Ada Apa di Perpustakaanku?

  • Whatsapp

Karya: Musda Quraitul Aini
Siswi SMPN 2 Tukak Sadai

Langit masih mendung seolah olah matahari enggan untuk menampakkan cahayanya. Sama seperti biasa tidak ada yang berubah dari hari ke hari. Seorang gadis memasuki gerbang sekolah. Windy seorang cewek cantik, baik dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Gadis itu mengamati seluruh sisi sekolah. Udara dingin seakan menusuk tulang rusuknya, ia memeluk tubuhnya sendiri sebagai tanda sangat kedinginan. Arloji di tangan masih menunjukan pukul 06.00. Windy sengaja datang lebih pagi karena orang tuanya akan pergi ke luar kota, sehingga mengantarnya pagi-pagi sekali ke sekolah.
Ia pun bergegas menuju kelasnya. Sesaat sampai ternyata kelas masih sepi dan belum ada murid yang datang. Ia berfikir untuk pergi ke perpustakaan, siapa tau perpustakaan sudah buka. Dan ternyata perpustakaan sudah buka karena Bu Desi telah datang dari tadi. Windy langsung masuk dan mengucapkan salam kepada Bu Desi dan mengambil sebuah novel terbaru di rak buku. Ia langsung duduk dan membaca novel Laskar Pelangi dengan santai. Saat sedang asyik membaca, tiba tiba ia mendengar suara ketukan rak buku di belakangnya. Ketika menoleh ia heran, tidak ada satu pun orang di situ. Windy kembali fokus kepada novelnya yang ia pegang. Tapi kembali terdengar suara ketukan rak buku di belakangnya namun kali ini ia menghiraukannya. Windy berfikir untuk meminjam buku itu dan membacanya dalam kelas.
Saat melewati lorong menuju kelas, Windy mendengar suara anak kecil menangis. Bulu kuduknya berdiri ketika mendengar suara tangisan itu semakin jelas. Karena takut, ia berlari sambil berteriak. Sampai di kelas ternyata sudah banyak murid yang datang. Teriakan itu membuat seisi kelas memperhatikannya.
“Eh…Win kenapa kamu berteriak?” tanya Yuli keheranan.
“Oh gak papa kok aku cuma iseng aja, hehehe…” tukas Windy.
“Iseng…. tapi kenapa kamu kelihatan takut gitu?” tanya Della penuh penasaran.
“Beneran, aku gak papa kok,” jawab Windy meyakinkan.
Obrolan mereka pun harus terhenti karena lonceng masuk telah berbunyi. Singkat waktu saat istirahat Yuli dan Della bertanya kepada Windy soal kenapa ia berteriak. Akhirnya Windy menceritakan semua kejadiaan tadi pagi. Tetapi Yuli dan Della tidak percaya. Mereka beranggapan mungkin itu hanya perasaannya saja. Tetapi Windy merasa itu bukan perasaannya tetapi kenyataan. Akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke perpustakaan itu keesokan harinya.
Windy, Della, dan Yuli sengaja berangkat pagi pagi ke sekolah untuk membuktikan perkataan Windy kemarin. Lalu mereka pergi ke perpustakaan. Alhamdullilah perpustakaan sudah terbuka karena Bu Desi telah datang. Mereka langsung masuk dan mengambil novel terbaru dan membacanya di kursi. Saat sedang asyik membaca, tiba tiba seperti ada angin yang menusuk ke tulang mereka. Kemudian bulu kuduk berdiri dan keringat dingin mulai bercucuran. Mereka saling pandang satu sama lain, sangat ketakutan. Seseorang anak kecil bermuka pucat pasi, lehernya tercabik cabik, badannya dipenuhi sayatan berlumuran darah dan di tangan kanannya memegang sebuah foto.
“To…long…pe…cah…kan..mis…teri..ini…” kata anak kecil itu sambil memberikan foto itu kepada Windy.
Windy pun mengambilnya dan memandangi foto itu. Saat Windy ingin berbicara tiba tiba saja anak itu menghilang. Dan mereka terkejut karena Buk Desi lanas mendatangi.
“He….ada apa dengan kalian kok kelihatanya ketakutan gitu…” tanya Buk Desi.
“Oh..gak papa kok, Buk,” jawab Windy meninggalkan Buk Desi
Mereka lalu saling bertanya kenapa anak itu memberikan foto itu dan meminta tolong memecahkan misteri ini. Windy berfikir untuk bertanya kepada Pak Samad mengenai masalah ini. Karena Pak Samad sudah lama tinggal di sini dan sudah pasti tau tentang masalah ini. Singkat waktu mereka menemukan Pak Samad dan memberikan foto yang diberikan anak kecil itu .
