Ada Setetes Airmata Bahagia

  • Whatsapp

Setiap bulan September tiba, sejuta keindahan terhampar dalam pikiran manusia. Setidaknya hujan akan datang menyapu kekeringan yang mendebui seluruh jagad raya.
Sorak sorai para petani berderai saat September tiba. Sementara para nelayan mulai gelisah mengingat setiap bulan September tiba, biasanya angin barat akan datang menghantam perahu mareka di lautan lepas.
Bagi Bunga, setiap bulan ke sembilan itu datang, lara selalu datang menghampirinya. Sejuta kenangan pahit kembali menghantui pikirannya. Bagaimana tidak di bulan yang yang selalu diidentikkan masyarakat sebagai bulan baik buat pernikahan, justru di bulan September dirinya harus menghapus kerinduannya melepas masa lajangnya dengan lelaki pilihan hatinya.
Lelaki yang telah membuahi sel telur dalam rahimnya kini entah kemana rimbanya. Padahal semua persiapan telah terjadwal dengan baik sesuai dengan tahapan yang telah keluarga mareka tetapkan.
” Insya Allah, awal September akan menjadi bulan baik bagi kalian berdua untuk menikah,” ujar Ibu Bunga kepada Bunga dan calon suaminya.
” Iya,nak. Berdasarkan perhitungan para kaum tua dulu, awal September tahun ini katanya memberikan sejuta rezeki bagi mareka yang ingin menikah,” sambung Ayah Bunga.
” Ah, Bapak dan Ibu bisa saja,” jawab Bunga.
” Bagi saya bulan apa pun tak masalah. Toh saya sangat mencintai Bunga,” ujar sang lelaki sembari matanya mengeling ke arah Bunga yang duduk di sampingnya dengan sorot mata mesra dan penuh arti.
” Walaupun bagi kalian kaum muda moderen hal itu mungkin tak begitu penting, bahkan mungkin dianggap kuno, tapi bagi kami hal itu masih berlaku. Semua itu kami lakukan untuk kebaikan kalian berdua juga menyongsong masa depan kalian,” papar Ayah Bunga dengan detail. Sementara Bunga dan calon suaminya terkagum-kagum mendengar narasi kuno dari ayahnya.

Malam itu, Bunga dan calon suaminya menghabiskan separoh malam di kamar Bunga yang mewangi dengan saling memuncratkan hasrat mareka sebagai manusia dewasa. walaupun belum resmi, namun janji yang terlontar dari calon suami membuat Bunga ikhlas memberikan tubuh indahnya untuk dilahap calon suaminya dengan dengus liarnya sebagai lelaki jantan hingga bunga berkali-kali harus menggelepar bak burung yang tertembak oleh sang pemburu.
” Terima kasih Bunga atas cintamu malam ini. Aku bahagia sekali,” ujar sang calon suami sambil mengecup kening Bunga yang masih berselimutkan keringat.
” Aku sangat mencintaimu, bang,” ujar Bunga dengan suara tersekat.

###
Bunga dan keluarga mulai berkeringat. Seluruh tubuh keluarga Bunga dibasahi keringat dingin. Bagaimana tidak, hingga hari pernikahan, lelaki itu belum menampak batang hidungnya. Tak ada tanda-tanda akan datang. Sementara handphone miliknya sudah seminggu tak pernah aktif. Sementara saat didatangi ke rumahnya, para tetangga cuma bilang bahwa lelaki yang mengontrak di rumah itu sudah seminggu minggat. Hari yang dinanti pun tiba. Sejuta harapan masih terharap dari kelurga Bunga. Sejuta doa terus mareka sampaikan. Namun seutas sinyal pun belum terlihat. Tak ada tanda-tanda kehadiran sang mempelai. Sejuta kegelisahan terus mendera keluarga Bunga. Dan saat hari yang dinantikan tiba, kekecawaanlah yang keluarga Bunga terima. lelaki itu tak menampakkan kelaki-lakiannya yang pernah ditandaskannya ke rahim bunga.

Seorang lelaki yang biasa dipanggil Timpas akhirnya menyelamatkan suasana sakral hari itu. Lelaki itu bersedia menikah dengan Bunga walaupun resikonya dirinya harus meninggalkan pekerjaannya di Kota.
” Saya sungguh-sungguh mencintai Bunga walaupun Bunga belum bisa mencintai saya sebagaimana dia mencintai lelaki yang belum tiba,” ujar Timpas dengan narasi patriotisme yang tinggi kepada keluarga Bunga.
” Apakah ananda bersedia menikahi anak kami dengan sungguh-sungguh,” tanya keluarga Bunga.
” Insya Allah, dengan doa dari Bapak dan Ibu saya siap lahir batin menikahi Bunga,” jawab Timpas dengan nada suara yang mantap.

Pernikahan Bunga dan Timpas pun terlaksana dengan sejuta duka cita. Sejuta bahagia tersembur dari wajah keluarga besar Bunga. Tak terkecuali Bunga yang hari itu sangat anggun dengan baju pengantinnya.

###
Bunga masih belum habis pikir. Bagaimana lelaki yang dulu ditolaknya kini bersedia untuk menikahinya dan menjadi suaminya. Lelaki yang sudah lama tinggal di Kota dan sukses menjadi seorang pekerja itu ikhlas menyelamatkan malu keluarganya. Lelaki yang dulu sempat ditolak keluarganya kini justru menjadi menantu bagi mareka. Suara musik dari orgen tunggal terdengar makin lirih. Suara penyanyinya pun sudah memudar di makan malam yang makin melarut. Sementara para penonton orgen di tunggal di rumahnya pun makin menipis. Hanya hitungan jari.Itupun kebanyakan keluarga besarnya yang datang dari Kampung yang datang menyemarakan pernikahannya.

Bunga kaget saat seorang mengetuk pintu kamarnya dengan ucapan Assamualaikum. Dan jantung Bunga hampir mau copot saat dibalik pintu terlihat wajah seorang lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya.
” Assalamualaikum dik Bunga. Bolehkan saya masuk,” sapanya dengan suara mantap.
” Waalaikumsalam. Silahkan Mas. Kamar ini milikmu. Dan aku adalah istrimu yang sah,” jawab Bunga dengan suara manja.
Degup jantung Bunga makin berdenyut kencang seiring kencangnya hasrat keduanya sebagai manusia dewasa saat secara perlahan lelaki itu menguliti tubuhnya hingga keduanya hanya berselimutkan nafsu menguncang ranjang malam dengan sejuta birahi yang telah lama terpendam. Suara derit ranjang yang ditingkahi jerit suara nafas bunga menjadi ornamen malam itu.

Dikejauhan suara lolongan anjing liar yang terus memburu mangsanya di hutan kecil dekat Kampung tak mampu halangi hasrat Bunga dan Timpas dalam menghias malam yang makin renta dengan rasa cinta yang kini ada dalam jiwa mareka hingga keduanya terjerembab dalam satu desahan yang membara dalam satu ranjang yang sama dalam selimut yang sama hingga kokok ayam terdengar yang menyatakan bahwa pagi akan tiba yang akan disambut Bunga dengan sejuta kenikmatan dan menatap bumi dengan wajah sumringah sebagai seorang istri bagi lelaki istimewanya. Ya, dia adalah Timpas lelaki yang telah menyelamatkan martabat keluarganya.

Karya: Rusmin
Toboali, Bangka Selatan

Related posts