Ada Lingkaran Setan di Lada Babel

  • Whatsapp
Wagub Babel menyerahkan dokumen Sistem Resi Gudang Syariah kepada petani lada yang menyimpan ladanya. (Foto: Nurul Kurniasih)

Resi Gudang Persempit Gerak Spekulan
Wagub: Tekad Kami Kembalikan Kejayaan Lada

Puding Besar – Wakil Gubernur (Wagub) Bangka Belitung (Babel), Abdul Fatah melaunching pergudangan pertama Sistem Resi Gudang (SRG) Syariah di Desa Puding Besar, Kabupaten Bangka, Rabu (22/11/2017). Sistem ini, diharapkan bisa memangkas mata rantai spekulan dan lingkaran setan yang selama ini manfaatkan petani lada untuk keuntungan sepihak.
Wagub mengungkapkan, fakta di lapangan membuktikan bahwa selama ini petani lada banyak didanai oleh para spekulan yang ingin mengambil keuntungan dengan memberikan biaya atau dana kepada petani untuk bertanam lada.
“Tekad kami ingin mengembalikan kejayaan lada. Kita semua tau untuk kembali ke kejayaan banyak hambatan dan tantangan, tapi tentu ada peluang yang harus kita laksanakan. Disini mengapa sebabnya pemerintah mengambil kebijakan ini, dalam rangka melihat adanya suatu kekurangpercayaan dari petani pada waktu paska panen dan pra tanam, disini semuanya ada lingkaran setan, kalau tak bisa diurai akan terus berlangsung,” ungkapnya.
Oleh karena itu, petani lada di Bangka Belitung kata mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung ini wajib dilindungi dan masyarakat harus keluar dari lingkaran yang menjerat petani.
“Maka kita melihat tataran lain banyak hal yang bisa dilakukan untuk melindungi petani, kesempatan pasti terbuka,” ujarnya.
Ketidakberdayakan petani, lanjut Fatah disebabkan berbagai faktor. Mulai dari musim pra tanam hingga paska panen. Jika pada pra tanam ada kemudahan yang diberikan pengusaha informal, maka pelaku spekulan saat paska panen pasti menginginkan membeli harga murah.
“Ini gak boleh terjadi, masyarakat tak bisa memerdekakan dirinya dalam sistem. Pemprov ambil kebijakan menggudangkan lada, agar lada petani ini jangan langsung dijual setelah panen, bisa digudangkan,” tandasnya.
Dengan Resi Gudang inilah, kata dia bisa melindungi masyarakat petani dari ketidakberdayaan. Ketika lada petani masuk dalam gudang, maka petani akan mendapatkan informasi setiap hari terkait harga lada di pasaran, yang tentunya tidak bisa dipermainkan spekulan.
“Saya setuju informasi setiap hari harus diterima petani, bisa melalui radio atau anggota resi gudang yang mengirimkan langsung kepada petani setiap hari. Harus melakukan komunikasi per hari ke kontak pemilik resi gudang mengenai kondisi harga,” ingatnya.
Fatah meyakini, dengan SRG Syariah ini nantinya petani di Babel jauh lebih mendapatkan keuntungan dan sejahtera.
Sedangkan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Indonesia (Bappeti) Bahrul Khoiri mengatakan, dengan adanya resi gudang petani tak perlu menyimpan lada di bawah tempat tidur, yang kondisinya jelas tidak baik.
“Gudang ini lebih baik untuk menyimpan lada, akan dikelola PT BGR. Dengan menyimpan di sini bapak ibu dapat uang kredit, tak nunggu lagi, dan barang masih tetap punya bapak. Saat mau dijual bisa dijual dan dapatkan uangnya,” jelasnya.
Ia menyebutkan, lada di Babel karena suatu kesalahan sehingga harga menjadi tidak wajar. Bahkan berbanding terbalik dengan harga daging yang setiap lebaran mengalami kenaikan, sementara lada ketika menjelang liburan sekolah atau lebaran harganya justru cenderung turun.
“Pemerintah sudah siapkan perangkat, satu sudah ada sistem syariah. Dengan BUMN kita punya Rp100 M yang dapat dipinjamkan dengan bunga 3 persen. Ini merupakan konsep pemberdayaan petani untuk meningkatkan kesejahteraan,” tukasnya.
Bahrul meminta, agar nantinya petani mendapatkan harga terbaru lada setiap hari, sehingga petani yang sudah ingin menjual ladanya bisa menjual dengan harga terbaik.
“Yang penting ada informasi harga yang disampaikan setiap hari ke petani. Hari ini (kemarin-red) lada di pasar internasional Rp200 ribu/kilo, kira-kira 30 persen sekitar Rp80 ribu untuk harga di daerah. Kalau di harga Rp60 ribu itu terlalu rendah,” ucapnya.
Setiap hari, Bappeti menurutnya akan mengeluarkan harga internasional, tinggal dinas terkait yang mengelola data harga tersebut untuk dipublikasikan kepada petani, dan petani mempunyai kewenangan menahan atau menjual pada level harga tertentu.
Ketua Dewan Rempah Indonesia (DRI) Provinsi Babel, Bayodandari menyebutkan, untuk pergudangan perdana komoditas lada ini, telah ada dua petani yang mau menitipkan ladanya dalam resi gudang sebanyak 2,4 ton.
“Kita memang masih kekurangan gudang, diharapkan nanti setiap kecamatan idealnya terdapat satu gudang,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka, Kemas Arfani menyebutkan di Bangka luas tanaman lada cukup besar mencapai 4000 ha. Kalau di Provinsi Babel luas lada keseluruhan mencapai 49.000 ha (2016) dengan produksi 36.211 ton, tapi yang diekspor tidak sampai 7.000 ton.
“Kemana sisanya? Padahal barangnya ada tapi tak tercatat. Berarti namanya bukan dari Bangka, ini yang menjadi dilema kita sebagai produsen Muntok White Pepper,” tukasnya.
Padahal, lanjut Kemas, lada Babel, dalam eksentriknya tak ada yang sama. Rasa lada asal Babel juga berbeda dengan lada Vietnam dan India.
“Ini pola baru yang nantinya akan menguntungkan petani. Saya yakin petani di Bangka siap dan menunggu aplikasi Sistem Resi Gudang Syariah segera dilaksanakan, untuk menyiasati pola pasar,” pungkasnya.

