by

Ada Merah Putih di Rumah Pejuang Tua

-Cerpen-243 views

Karya: Rusmin

Setiap tanggal 17 Agustus tiba. Lelaki tua yang akrab dipanggil Pak Tua oleh warga kampungnya selalu sumringah. Bak menyambut lebaran tiba. Pagi-pagi usai sholat subuh di masjid, bendera Merah Putih telah dikibarkannya di halaman rumahnya yang tak bercat. Rumah Pak Tua yang terletak di ujung kampung, adalah rumah pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih pada hari yang sakral itu.
“Zaman sebelum kemerdekaan itu mengibarkan bendera merah putih berarti mati,” cerita Pak Tua kepada warga kampung yang sering menemuinya. “Tak ada yang berani memasang bendera pusaka itu,” lanjutnya sembari menghirup kopi.
Matanya menerawang jauh. Jauh sekali. Naluri heroiknya kembali berkibar dalam dadanya. Pikirannya jauh ke masa lalu. Dengan semangat bambu runcing dan ingin lepas dari cengkraman gairah purba penjajah yang ingin mengekploitasi tanah tumpah, Pak Tua bersama puluhan pemuda kampung lainnya dengan gagah berani dan tulus ikhlas bertempur ke medan perang untuk mengusir penjajah dari bumi Ibu Pertiwi.
Biasanya, Pak Tua mengikuti peringatan Hari Kemerdekaan di lapangan kecamatan. Hampir setiap tahun lelaki tua itu menghadiri acara penaikan Sang Saka Merah Putih di lapangan kecamatan. Tapi kali ini Pak Tua ingin mengikuti upacara di kampungnya bersama warga kampung.
“Sekaligus saya ingin mengenang masa pertama kali, kami para pejuang di sini mengadakan upacara bendera di kampung ini. Mengibarkan bendera Merah Putih di sini. Tepat tanggal 17 Agustus,” jawabnya saat ditanya kenapa tak upacara di kecamatan.
Bagi warga kampung, Pak Tua bukan hanya sekedar pejuang. Pak Tua adalah pendiri kampung. Mereka menganggap Pak Tua adalah sesepuh kampung yang wajib dihormati. Walaupun Pak Tua enggan menerima perlakuan istimewa dari warga kampung. Pak Tua tak pernah meminta-minta balas jasa. Tak pernah sama sekali. Banyak yang ingin membantu Pak Tua di masa sisa hidupnya. Namun tawaran bantuan itu selalu menemui jalan buntu. Selalu ditolak dengan sejuta alasan.
“Alhamdulillah sekarang saya sangat bahagia. Sangat bahagia dengan kehidupan ini. Sudah cukup. Bahkan terasa sangat cukup sekali. Sekarang saya sedang mempersiapkan bekal saya untuk di akherat nanti. Kan tidak mungkin saya hidup selamanya di dunia ini,” jawabnya setiap ada pihak yang ingin membantunya.
Rumah yang ditempati Pak Tua sebenarnya jauh dari layak untuk ditempati. Beberapa bagian rumah sudah banyak yang rapuh dimakan usia. Demikian pula dengan kekuatan rumah, sudah tak patut untuk dihuni. Belum lagi warna rumah yang tak berwarna karena tak pernah menerima asupan cat dari kuas.
Sebenarnya sudah pernah ada ide dari warga kampung untuk merenovasi rumah yang ditempati Pak Tua. Sudah beberapakali warga membujuk untuk memperbaiki rumah itu. Bahkan teramat sering lontaran itu digaungkan warga. Namun selalu gagal. Selalu saja gagasan mulia para warga ditolak Pak Tua. Setiap warga hendak menyampaikan gagasan renovasi, Pak Tua kembali menolak. Alasannya rumah yang ditempatinya sekarang adalah markas pejuang dulu yang wajib dijaganya dengan sekuat jiwa sebagaimana amanat para rekan seperjuangannya dulu.
“Rumah ini dulunya markas pejuang. Di rumah ini kami berkumpul. Di rumah ini strategi perang melawan musuh kami rencanakan. Maka rumah ini wajib saya jaga sekuat jiwa,” terangnya yang membuat warga mundur teratur dengan ide mereka.
“Dan saya tak mau rumah ini direnovasi karena rumah ini adalah saksi sejarah hidup perjuangan para pejuang di kampung ini dalam menumpas penjajah dari bumi pertiwi ini,” lanjutnya dengan narasi yang heroik.
