ibadah dan amal sholih tersebut dengan kesadarannya.
Coba perhatikan beberapa hadits di bawah ini:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu katanya: Rasulullah Shallallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Syurga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu.” (HR Muslim 1793)
Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata: “Ada kemungkinan yang dimaksud adalah makna yang sebenarnya, dan yang demikian itu merupakan tanda bagi para malaikat akan masuknya bulan Ramadhan, penghormatan terhadapnya serta dicegahnya syetan untuk mengganggu kaum muslimin. Ada pula kemungkinan ini merupakan isyarat akan banyaknya pahala serta pengampunan dan berkurangnya gangguan syetan, sehingga mereka seperti orang-orang yang terbelenggu.”
Al-Qadhi Iyadh rahimahullah melanjutkan bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan ”pintu-pintu surga dibuka” adalah ungkapan bentuk-bentuk ketaatan yang Allah Ta’aala buka untuk hamba-hambaNya, dan yang demikian itu merupakan sebab-sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sedangkan yang dimaksud dengan ”pintu-pintu nerkaka ditutup” adalah ungkapan akan dipalingkannya keinginan untuk mengerjakan kemaksiatan yang menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Adapun kalimat ”syetan dibelenggu” merupakan ungkapan ketidakmampuan mereka untuk membuat tipu daya dan menghiasi syahwat.”
Jika demikian, mengapa kita masih melihat kejahatan dan maksiat di bulan Ramadhan? Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: ”…kemaksiatan itu disebabkan oleh sejumlah faktor selain syetan: seperti jiwa yang buruk, kebiasaan tidak baik dan syetan dari jenis manusia.” (Red. Ihsan Tandjung, 16 Sya’ban 1429 H)
Oleh karenanya, seberapa besar kebaikan akan diperoleh seseorang sangat bergantung kepada bagaimana orang itu sendiri menyikapi dan menyambut kedatangan Ramadhan. Bila ia sikapi dan sambut Ramadhan dengan suka cita, insyaAllah Ramadhan akan menjadi pembuka rahmat Allah Ta’ala dan pintu surga baginya.
Namun sebaliknya bila ia masih saja tidak peduli dengan kesucian Ramadhan, maka jangan harap ia akan bisa memperoleh kebaikan darinya. Sangat mungkin ia malah menjadi orang yang penuh kegusaran di bulan Ramadhan. Sebuah rasa gusar yang menghasilkan penyesalan di saat api neraka sudah terlihat di depan matanya.
Bersabda Rasulullah Shallallahu ’alaih wa sallam: “Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan para syaithan dibelenggu, maksudnya jin. Dan pintu-pintu neraka ditutup dan tak satupun yang dibuka dan pintu-pintu surga dibuka dan tak satupun yang ditutup. Lalu ada penyeru yang menyerukan: ”Wahai para pencari kebaikan, sambutlah (songsonglah) dan wahai para pencari kejahatan, tolaklah (hindarilah).” Dan Allah Ta’ala memiliki perisai dari api neraka. Dan yang demikian terjadi setiap malam.” (HR Tirmidzi 618)
Maka Ramadhan 1440 H ini, marilah kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memasukkan kita ke dalam golongan para pencari kebaikan di dalam bulan Ramadhan, bahkan sepanjang hayat. Maka, salah satu bentuk ketaatan kepada Allah Swt. adalah menaati seluruh perintah Allah Swt. dan meninggalkan seluruh laranganNya. Tidak ada kompromi terkait ketaatan kepada Allah. Alias harga mati.
Maka, ketaatan dalam seluruh aspek kehidupan akan menjadi cermin bagi seseorang apakah dia benar-benar menjadi hamba yang bertaqwa atau sebaliknya. Apakah benar-benar dia menjadikan Allah Swt. satu-satunya yang disembah, diikuti dan diibadahi atau ada tuhan-tuhan lainnya termasuk manusia dan hawa nafsunya. Menjadi muslim secara kaffah adalah satu keniscayaan manakala ingin mendapat Ridho dari Allah Swt.
Semoga Allah Ta’ala jauhkan kita dari golongan pencari kejahatan di bulan Ramadhan apalagi seumur hidup. “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan ini,” Aamiin, ya Rabb. Wallahu’alam bishshowab. (*)

Related posts