by

Ada Pendosa di Malam yang Bening

-Cerpen-508 views

Karya: Rusmin

Malam ini, ada aroma alam raya yang amat teduh. Bintang mencahayakan dirinya dengan penuh kebahagian. Cahayanya mengitari bumi dengan amat tulus. Senada dengan rembulan yang bersinar sepenuh jiwa. Menerangi jagad raya, tempat umat manusia berkumpul dengan keiklasan hati. Angin pun berdesisi dengan sepoinya. Terlahir sebuah ketakjuban malam yang amat menenangkan jiwa dan raga penghuni bumi. Sebuah malam yang amat bening dan menyejuk nurani. Mententeramkan nurani. Kedamaian pun lahir.
Lelaki itu pun ikut merasakannya beningnya malam ini. Sangat merasakannya. Sangat dirasakannya. Kebeningan malam merasuk hingga ke tulang raganya yang kuat. Ada sesuatu yang menyentuh sekujur tubuh tegapnya. Malam ini seolah menyiram sekujur badannya dengan cahaya. Jiwanya amat tenang. Bak gelombang dilautan yang tenang menemani para nelayan di laut lepas menjaring ikan yang menari-nari di dasar lautan dalam. Seolah gelombang membiarkan nelayan menikmati biota laut yang mulai kotor ulah nelayan asing yang ingin merampas isi laut negeri ini hingga patut ditenggelamkan.
Lelaki berbadan tegap yang sekujur tubuhnya itu dihiasi ornamen gambar tato seolah merasakan sesuatu pada malam ini, yang belum pernah dia nikmati hingga usia ke lima puluhtahunnya. Suatu malam yang amat damai. Suatu malam yang amat mententramkan jiwa. Suatu malam yang amat dirindukan semua manusia di bumi.
“Apakah malam ini, malam…,” ujarnya dengan suara yang terputus.
Sekonyong-konyong, lelaki itu bergerak cepat. Nalurinya menangkap sesuatu. Langkahnya bergegas. Bak cahaya kilat. Kakinya berjalan amat kencang. Dalam hitungan menit, dia sudah tiba di sebuah masjid. Lelaki itu langsung berwudhu. Mensucikan seluruh anggota badannya. Nikmatnya air wudhu mengalir dalam tubuhnya. Serasa amat damai. Amat damai yang belum pernah dia rasakan selama ini. Lelaki itu melangkah ke dalam masjid. Untuk segera sholat. Tunduk pada Sang Maha Kuasa. Memohon ampun dengan sepenuh hati. Menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Sang Maha Pencipta. Ada rasa sesal yang terobati.
Di Kota ini, lelaki itu amat dikenal. Sangat populer bak selebritis yang sering nongol di televisi. Tak ada yang tak tahu namanya. Tak seorang pun penghuni Kota ini yang tak kenal dirinya. Dari semua golongan dan kasta. Mulai dari anak-anak hingga kaum tua bangka sangat mengenal namanya. Semua penduduk kota mengenalnya.
Ya, siapa yang tak kenal dengan Matbewok. Pembunuh berdarah dingin. Lintah darah. Penagih utang dan sederet julukan negatif lainnya melekat pada dirinya. Pemimpin kelompok begal yang sangat ditakuti. Sangat disegani kawan dan lawan. Aksinya terkenal amat sadis dan beringas.
Bersama kelompoknya, Kelompok Aek Jaek, Matbewok, nama yang sungguh menakutkan. Setiap masalah yang diserahkan kepadanya selalu tuntas dan memakan korban jiwa.
“Tak ada yang tak tuntas dengan kami,” ujarnya penuh promosi kepada mereka yang meminta bantuannya dengan senyum penuh kemenangan. “Dan kalau tak tuntas, bukan Matbewok dan kelompok Aek Jaek,” sambungnya yang dilanjutkan dengan derai tawa menggelenggar hingga ke angkasa yang kadang kala membuat gigil sang peminta bantuan.
Kali ini, Matbewok menerima orderan untuk penggusuran tanah wakaf yang telah dikelola menjadi sebuah masjid. Ya, sebuah masjid yang dipimpin H. Yusuf yang biasa dipanggil Pak Haji oleh penduduk Kota. Seorang tokoh agama yang amat rendah hati dan tawadhu. Seorang guru ngaji yang berlaku amat sederhana dan penuh sopan santun. Tak merasa dirinya sebagai orang yang ahli agama.
“Saya dan kita semua sama di hadapan Allah SWT,” ujarnya pada jemaah masjid.
“Saya juga manusia biasa yang tak luput dari kehilafan sebagai manusia yang lemah. Dan kita wajib saling mengingatkan sesama manusia,” lanjutnya dengan suara penuh kesantunan yang membuat para jemaah amat rindu dengan petuahnya.
Belum usai Pak Haji memberikan tausyahnya kepada para jemaah masjid usai sholat tarawih, tiba-tiba terdengar terikan serbu dari beberapa orang. Mereka langsung masuk kedalam masjid yang masih dipenuhi jemaah. Para jemaah tampak ketakutan. Beberapa jemaah mulai menyingkir dari dalam masjid. Maklum yang datang Matbewok dan kelompoknya.
“Siapa yang namanya Pak Haji?” teriak seorang dari beberapa orang yang berbadan tegap itu dengan nada suara penuh gertakan.
“Mana orangnya? Saya Matbewok ingin ketemu,” lanjut Matbewok.
“Assamualaikum,” jawab Pak Haji memberi salam sambil berdiri untuk menemui lelaki yang berteriak tadi.
“Masya Allah, Bang Matbewok sudah menginjakkan kakinya ke dalam masjid ini. Terima kasih Ya, Allah. Kami amat bersyukur Abang sudah datang ke masjid ini untuk menemui Sang Maha Pencipta,” lanjut Pak Haji dengan suara yang amat santun dan menyejukkan.
Tapi tidak dengan wajah Matbewok. Sinar matanya seolah menyiratkan sebuah kegeraman yang tak terperikan.
“Dengar ya Pak Haji. Saya datang ke masjid ini bukan mau menemui Tuhan. Bukan sama sekali. Saya mau ketemu Pak Haji,” kata Matbewok dengan nada suara yang amat keras dan bernada sombong.
“Bang Matbewok yang baik hati. Setiap orang yang datang ke masjid ini, tujuannya cuma satu. Menghadap Allah. Bersujud kepada Nya sebagai Sang Maha Pencipta alam ini. Dan saya sungguh amat yakin, Bang Matbewok dan teman-temannya datang ke masjid ini pasti berniat untuk menemui Allah. Pasti berniat bersujud kepada Nya sebagai penguasa alam ini,” jawab Pak Haji dengan suara yang amat tenang.
Dan lelaki yang malam ini datang tergesa-gesa ke masjid itu adalah Matbewok. Suaranya amat tertatih-tatih memohon ampun kepada Sang Maha Pencipta. Air matanya tumpah ruah mengaliri ubin masjid.
“Ya, Allah Yang Maha Pengampun. Ampunilah dosa hambamu yang lemah ini. Ampuni Ya, Allah,” ujarnya dengan nada suara tersedu berbalut penyesalan.
Cahaya langit pun tertegun mendengar suara itu. Kebahagian menghiasi alam raya. Malam semakin merentah. Matbewok masih tetap berdiam diri dalam masjid dengan seribu doanya yang memohon ampun kepada Sang Maha Penguasa alam raya. (***)

Comment

BERITA TERBARU