Ada Kuping Caplang

No comment 379 views

Karya: Rusmin

Malam makin menjauh. Cahaya rembulan temaram. Di depan sebuah rumah, tampak bayangan seorang wanita. Dia melongok ke kanan dan ke kiri. Seolah membaca situasi terkini. Dan dengan secepat kilat langkahnya langsung menuju rumah yang pintunya tiiba-tiba terkuak secara otomatis. Tanpa suara. Daun pintu pun tertutup rapat kembali. Kembali tak ada suara. Hening. Hanya terlihat cahaya temaramnya rembulan di langit yang menghias malam.
Lelaki yang mengintai sedari tadi baru tersadar, ketika semua sudah terjadi. Ketika perempuan itu sudah menyelinap ke dalam rumah Pak Janggut. Mungkin mereka sedang indehoy. Dan betapa nikmatnya Pak Janggut menjelajahi seluruh tubuh perempuan itu. Tubuh perempuan yang amat bahenol. Ya, seorang perempuan muda yang terkenal dengan goyangan paku. Perempuan itu akrab dipanggil Mbak Dayang oleh para warga Kampung. Perempuan muda yang menjadi idola kaum adam di kampung Kocar Kacir.
Mata lelaki itu menatap rumah Pak Janggut dengan tajam sekali. Bak mata liar seekor kucing yang akan menangkap tikus got nan kotor. Degup jantung lelaki muda itu turun naik. Tak beraturan. Daun telinganya seolah menangkap sesuatu dari dalam kamar. Sesuatu yang amat romantis yang sering dilihat di konten smartphonenya dan membangkitkan gairahnya sebagai lelaki sejati.
“Iih, Bapak kok nakal sekali tangannya,” suara Mbak Dayang terdengar manja.
“Udah selesai ya?” tanya suara lelaki yang bersama Dayang dalam kamar.
“Belum ah. Masih belum kelihatan warnanya
“Makanya kenceng-kenceng kerokannya biar cepet merahnya keluar,” kata lelaki itu.
” Iya deh saya kencengin,” tukas Mbak Dayang.
“Aduh,” suara lelaki itu mengerang dengan keras sehingga terdengar kencang di kuping lelaki yang mengintai.
###
Esoknya Kampung gempar. Berita skandal memalukan yang terjadi antara Pak Janggut dengan biduanita seksi Dayang terungkap ke publik. Semua orang kampung membicarakan soal skandal dua insan manusia yang berlainan jenis tanpa ikatan perkawinan sah itu. Seolah-olah dengan membicarakan skandal itu mareka terlepas dari beban hidup yang melilit mereka. Seolah berita skandal seks itu memberikan ruang bagi mereka untuk sementara terhindar dari himpitan ekonomi yang mendera. Seolah-olah dengan membicarakan aib itu mereka untuk sementara waktu mampu menghindari dari kerasnya kehidupan yang makin ganas dan tak berperikemanusian. Seolah-olah ada interval waktu untuk tidak memikirkan nasib yang makin tak jelas ini.
“Saya sungguh tak percaya dan tak percaya. Mana mungkin seorang tokoh masyarakat, tokoh panutan Kampung kita melakukan perbuatan memalukan itu,” ujar seorang warga saat mereka brkumpul di pos ronda.
“Sama. Saya juga tak percaya. Tak percaya,” sambung warga yang lain.
“Jangan-jangan ini upaya untuk menjatuhkan nama baik Pak Janggut,” seliidik warga yang lainnya.
“Tapi nyatanya malam itu Mbak Dayang memang masuk ke rumah Pak Janggut,” sela warga lain.
“Dan ini buktinya,” lanjut warga itu sembari menunjukan sebuah foto dari smartphonenya. Dan dalam foto itu memang terlihat Dayang memasuki halaman rumah Pak Janggut.
Warga yang berkumpul di sekitar pos ronda terdiam. Tak ada yang bersuara. Semua terdiam. Kerumunan warga mulai terpecah belah ketika bedug azan Magrib telah terdengar. Saatnya waktu berbuka puasa.
###
Sudah tiga jam Semaun dan kawan-kawannya berada di halaman rumah Pak Janggut. Tepatnya usai sholat Taraweh tadi mereka sebagai peronda kampung kembali melakukan pengintaian secara langsung dan ingin memergoki pelaku skandal di kampung mereka. Apalagi Pak Kepala Kampung telah memerintahkan peronda untuk menangkap basah warga yang telah memalukan.
“Tangkap dan bawa ke kantor. Kita akan proses sesuai dengan aturan yang berlaku di negeri ini,” titah Pak Kepala Kampung.
Pintu belakang rumah Pak Janggut tiba-tiba terbuka. Sekilas tubuh seorang wanita keluar. Bola mata Semaun dan kawannya seolah tersedot dengan gerakan tubuh aduhai itu. Mereka cuma melongo menyaksikan bayangan hitam melangkah degan tergopoh menuju jalanan. Mereka berdua merasa sangat kecolongan. Mangsa yang sudah didepan mata gagal tertangkap tangan.
Mereka terus menguntit mangsanya. Langkah kaki tertatih-tatih. Tak bersuara sama sekali Hingga mereka menemukan areal yang luas dan jauh dari pemukiman untuk memberhentikan sasarannya.
“Hei, Dayang berhenti,” teriak Semaun dengan suara menyentak.
Yang dipanggil pun menoleh. Senyumnya amat menawan. Lekuk tubuhnya amat menggoda. Seksi sekali. Siapapun lelaki yang melihatnya pasti akan tergoda.
“Pak Hansip. Kok malam-malam menyetop saya?” tanya Dayang dengan suara manja.
“Kamu dari rumah Pak Janggut kan? Kamu main gila ya dengan lelaki tua bangka itu,” sergah Semaun.
“Kalian jangan asal main tuduh ya. Kalian bisa dihukum walaupun kalian aparat keamanan Kampung,” jawab Dayang.
” Kalau bukan main gila, apa lagi? Kok perempuan dengan lelaki bukan muhrimnya satu kamar malam-malam begini,” semprot rekan Semaun, Fandi.
“Beberapa malam yang lalu kamu juga berada di kamar Pak Janggut kan?” tanya Semaun lagi.
“Lho itu kan hak saya. Lagi pula apa hak kalian mengawasi aku? Apa aku maling? Koruptor? Kalian telah melanggar undang-undang dan hak azazi manusia. Kalian bisa ku adukan ke Komnas HAM perempuan,” sergah Dayang dengan wajah memerah.
“Sudahlah. Tak usah banyak alasan. Besok kalian dipanggil Pak Kepala Kampung di kantornya. Kalian akan disidang,” pesan Semaun dengan nada suara meluap-luap menahan emosi
“Siapa takut,” jawab primadona kampung itu sambil meninggalkan Semaun dan rekannya. Goyangan pinggulnya membuat Semaun dan kawannya bak terhipnotis. Hanya mulut mereka yang menganga. Sementara teriakan sahur, sahur dari masjid mulai terdengar. Bergemuruh menghias malam.
###