Sempat Pak Samad menolak untuk menceritakan semuanya. Tapi ketiganya memaksa dan akhirnya Pak Samad mau menceritakan semuanya. Ternyata anak yang ada di foto itu bernama Dini dan Dani.
“Mereka adalah Dini dan Dani, mereka meninggal sekitar dua tahun yang lalu. Tetapi saya tidak tahu kenapa mereka bisa meninggal secara tidak wajar. Di tubuh kedua anak itu terdapat luka sayatan, bekas cabik di lehernya dan gosip yang beredar anak itu meninggal karena disiksa oleh ibu tirinya, tanpa ampun. Pada waktu itu, pihak kepolisian membawa mayatnya ke ruang otopsi. Namun, keesokan harinya polisi tidak menemukan mayat kedua anak itu di ruang otopsi. Akhirnya polisi pun menghentikan pencarian tersebut karena kasus ini sangat aneh. Banyak orang bilang kalau Bu Tyas (guru Bahasa Indonesia) adalah ibu tiri dari kedua anak itu, tetapi saya tidak tahu apakah itu benar ,“ papar Pak Samad.
“Baiklah terima kasih untuk penjelasannya dan kami akan membuktikannya nanti malam. Tetapi gimana kita mau masuk ke perpustakaan kalau perpustakaannya dikunci?” tanya Della.
“Tenang nanti pulang sekolah saya berikan kunci serepnya,” ucap Pak Samad.
“Terima kasih Pak,” ujar Windy.
Singkat waktu mereka pun diberikan kunci serep oleh Pak Samad.
“Ingat…hati hati ya,“ pesannya.
“Baiklah Pak,” jawab Windy.
Pada malam hari mereka pun datang ke sekolah untuk menyelidiki kasus ini.
“Yang benar nih…kita mau selidikin malam ini,” ujar Yuli.
“Kenapa, kamu takut ya Yuli, hehehe,” ledek Della.
“Udah udah jangan berisik sekarang bantu aku untuk membuka kunci ini,” tukas Windy.
“Oke deh…” jawab Della dan Yuli.
Saat pintu perpustakaan dibuka, hawa dingin mulai menusuk ke tulang-tulang mereka. Aroma melati dan kemenyan pun sangat menyengat di hidung.
“Ya ampun ini perpustakaan atau …….,” ucap Yuli spontan.
“Berisik,“ sergah Windy.
Setelah itu Yuli tak berani lagi berkomentar. Windy bergegas menuju rak buku dan tiba-tiba seorang anak kecil datang ke hadapannya.
“Hey…Bukankah kamu anak kecil yang tadi?” tanya Windy.
Anak itu hanya diam. Anak itu tidak datang sendirian melainkan berdua. Di tangan mereka memegang sebuah buku dan memberikan buku itu kepada Windy. Ternyata buku itu adalah buku harian mereka. Saat mengamati buku itu tiba-tiba dari belakang terdengar suara langkah kaki, mereka berbalik badan ternyata ada Bu Tyas.
“Hey… kenapa kalian ada di sini malam–malam begini?“ tanyanya sambil mengarahkan mata ke buku harian yang dipegang Windy.
“Wah…wah…kalian sangat pintar, kalian ingin mencoba membongkar kematian Dini dan Dani dan kalian ingin aku tertangkap. Itu tidak akan terjadi, karena nasib kalian akan sama seperti Dini dan Dani… bersiaplah hahaha,” tukas Bu Tyas sambil tertawa keras.
“Gila orang ini udah gak waras,“ ujar Della.
“Ayo kita pergi,“ ujar Yuli sambil menarik tangan Windy dan Della.
“He… mau kemana kalian,“ kata Bu Tyas sambil berlari menodongkan pisau ke arah mereka.
“Ayo cepat nanti kita tertangkap,” sergah Yuli.
“Kalian gak akan bisa pergi hahahaha,” ujar Bu Tyas.
Saat Bu Tyas akan menangkap mereka, tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang hingga pingsan. Ternyata ia, Pak Samad.
“Maafkan aku…karena aku tidak bisa membohongi diriku dan semua orang lagi,” ujar Pak Samad.
“Apa maksudnya itu, Pak?“ tanya Windy.
“Sebenarnya bapak tau semua tentang Bu Tyas. Bagaimana ia menyiksa anak tirinya hingga meninggal,” jelas Pak Samad.
“Lalu, di mana mayat Dini dan Dani disembunyikan, Pak?” tanya Windy.
“Mayat kedua anak itu ada di pojok ruangan perpustakaan ini. Untuk menghilangkan baunya, jasad mereka ditimbun dalam tembok ruangan kosong di sudut sana,“ jelas Pak Samad.
“Oh baiklah… ayo kita bongkar,” ajak Windy.
Dengan pengakuan Pak Samad dan tertangkapnya Bu Tyas, maka selesailah misteri di perpustakaan itu. Bu Tyas membunuh kedua anak itu untuk mendapatkan harta yang diwariskan oleh bapak kandungnya, namun kini ibu jahat itu meringkuk di jeruji besi. Sadai, 15 Juni 2017. (**)

 

Penulis adalah siswi SMPN 2 Tukak Sadai, binaan Rusmin, Cerpenis Rakyat Pos.

Related posts