Ada Surat Keterangan Aman Covid-19, Salat Berjamaah di Masjid Diperbolehkan

  • Whatsapp
Kepala Kantor Kemenag Bangka, Syaiful Zohri

RAKYATPOS.COM, SUNGAILIAT – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangka, Syaiful Zohri menyebutkan Masjid Agung akan menjadi masjid percontohan pertama di Kabupaten Bangka yang akan kembali melaksanakan salat berjamaah sesuai dengan Surat Edaran (SE) Menteri Agama No. 15 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Keagamaan di Masa Pandemi.

“Masjid Agung Sungailiat akan jadi contoh pertama dan sudah mengirimkan surat ke tim gugus guna pengecekan standar protap kesehatan Covid-19. Sudah kirim surat dan masih menunggu dari tim gugus,” kata Syaiful Zohri kepada wartawan, Rabu (3/6/2020).

Dia menerangkan sesuai SE Menteri Agama setiap masjid yang akan melaksanakan salat berjamaah harus memiliki surat keterangan rumah ibadah aman Covid-19 dari tim gugus wilayah.

“Jadi masjid yang akan menyelenggarakan salat berjamaah harus meminta surat keterangan bebas dulu dari tim gugus Covid-19 sesuai tingkatannya. Misalnya Masjid Agung Sungailiat ini harus ada surat dari tim gugus kabupaten karena masjid ini naungan kabupaten,” ungkapnya.

Baca Lainnya

Selain itu, pengurus mesjid yang sudah memiliki surat keterangan tersebut untuk tetap mengikuti aturan sesuai protap Covid-19 mulai dari jarak, penggunaan masker serta pemeriksaan suhu badan.

“Jarak antar jemaah nanti minimal satu meter, wajib membawa sajadah masing-masing, lansia dan anak-anak dianjurkan salat di rumah, melakukan penyemprotan (disinfektan-red) minimal dua hari sekali,” terang Syaiful.

Ia juga menambahkan jika ada suhu tubuh jamaah yang diatas normal maupun sedang sakit maka akan tidak dianjurkan untuk melakukan sholat berjamaah di mesjid.

“Kalau ada jemaah yang suhu tubuhnya tinggi, nanti akan di cek lagi sampai dua kali tapi jika masih tinggi juga maka dianjurkan untuk pulang,” tambahnya.

Jika ke depan terdapat jamaah yang terpapar virus Covid-19 maka surat dari gugus tugas itu akan langsung ditarik kembali sehingga tidak bisa boleh melakukan aktivitas keagamaannya.

“Aturan ini bukan hanya berlaku untuk masjid saja tapi semua tempat ibadah keagamaan lainnya. Selain itu setiap tempat ibadah harus memiliki petugas khusus, mungkin nanti dari tim kesehatan yang mengajarkannya,” katanya. (mla)

Related posts