Read More

BGR Dukung
Dilain pihak, pihak PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atau BGR yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penyedia jasa logistik, memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk komoditas lada di Provinsi Bangka Belitung. Hal tersebut ditandai dengan penggudangan perdana SRG lada di Desa Puding Besar, Kabupaten Bangka, Rabu kemarin (21/11/2017)
Direktur Operasional dan Pemasaran BGR, M. Taufik Hidayat menerangkan bahwa penerapan SRG untuk komoditas lada merupakan bentuk kerjasama antara BGR dengan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung.
“Sebenarnya SRG bukanlah hal yang baru. Namun dengan adanya SRG ini diharapkan dapat membantu petani untuk mendapatkan pendanaan,” jelas Taufik.
Lebih lanjut dijelaskan dia, dengan adanya SRG ini para petani lada di Provinsi Bangka Belitung dapat menggunakan resi yang diterbitkan untuk mendapatkan pinjaman di bank yang telah ditunjuk oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), sambil menunggu harga lada diposisi yang baik di pasar.
Sebagai BUMN penyedia jasa logistik, Taufik mengungkapkan bahwa dalam SRG tersebut BGR berperan sebagai pengelola gudang, sekaligus juga dapat berperan selaku pembina calon pengelola gudang. Sosialisasi tentang SRG untuk komoditas Lada tersebut telah dilakukan beberapa bulan terakhir oleh BGR bersama dengan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung kepada kepala-kepala desa, penyuluh pertanian lapangan, dan kelompok-kelompok tani.
“Kami berharap akan ada 21 gudang SRG untuk komoditas lada nantinya,” imbuh dia.
Taufik menjelaskan, dengan adanya SRG tersebut menunjukkan bahwa pemerintah bersama BUMN terus berusaha hadir untuk membantu memajukan perekonomian masyarakat.
“Kedepannya, perseroan berharap dapat terus memberikan kontribusi positif kepada pemangku kepentingan dan masyarakat sesuai dengan slogan BGR yakni Integrated Logistics Solution,” tutup Taufik. (nov/1)

Related posts