by

Ada Orang Bugil Di Kampung Kami

-Cerpen-512 views

Karya: Rusmin

Ada orang bugil. Ada orang bugil,” teriak seorang warga sambil menunjukkan tangan ke satu arah.
” Orang bugil? ” tanya seorang warga lainnya dengan penuh keheranan. ” Kok ada orang mau bugil di muka umum,” pikirnya.
” Iya,” jelas warga itu kembali.
” Dimana kamu lihat orang bugil itu,” selidik warga itu dengan rasa penasaran.
” Diwarung Mpok Iyem. Saat saya mau beli kopi,” jelas warga itu kembali.
Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, beberapa warga yang mendengar berita itu, langsung menuju warung Mpok Iyem yang ditujukan warga tadi. Namun saat mareka tiba di warung Mpok Iyem, sepi. Hening. Tak ada aktifitas sama sekali. Apalagi orang yang katanya bugil. Bahkan warung Mpok Iyem sudah tutup. Maklum waktu sudah menunjukan pukul 12.00 malam.
___

Berita adanya orang bugil di kampung kami langsung menjadi trending topik para warga. Semua warga membicarakannya kisah orang bugil tanpa terkecuali. Tua dan muda, lelaki dan perempuan menjadikan narasi orang bugil sebagai cerita terkini. Mareka seolah amat bergembira kalau bicara soal orang bugil. Seolah-olah dengan membicarakan orang bugil itu mareka bisa bahagia. Terlepas dari himpitan ekonomi yang kian merongrong. Dengan membicarakan orang bugil, para warga seolah terlepas dari himpitan harga-harga barang yang mulai naik. Setidaknya untuk sementara waktu ini.

Berita orang bugil telah sampai ke telinga warga kampung. Mareka, terutama para ibu telah bersepakat untuk mencari tahu siapa orang yang berbugil ria di kampung mareka. Mareka, kaum ibu-ibu itu ingin bertemu, lalu menasehatinya. Dan kalau tak mempan, ya terpaksa dengan cara keras. Kalau perlu mengusir orang yang berbugil ria itu yang dianggap bisa menjadi elemen penggangu stabilitas rumah tangga mareka.

” Kita harus waspada. Jangan sampai para suami kita tergoda dan kelayapan malam-malam hanya untuk melihat aksi tak senonoh itu,” ujar Ibu Kades memompa semangat para ibu-ibu kampung.

” Setuju Bu Kades. Terlalu riskan kalau kita membiarkan orang bugil itu masuk ke kampung kita. Bisa berabe kita,’ sambung ibu yang lainnya.

” Bisa-bisa program KB gagal,” sahut ibu yang lain yang langsung disambut dengan tawa para Ibu-ibu yang berkumpul.

___

Dipimpin Ibu Kades mareka datang ke Kantor Desa. Langkah rombongan Ibu-ibu itu sangat cepat. Dan hanya dalam tempo tak sampai setengah jam, mareka sudah tiba di halaman Kantor desa. Pak Kades kaget dengan kedatangan rombongan Ibu-ibu. Apalagi istrinya hadir di baris paling depan dalam rombongan Ibu-ibu ini. Sejuta tanya menggelayut dalam pikiran pak Kades. ” Ada apa lagi ini,” desisnya dalam hati.

Belum sempat menjawab pertanyaan dalam hatinya, Pak Kades dikejutkan dengan suara lantang istrinya yang berorasi didepannya. Mirip-mirip dengan aksi massa yang sering dilihatnya di tipi.

” Pak Kades. Saya atas nama Ibu-ibu Kampung meminta Pak Kades untuk mengantisipasi masuknya orang bugil ke kampung kita karena bisa membahayakan stabilitas rumah tangga dan tentunya soal ranjang,” ucap Ibu Kades dengan nada suara yang lantang yang diringi dengan tepuk tangan para ibu-ibu pendukungnya.

” Benar sekali Pak Kades. Kalau ini tak diantisipasi maka akan terjadi keributan besar di kampung ini,” sela ibu yang lain. Masih dengan nada penuh emosional. Tepuk tangan kembali menggemuruh.

” Kami minta Pak Kades segera membentuk tim untuk mengantisipasi datang orang bugil ke Kampung Kita,’ sambung ibu yang lain.

” Setuju,’ koor Ibu-ibu itu bergema hinnga ke angkasa yang tinggi.

