by

Ada Koruptor Mati di Hari Kemerdekaan

Karya: Rusmin

Upacara perayaan Hari Kemerdekaan di Kampung Lilot, ricuh. Padahal, seluruh elemen masyarakat telah mempersiapkan perayaan itu jauh-jauh hari dengan perencanaan yang matang. Bermalam-malam panitia perayaan tujuhbelasagustusan Kampung Lilot rapat untuk melahirkan kegiatan yang semarak. Jadwal acara pun telah tersusun dengan rapi. Termasuk soal siapa yang akan hadir di panggung kehormatan bersama Pak Kades dan tokoh-tokoh masyarakat, serta tentunya para pejuang yang masih tersisa.
“Kursi di panggung kehormatan hanya diduduki mereka-mereka yang berjasa buat negara dan bangsa serta masyarakat kampung kita. Tak boleh ada yang lain,” kata Pak Bandot sebagai Ketua Panitia Hari Kemerdekaan.
“Setuju,” suara koor peserta rapat bergemuruh kencang hingga membangunkan kucing liar di pinggir hutan kampung yang sempat terlelap karena tak ada mangsa pada malam yang bening.
Kehadiran Pak Rakus pada kegiatan tujuhbelasagustusan adalah pangkal permasalahannya. Entah siapa yang mengundang, tiba-tiba lelaki yang dulunya merupakan pejabat tingi kabupaten itu hadir dan duduk di panggung kehormatan bersama undangan resmi lainnya. Lelaki berkulit putih yang baru saja keluar dari penjara karena kasus korupsi ini, tiba-tiba saja hadir di panggung kehormatan. Senyuman yang ditebarkannya ke seluruh penjuru, ditanggapi sinis oleh para warga yang hadir. Mereka kecewa dengan kehadiran lelaki yang selalu tampil klimis dan wajah tak berdosa itu. Bagaimana tidak, dimata warga Kampung Lilot, Pak Rakus bukan hanya menciderai nama kampung mereka, namun membuat warga susah karena menilep uang bantuan pemerintah untuk pembelian pupuk warga. Akibat ulahnya, warga gagal panen dan banyak menderita kerugian besar. Bahkan ada warga kampung yang meninggal gara-gara perbuatan purbanya itu. Tak pelak semua warga kampung memusuhinya.
Dan sejak kasus itu pula, warga Kampung Lilot sangat membenci Pak Rakus hingga ke tulang sum-sum nurani mereka. Berjuta-juta kebencian ditebarkan warga hingga membuat keluarga Pak Rakus pun harus pindah ke kampung lain.
“Tak ada sejengkal tanah pun untuk Pak Rakus dan keluarganya di kampung ini,” seru warga saat menggelar demo di Kantor Desa.
“Kami minta Pak Rakus dan keluarganya pindah dari kampung ini. Kami tak mau kampung kami tercemar dengan perbuaan purba itu,” seru orator demo.
“Ya, kami tak mau ada koruptor di kampung ini,” cetus warga lainnya yang ditimpali dengan koor setuju dari ratusan warga.

###

Kini dihari yang sangat sakral, lelaki yang sangat mereka benci justeru hadir di upacara Hari Kemerdekaan bangsa yang sangat sakral. Tak pelak sejuta mata para peserta upacara penaikkan bendera merah putih di lapangan sepakbola kampung mulai berdenyut keras. Ada seuntai pemberontakan batin dalam jiwa mereka. Sejuta tanya menggantung dalam nurani para warga.
“Siapa sih yang mengundang Pak Rakus ke acara yang sangat sakral ini,” bisik seorang undangan ke teman sebelahnya.
“Tidak tahu. Mungkin Pak Kades,” jawabnya mengira-ngira.
“Kok Pak Kades enggak bilang-bilang kalau mau ngundang dia,” ujarnya. Temannya hanya mengangkat bahu sebagai tanda tak mengerti.
Usai upcara penaikan Sang Saka Merah Putih ke tiang tertinggi, ditengah teriknya mentari pagi yang mulai menghangatkan seluruh tubuh peserta upacara, tiba-tiba Pak Kades naik ke podium.
“Saudara-saudara sekalian. Hari ini ada warga kita yang sudah kembali berbaur bersama kita setelah sekian lama beliau pergi,” kata Pak Kades dengan suara lantang bak orator partai yang sedang kampanye di panggung. Semua mata menatap tajam ke arah Pak Kades.
“Saya paham bahwa ada sejuta tanya di hati kalian semua mengapa Pak Rakus ada di panggung kehormatan ini. Saya mengerti perasaan saudara semuanya. Sangat mengerti,” lanjut Pak Kades yang diteriaki para warga dengan koor huuu yang panjang berbalut nada kecewa.
“Beliau hari ini telah bebas murni setelah mendapat remisi dan resmi kembali ke kampung kita dengan predikat warga biasa,” lanjut Pak Kades.
“Pak Kades, bagaimana dengan perjanjian kita para warga bahwa di kampung ini koruptor tak boleh tinggal di sini,” tanya seorang warga.
“Iya, Pak Kades. Apa dasarnya Pak Kades tiba-tiba tidak mentaati perjanjian kita dulu?” sambung warga yang lain dengan suara penuh emosional.
Pak Kades tersenyum mendengar pertanyaan sinis dari warganya.
“Pak Rakus tidak akan tinggal di sini. Tidak akan tinggal di kampung kita ini,” ujar Pak Kades.
“Lalu buat apa dia datang ke kampung kita dihari yang sakral ini?” tanya warga yang lain.
“Beliau hanya ingin menyampaikan permintaan maaf atas ulah purba dan kesalahan masa lalu beliau dulu. Dan sebagai warga kampung, sebagai manusia, kita wajib memaafkannya. Tidak perlu ada dendam mendendam diantara kita,” ujar Pak Kades.
Pak Rakus pun maju ke tengah podium dan mengambil mikrophone. Nada suaranya bergetar saat menyampaikan permintaan maaf di hadapan ratusan warga yang memadati lapangan sepakbola kampung.
Dan warga pun menjadi geger karena usai menyampaikan kata maafnya, Pak Rakus langsung tersungkur di atas podium. Suasana di atas panggung kehormatan kocar kacir. Kegemparan terjadi di atas panggung kehormatan. Orang-orang sibuk menyelamatkan Pak Rakus. Bantuan dari para medis yang hadir di atas panggung kehormatan tak mampu menolong. Pak Rakus dinyatakan meninggal.
Mentari makin meninggi. Sejumlah warga berduyun-duyun menghantar kepergian Pak Rakus ke pemakaman umum kampung. Ya, Pak Rakus telah kembali ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Senja telah mulai tiba. Jejak kaki warga mulai meninggalkan pemakaman umum. Hanya sepi yang mewarnai pemakaman umum kampung. Hening. Derai daun kamboja yang berada dalam areal pemakaman pun tak terdengar desisnya. Sepi menghantui areal pemakaman. Hanya sepasang burung hantu yang terlihat bertengger di atas pohn Kamboja. Sorot mata sepasang burung hantu itu amat tajam. Di kejauhan terlihat tulisan dibatu nisan. Telah dikuburkan seorang koruptor. Rakus Bin Tamak. (***)

Comment

BERITA TERBARU