Pak Kepala Kampung baru saja mandi. Handuk masih melilit di tubuh tegapnya. Dia kaget setengah mati seketika melihat rombongan warga bergerombol di halaman rumahnya. Tampak pula dalam rombongan itu Dayang dan Pak Janggut.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Pak Kepala Kampung di depan rumahnya saat melihat rombongan warga datang dengan suara bergetar.
“Ini Pak Kepala Kampung. Orang yang telah mencemarkan nama baik kampung kita. Orang yang telah membuat aib di kampung kita. Dan orang yang telah menebar dosa pada saat bulan suci karena melakukan perzinahan. Karena harus dihukum seberat-beratnya,” ujar seorang perwakilan warga.
“Betul begitu?” tanya Pak Kepala Kampung kepada kedua orang yang berlainan jenis ini.
“Itu fitnah Pak. Fitnah. Fitnah,” jawab Dayang dengan nada suara penuh amarah.
“Kalian itu sungguh warga yang kurang ajar. Kok orang tua setua aku ini dituduh main gila dengan Dayang. Aku ini sudah tua bangka. Sudah tak mampu,” teriak Pak Janggut dengan nada suara penuh amarah.
Matanya tajam menatap warga yang bergerombol. Tak ada rasa takut sama sekali di nurani lelaki tua yang merupakan mantan pejaung ini.
“Udah, enggak usah bertele-tele. Ngaku saja biar cepat prosesnya,” teriak warga lain yang disambut dengan koor setuju dari warga lainnya.
“Demi Allah, Pak Kepala Kampung kami tak berzinah. Tak berzinah,” ujar Pak Janggut.
“Udah jangan banyak alasan,” jawab warga lain.
Pak Kepala Kampung menjadi kebingungan. Bukan bingung soal memutuskan persoalan itu. Sama sekali bukan. Yang dibingungkannya kalau saja Dayang membuka aibnya. Soalnya dirinya pernah mengencani primadona desa itu sebelum Dayang sering ke rumah Pak Janggut untuk membantu tokoh masyarakat itu yang memang sering sakit-sakitan. Bahkan putra Dayang semata wayang mirip dengan dirinya. Mirip dalam anantomi fisiknya, yakni kupingnya yang melebar. Orang kampung menyebutnya sebagai telinga Caplang.
“Jadi siapa sebenarnya yang mengencani Mbak Dayang? Mohon jujur. Ini kan bulan puasa, penuh rahmat,” sela Pak Pengulu yang tiba-tiba angkat bicara.
“Bukan Pak Janggut. Demi Allah bukan Pak Janggut. Beliau itu impoten,” jawab Dayang dengan suara tegas.
“Jadi siapa lelaki yang pernah mengencani Mbak Dayang sehingga punya anak,” selidik Pak Penghulu lagi.
“Pak Kepala Kampung,” jawab Dayang dengan suara yang amat tegas dan keras sehingga terdengar oleh jagad raya.
Mendengar pengakuan jujur Dayang itu, Pak Kepala Kampung langsung rebah di tanah. Diikuti oleh istrinya. Tersungkur di tanah halaman rumah mereka. Suasana di halaman rumah Pak Kepala Kampung riuh reda. Sereda tangis Dayang yang berjalan pulang bersama arakan awan-awan putih mengiringi jejak langkah kakinya menuju rumah. Sementara sinar mentari pun mulai beranjak pulang ke peraduan sebagai tanda senja tiba. (***)

No Response

Leave a reply "Ada Kuping Caplang"