Agar Anak tidak Terserang Virus Negatif

  • Whatsapp

Oleh: Gita Aprilia
Mahasiswi Fakultas Hukum UBB/Anggota Kosada Babel

Remaja adalah usia yang sangat rentan terserang virus lingkungan sekitar. Sungguh sangat baik apabila virus yang menyerang merupakan virus positif, membawa remaja ke arah yang lebih baik, misalnya sekolah dan pulang sesuai jadwalnya, beribadah, belajar dan menonton televisi sewajarnya. Namun, bagaimana halnya jika virus yang menyerang merupakan virus negatif? Kali ini, Penulis membahas mengenai bahanya virus negatif pada remaja.
Tak asing lagi terdengar tentang Android yang 80 persen Penulis katakan bahwa semua remaja memilikinya, dan 60 persen diantaranya lebih banyak membuka konten – konten yang menyimpang dari pelajaran sekolahnya, seperti game yang membuat remaja lupa waktu belajar, bahkan shalat sekalipun. Game sangat tidak baik bila dimainkan terus menerus hingga bisa mengganggu aktivitas positif yang wajib dilakukan. Dengan menjadi gamer, Penulis katakan bahwa remaja lebih sering tidak mampu mengkontrolkan emosinya. Wahhh… sangat bahaya sekali bila hal ini dibiarkan, karena tidak menutup kemungkinan remaja akan menjadi korban.
Penulis katakan korban, karena remaja lebih mementingkan hal – hal yang tidak penting daripada mendengar perkataan orang tuanya. Tak sedikit pula remaja yang masih di bawah umur sudah menggunakan sepeda motor di jalan raya di tengah keramaian tanpa mengkhawatirkan keselamatan, sehingga tak takut berkeliaran tanpa SIM bahkan helm. Padahal sudah di atur jelas dalam Pasal 77 ayat 1 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009, bawa “setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki surat izin mengemudi ( SIM ) sesuai dengan janis kendaraan bermotor yang dikemudikan“. Dengan penuh kejelasan pada Undang – Undang tersebut, sudah menjelaskan syarat mengemudi. Tapi fakta lapangan terlihat semakin hari semakin marak remaja berkeliaraan di jalan raya, terutama di daerah – daerah luar perkotaan. Hal – hal seperti Penulis contohkan tersebut di atas sangat memerlukan pengawasan lebih oleh orang tua terhadap anak – anaknya, bahkan harus adanya kerja sama orang tua dengan pihak pemerintah dalam pengawasan intensif kepada remaja – remaja penerus bangsa. Misalnya membatasi jam keluar rumah remaja apabila malam hari, dan jika melewati batas akan dilakukan razia oleh aparat hukum di daerah masing – masing.
Hal – hal semacam itu dilakukan untuk menghindari adanya korban kenakalan remaja. Lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu, peran orang tua dalam menjaga anaknya harus lebih ditingkatkan agar anak tidak terserang virus negatif. Remaja hari ini adalah calon pemimpim hari besok di negeri ini. Akan apa jadinya negeri ini bila remaja – remajanya terserang virus lingkungan yang tidak baik, merekalah generasi penerus yang diharapkan sebagai pengganti Presiden, Gubernur, Bupati, Guru, Dosen, pengusaha dan banyak orang – orang hebat lainnya di hari besok. Maraknya kenakalan remaja bukan hanya di dunia gadget, mengendarai motor tanpa SIM, namun juga pacaran sesama mereka yang tampak sangat masih kecil. Hal ini sungguh tidak sehat lagi, mereka anak bangsa harus dilindungi, harus dijaga, agar tidak menjadi korban. Bukan hanya itu, tapi juga remaja yang sudah mengenal rokok bahkan kecanduan rokok yang pada dasarnya mereka masih kecil, belum bekerja dan masih menjadi tanggungan orang tuanya.
Pada akhir tulisan, Penulis menyimpulkan bahwa tidak akan terjadi hal – hal yang buruk dengan Negeri ini pada hari esok jika remaja – remaja hari ini dalam pengawasan yang ketat, dengan diberikan kasih sayang yang lebih lagi, serta yang terpenting diakrabkan dengan keluarga dengan cara diberi nasehat, dipupuki pembelajaran agama dan lain sebagainya. Karena pengaruh terbesar perkembangan seseorang ke arah yang lebih baik yaitu keluarganya sendiri yang paling ia kenal dalam hidupnya.
Izinkan Penulis menyelipkan sebuah kalimat mutiara yang tak indah dibaca, namun tersirat sejuta makna “remajaku hari ini adalah tonggak utama impian bangsaku hari esok, maka itu awasi mereka agar berakhlak mulia“. (***).

Related posts