Ada Duka dalam Sesendok Madu Macan

  • Whatsapp

Matahari baru saja terbenam dalam mimpi panjangnya. Sinar lembayung diufuk timur mulai memudar seiring datangnya seberkas cahaya rembulan yang mulai menyapa alam. Menerangi jaga raya dengan ikhlas. Sementara di sebuah rumah kontrakan, seorang lelaki baru saja terbangun dari mimpi panjangnya. Suara azan magrib bergema sangat religius. Seiring langkah lelaki itu menyeruput kopi sisa semalam yang masih ada dan terasa hampa bak jiwanya yang hampa dimakan pergulatan usia yang makin menua. Sebatang rokok klas murah disulutnya. Asapanya mulai membubung penuhi ruangan rumahnya yang sempit. Sesekali terdengar batuk kecil. Lelaki itu memandang sekitarnya. Tak ada suara. Sepi. Hanya suara Imam masjid yang sangat khusuk membacakan ayat-ayat suci dari mesjid yang tak jauh dari rumahnya. Lelaki itu terdiam. Jiwanya mulai teriris-iris. Tercabik-cabik. Lelaki itu sungguh tak menyangka. Amat tak menyangka. Sesendok madu macan telah menjungkalkannya dalam kehidupan yang tak terperikan. Jauh dari kehidupan hakiki sebagai manusia. Jauh dari keluarga. Bahkan teramat jauh dari kereligiusan sebagai manusia. Sesendok madu macan istilah sebuah minuman khas di arena hiburan di daerahnya. Minuman klas murahan itu yang berisikan campuran madu yang bisa membuat penikmatnya menjadi garang bak macan sehingga membuat malam yang bening menjelma menjadi malam yang sarat kesesatan nurani. Minuman madu macan diteteskan lewat sendok ke dalam gelas penikmatnya oleh seseorang wanita pekerja di ruang hiburan itu. Dan gara-gara ketagihan minuman madu macan telah mendamparkannya dalam kehidupan Kota yang amat ganas bahkan tak berperikemanusian. Lelaki itu terdampar dalam rimbunya beton-beton penghias Kota. Dan lelaki itu kalah ganas dalam rimba tak bertuan. Dia terpincang-pincang dalam rimba tak bernurani ini. ” Kita harus pindah ke Kota biar kita bisa menikmati kehangatan jiwa kita,” bujuk seorang wanita yang selama ini menjadi pelampiasan shawatnya dikala nurani dewasanya menggoda. ” Apa bekal kita di Kota,” tanya lelaki itu. ” Lho Mas kan masih punya tabungan dan tanah. Itu bekal kita di Kota,” lanjut wanita itu dengan manja. ” Bukankah kita disini tak ada yang tahu dengan hubungan kita? Tak ada yang perlu dikhawatirkan toh,” jawab lelaki itu. ” Aku cemburu Mas. Soalnya Mas masih saja pulang ke rumah,” rengek wanita itu dengan suara yang amat manja. Maklum suara penyanyi. Dan malam itu keduanya kembali menikmati indahnya malam yang amat bening sebagai malam kesesatan. ### Lelaki itu akhirnya tak mampu menghalangi hasrat wanita penyanyi itu untuk hijrah ke Kota. Dengan segumpal harapan menaklukan dunia Kota yang ganas, marka mulai mengarungi kenasnya aliran kehidupan di Kota. Kenikmatan masih terasa dalam sebulan pertama. Apalagi beberapa kali wanita itu masih sempat manggung di beberapa pertunjukan klas kawinan di di pinggiran Kota yang masih bersahabat dengan hijaunya sawah. Kota memang bukan tempat yang nyaman buat ambisi tak bertuan. Keinginan sang wanita untuk menjadi penyanyi dalam belantika musik Ibukota tak segampang membalik telapak tangan. Sejuta rintangan terus menghadang hingga keduanya terpuruk dalam kehidupan yang tak berperikemanusian. Dan lelaki itu harus menerima kenyataan ketika wanita itu pergi tanpa malu usai dirinya hidup di Kota tanpa pecahan rupiah. lelaki itu kini hidup sebatang kara di ganasnya Kota. Dan terkadang hanya airmata yang menetes dari dua bola matanya yang menjadi teman abadinya kini. Airmata yang hanya menghiasi ubin rumah kontrakannya yang mulai menghitam sehitam jiwanya yang mati. Lelaki itu tersentak ketika sebuah ketukan datang dari arah pintu depan rumahnya. Tergopoh-gopoh dia menuju pintu. Dan betapa kagetnya lelaki itu saat pintu terbuka seorang wanita cantik yang amat di kenalnya muncul. ” Mama,” serunya dengan nada amat kaget dan pelan. ” Mari pulang Mas. Anak-anak menunggumu,” sapa wanita cantik itu yang ternyata istinya. ” Aku malu Ma dengan anak-anak. Aku seorang bapak yang berdosa kepada mareka,” desis lelaki itu. ” Aku yakin mareka paham dan memaafkan Bapaknya yang tersesat,” ujar istrinya. ### Lelaki dan itrinya tiba di rumah saat azan subuh berkumandang dengan syahdunya mereligiuskan alam raya. Sapaan akrab dari beberapa warga yang hendak menuju masjid yang ditemuinya sepanjang jalan menuju rumah membuatnya sadar bahwa jalanya mulai terang seterang mentari yang telah terbangun dari mimpi panjang untuk segera menyinari penghuni alam dengan ikhlas. Ya, seikhlas istri dan anak-anaknya menerima dirinya kembali dalam ruang kehidupan usai dirinya tersesat lewat sesendok madu macan yang kini tak mengaum lagi bahkan telah lama dilupakannya.

Karya: Rusmin
Toboali, Bangka Selatan awal tahun 2017.

Related posts