Pak Kades terdiam. Wajahnya memandangi para Ibu-ibu. Tampak oleh Pak Kades wajah-wajah gelisah memancar dari wajah Ibu-ibu rumah tangga ini.

” Aspirasi Ibu-ibu saya terima. Dan saya akan rapat bersama dengan perangkat Desa dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya untuk mencari solusi terbaiknya agar orang bugil tak invasi ke Kampung kita sekaligus saya akan membentuk tim guna mengantisipasi masuknya orang bugil ke kampung kita,” jelas Pak Kades menenangkan ibu-ibu rumah tangga itu.

” Dan yang paling penting ini momentum ini jangan disalahgunakan untuk kepentingan para warga, terutama kaum pria. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan,” ujar Ibu Kades sembari matanya melirik ke Pak Kades. Pemimpin desa itu hanya terdiam. Dia tahu istrinya sedang menyindir dirinya yang pernah kepergok sedang berada di rumah seorang janda dengan alasan menyelamatkan janda tersebut dari amukan massa.

___

Sudah seminggu berita orang bugil masih berseliweran di masyarakat. Setiap hari cerita orang bugil masih menghiasi cerita kaum Ibu-ibu. Tiada hari tanpa narasi orang bugil. Mareka kaum ibu-ibu makin cemas karena hingga hari ke tujuh belum juga ada tanda-tanda tim yang dibentuk Pak Kades berhasil menangkap orang bugil itu. Padahal semua kekuatan sudah dikerahkan. Mulai dari membuat Pos di perbatasan desa hingga memperkuat personil pengamanan di Pos-pos ronda. Seluruh energi warga terkuras siang dan malam untuk menangkap orang bugil. Bahkan para ibu-ibu relah suaminya tidak tidur di rumah untuk meronda. Mareka para ibu-ibu ikhlas para suaminya tidak bekerja. Yang penting orang bugil itu harus ditangkap karena akan menggangu stabilitas rumah tangga.

Pak Kades sudah kehilangan akalnya. Apalagi deadline yang diberikan para ibu-ibu masih terhitung hari lagi. Bisa-bisa terjadi perang kedua di rumah tangga para warga. Pak Kades mengusap kepala botaknya. ” Ada-ada saja tingkah laku orang nih,” pikir Pak Kades. ” Menyusahkan orang ramai,” desisnya dalam hati.

Saat Pak Kades sedang berpikir keras dalam mencari solusi bagaimana cara menangkap orang bugil itu, tiba-tiba pintu kerjanya di ketok. Dari luar terdengar suara yang sangat dikenalnya. Suara istrinya. Pak Kades tersentak. ” Ada apa lagi ini,’ gumamnya.

Pintu ruang kerjanya terbuka. Tampaknya olehnya wajah istrinya dan beberapa ibu-ibu lainnya yang melakukan aksi massa di halaman kantornya. Wajah mareka berseri-seri. Ada sejuta kegembiraan yang terpancar dari raut muka para ibu-ibu itu. Terutama wajah istrinya. Ada guratan kebahagian yang tak terperikan yang tergambar dari wajah istrinya yang telah memberinya anak dan cucu itu.

” Pak Kades. Mohon maaf sebelumnya,” ujar istrinya membuka percakapan.

” Soal apa Bu,” tanya Pak Kades dengan wajah penuh kebingungan. ” Apakah orang bugil itu sudah tertangkap,” lanjutnya sambil matanya menatap para ibu-ibu yang ada diruangan kerjanya.

” Belum sih Pak Kades. Ternyata berita tentang orang bugil itu bukan di Kampung kita, Pak,” ungkap Ibu Kades dengan nada manja.

” Maksudnya,? tanya Pak Kades dengan amat kebingungan.

” Itu rupanya berita di tipi Pak. Kejadiannya di Kota. Bukan di kampung kita,” jelas Ibu dalam ruangan itu dengan nada suara lemah lembut berbalut penuh penyesalan. Mendengar penjelasan istrinya dan ibu dalam ruangan itu, Pak Kades terdiam. Tubuhnya langsung lemas. Pikirannya melayang. Tak ada lagi alasan dirinya untuk pulang malam. Padahal malam ini dia sudah berjanji mau mengajak janda di Dusun sebelah yang sudah dikencaninya selama seminggu ini mau nonton pertunjukan musik di Kecamatan. Artisnya dari Ibukota yang memiliki goyangan maut.

Comment

BERITA TERBARU