“Tapi Pak Tua, rumah ini sudah lama. Usianya mungkin sudah ratusan tahun. Dari sisi konstruksi sangat membahayakan jiwa penghuninya,” bujuk seorang warga yang berprofesi sebagai pemborong bangunan rumah.
“Mohon maaf Bapak-bapak. Kami para pejuang sudah terbiasa hidup dalam suasana seperti ini. Bahkan hidup dalam kondisi bahaya pun sudah kami rasakan. Kami sudah terbiasa. Sudah tertempa sejak zaman merebut kemerdekaan. Dan terima kasih tak terhingga buat Bapak-bapak semua yang telah berniat baik untuk membantu saya. Semoga niat baik kalian semua mendapat balasan Allah,” jawab Pak Tua.
Para warga hanya menelan ludah mendengar jawaban Pak Tua. Tak mampu lumatkan jiwa lelaki tua itu. Tak mampu. Sejuta narasi yang warga hamburkan ke udara bebas dengan dibaluti kebaikan yang tulus ikhlas tak mampu luluhkan hati Pak Tua. Sang Pejuang Tua yang tak pernah mengeksploitasi sejarah hidupnya untuk kepentingan dirinya pribadi.
Pagi ini, matahari baru saja terbangun dari mimpi panjangnya yang indah. Mimpi bertemu rembulan malam yang cantik dengan disaksikan kerlap-kerlip bintang yang iri melihat mereka bersenda gurau diangkasa luas yang membiru. Matahari tampak enggan terbangun. Sangat enggan sekali. Cahayanya pun bersinar amat redup. Tak segarang biasanya. Menyinari bumi dengan sinar paginya yang hangat. Menterang benderangkan bumi.
Rumah Pak Tua masih terkunci rapat. Lampu di teras rumah masih menyala. Sementara matahari sudah mulai hadir dengan sejuta sinarnya. Kibaran bendera Merah Putih pun tak terlihat di halaman rumah pejuang tua itu. Biasanya, setiap 17 Agustus, bendera Merah Putih sudah berkibar di tiang bendera di halaman rumahnya sejak Pak Tua pulang dari masjid usai menunaikan Sholat Subuh.
Melihat tanda-tanda tak biasanya di rumah Pak Tua, sejumlah warga mulai curiga. Sejuta tanda kekhawatiran muncul dalam benak mereka. Ada apa dengan Pak Tua? Apakah Pak Tua ke kecamatan untuk mengikuti detik-detik peringatan kemerdekaan di sana? Lantas, siapa yang mengantar Pak Tua ke kecamatan? Bukankah subuh tadi Pak Tua tak terlihat di masjid? Demikian yang ada dalam pikiran warga kampung.
Sejuta tanya terus bergulir dalam otak para warga. Usai berembuk dengan kepala kampung, warga bergegas menuju rumah Pak Tua. Mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan pejuang tua itu. Sejuta tanya terus bergejolak dalam otak warga sembari bergegas menuju rumah Pak Tua.
Rumah itu terkunci rapat. Tak ada tanda-tanda aktivitas di dalamnya. Panggilan Pak Tua terus digemakan para warga. Dari depan rumah. Dari samping rumah. Hingga ke bagian belakang rumah. Tak ada jawaban. Hening.
Dengan inisiatif bersama, para warga langsung mendobrak pintu depan rumah Pak Tua. Braak. Pintu depan terbuka. Hening. Sepi. Warga terkaget, saat memasuki ruang keluarga rumah. Tampak oleh mereka Pak Tua sedang bersujud di atas sajadah. Di sampingnya ada bendera Merah Putih.
Warga tersentak. Seorang warga yang bekerja di Puskesmas mendekat ke arah Pak Tua. Memegang lengannya. Sebuah gerakan tubuh sebagai tanda diberikannya. Suara Innalillahi Wa Innalillahi pun keluar dari mulut para warga. Bergemuruh. Isak tangis pun terdengar. Demikian pula dengan airmata warga tumpah di dalam rumah Pak Tua yang sangat sederhana sekali. Suasana terasa sangat sakral. Heningkan alam raya. Sementara di luar rumah Pak Tua, cahaya mentari redup. Seakan-akan enggan melimpahkan cahayanya ke bumi. (***)

Comment

BERITA TERBARU