by

Ada Baju Putih yang Tertinggal di Jemuran

Karya: Rusmin

Setiap mentari terbangun dari mimpi panjangnya, baju putih lengan panjang itu selalu hadir di jemuran. Seolah-olah baju putih itu menunggu siraman hangatnya sinar matahari yang hadir mencerahkan bumi dengan ikhlas.
Dan setiap mentari mulai menyinari alam raya, pemilik rumah selalu mendapati baju putih itu telah tergantung di jemuran samping rumahnya. Awalnya, pemilik rumah yang seorang perempuan tua kaget. Tapi lama-lama sang pemilik rumah jadi terbiasa. Sudah amat terbiasa. Demikian pula dengan para tetangga. Awalnya selalu menanyakan asal usul baju putih itu. Namun lama kelamaan, mereka seolah paham dan tidak pernah bertanya lagi tentang asal usul baju putih yang selalu hadir setiap mentari tiba. Warga Kampung seakan-akan mahfum atas kehadiran baju putih yang selalu tergantung di jemuran rumah perempuan tua itu.
Sebelum ditempati perempuan tua, rumah itu adalah milik seorang tokoh partai politik yang amat terkenal namanya. Wajahnya sudah tak asing. Hampir setiap hari wajahnya dapat dilihat di telepisi. Demikian juga komentarnya, dapat dibaca di koran. Hampir setiap hari pula. Dan masyarakat sekitar rumah memanggilnya dengan sebutan Pak Politisi.
Sebagai penghuni Kampung, Pak Politisi dikenal amat akrab dengan warganya. Hampir setiap waktu, dia selalu berkumpul dengan masyarakat, walaupun durasinya cuma dalam tempo 15 sampai 30 menit. Dan biasanya selalu saja ada buah tangan yang dia berikan kepada warga yang ditemui. Apakah di warung, atau pos ronda. Selalu ada-ada saja buah tangan yang dibawakannya untuk warga yang sedang berkumpul. Mulai dari kopi, rokok hingga kue untuk dinikmati. Warga selalu merindui kehadirannya saat mereka sedang berkumpul bersama.
Dan tak heran pula bila warga sangat terlindungi atas kehadiran Pak Politisi di kampung mereka. Terayomi. Jalan menuju kampung pun mulus. Dilapisi hotmix. Demikian pula dengan bantuan untuk masyarakat lemah selalu ada. Kehadiran Pak Politisi di kampung membuat bangunan sekolah menjadi apik. Puskesmas kini dilengkapi ruang rawat inap sehingga para warga tak perlu harus ke rumah sakit di kecamatan. Semuanya berkat Pak Politisi.
“Alhamdulillah, ya. Berkat kehadiran Pak Politisi disini kampung kita kini terlihat banyak kemajuan,” ungkap warga saat mereka berkumpul di pos ronda ujung kampung.
“Itu baru benar-benar politisi. Berjuang untuk rakyat. Bukan cuma sekedar cuap-cuap di televisi tapi rakyat tak merasakan narasinya,” jawab seorang warga yang lain.
“Seandainya, beliau jadi pemimpin barangkali kita sebagai rakyat makmur, ya,” celetuk yang lain.
Malam makin menjauh. Sejauh pikiran warga kampung yang menginginkan Pak Politisi menjadi pemimpin. Pemimpin sejati mereka, para kaum kecil. Desis angin malam mulai menerjang tubuh warga yang sedang patroli di pos ronda. Titik-titik embun mulai berjatuhan. Membasahi dedaunan.
Tiba-tiba warga kampung geger. Mereka tak menyangka obrolan dan hayalan mereka di pos ronda malam itu seolah akan menjadi kenyataan. Lewat televisi, mereka mendengar nama Pak Politisi digadang-gadang sebagai Calon Wakil Presiden. Semua warga kampung menyambut berita gembira di televisi itu dengan sukacita. Mereka bersyukur. Sejuta kebahagian terhampar di jiwa masyarakat kecil ini. Bahkan ada warga yang sujud syukur setelah mendengar langsung berita itu lewat layar kaca.
“Semoga berita itu jadi kenyataan, ya,” ujar warga kampung dengan nada penuh kegembiraan.
“Kita berdoa saja. Memohon kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Semoga Pak Politisi benar-benar menjadi Calon Wakil Presiden,” ujar seorang pemuka agama.
Malam itu kesibukan di rumah Pak Politisi mulai terlihat bahkan sangat ramai sekali. Sejak sore, para warga secara gotong royong sudah memasang tenda di halaman rumahnya yang asri. Kursi-kursi sudah tertata rapi. Berbagai mobil berklas dan berharga mahal hilir mudik menuju rumah Pak Politisi. Mereka adalah elite Parpol yang akan mengusung Pak Politisi sebagai Capres. Maklum menjelang masa pendaftaran Presiden dan Wakil Presiden, nama Pak Politisi terus disebut oleh para petinggi Parpol sebagai kandidat kuat pendamping Calon Presiden.
“Insha Allah, kami dari Parpol pengusung secara resmi sudah menyampaikan nama Pak Politisi sebagai Wakil Presiden kepada Calon Presiden,” ujar Sekretaris Parpol kepada para jurnalis yang menunggu di halaman rumah Pak Politisi.
“Nama calon Wakil Presiden sudah mengerucut kepada dua nama. Salah satunya nama Pak Politisi,” sambung elite Parpol yang lain.
“Soal siapa yang akan dipilih sebagai Calon Wakil Presiden, semuanya tergantung kepada Calon Presiden. Karena untuk menentukan Calon Wakil Presiden ada ditangan Calon Presiden,” ungkap Pengurus Parpol lainnya dengan wajah penuh teka teki.
Masyarakat pun kecipratan rezeki. Penjualan makanan di warung laku keras. Maklum mereka yang datang ke rumah Pak Politisi hingga dinihari. Kampung mereka bak pasar malam. Kampung yang dulunya tak ada dalam peta, kini mendadak menjadi buah bibir masyarakat. Bahkan sebuah media televisi membuat reportase khusus tentang dengan kampung itu.
Beberapa jam menjelang masa pendaftaran Presiden dan Wakil Presiden, tiba-tiba rumah Pak Politisi mendadak sepi. Lampu tak menyala saat malam. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah itu. Sepi. Sunyi. Tak berpenghuni. Pak Politisi dan keluarganya pun tak terlihat batang hidungnya.
Demikian pula ketika masa pendaftaran Presiden dan Wakil Presiden telah berakhir. Rumah itu kembali sunyi. Tak ada aktivitas kehidupan di dalam rumah yang megah itu. Apalagi sejak nama Pak Politisi hilang dalam kandidat calon Wakil Presiden. Rumah itu seolah tak berpenghuni. Warga sekitar hanya melihat selembar baju putih lengan panjang yang tergantung di jemuran samping rumah Pak Politisi ketika matahari pagi mulai menyapa penghuni bumi.
Matahari kembali terbangun dari mimpi panjangnya. Cahaya tulusnya menerangi bumi dengan penuh keikhlasan. Tak terkecuali menyinari baju putih lengan panjang yang selalu tergantung di jemuran samping rumah itu. Entah sampai kapan. (***)

Comment

BERITA TERBARU