by

Ada Amanah Ibu yang tertahan di Gerbang Rumah Pembesar

Karya: Rusmin

Hati Idol luka . Kecewa mengaliri seluruh tubuhnya yang kurus. Bagaimana tidak. Sudah hampir tiga jam dirinya tertahan di depan gerbang , tepatnya di pos keamanan rumah ponakannya yang kini menjadi pembesar negeri. Tepatnya sebagai menteri. lelaki dari Kampung ini sungguh merasakan keanehan yang amat luarbiasa yang membungkus otaknya. Bagiamana tidak. Usai ditanya nama, alamat dan keperluan oleh penjaga rumah di gerbang rumah besar berarsitek moderen di kawasan elite, dirinya hanya disuruh menunggu dan menunggu. Padahal menunggu adaah pekerjaan yang membosankan.
” Mohon sabar ya, Pak. Pesan ajudannya, Pak Menteri sedang ada rapat dengan anak buahnya,” ungkap seorang penjaga rumah. Idol hanya terdiam. Tak ada anggukan. Tak ada sama sekali.
Idol kembali dikagetkan dengan suara yang keluar sebuah HT yang terpasang di pinggang penjaga rumah yang meminta agar penjaga gerbang segera membuka pintu pagar.
” Ada rombongan Pak Dubes negara asing yang mau ketemu Pak Menteri,” ujar penjaga rumah kepada Idol yang masih tak mengerti kenapa harus tertahan demikian lama di pos keamanan rumah ponakannya. ” Apakah Udin tak mengenalnya lagi,” pikirnya. ” Atau jangan-jangan dia memang,” idol tidak mau melanjutkan pikiran yang ada dalam otaknya. ” Bukankah saat pulang ke Kampung, Udin justru yang paling sering mendatangi rumahnya untuk sekedar ngobrol dan berbincang tentang masa depan dirinya. termasuk ambisi dirinya yang berniat menjadi pembesar negeri.
Idol masih sangat ingat dan teringat dengan perilaku anak adiknya itu setiap ke kampung. selalu minta dibuatkan kue lapis dari ubi dan secangkir kopi. Dan biasanya dua ponakan ini saling berbagi cerita tentang kehidupan yang mareka alami.
” Sebagai paman, aku bangga denganmuDin. Bisa memartabatkan nama keluarga dan mengangkat nama Kampung kita,” kata idol saat dia dan Udin ngobrol di dangau yang terletak di hamparan sawah yang menghijau.
” Iya, Paman. Semua itu kan berkat dukungan dan doa dari keluarga besar di sini yang selalu mendoakan saya hingga bisa sukses seperti ini,” jawab Udin dengan nada merendah.
” Paman sebagai keluargamu mendoakan amanah yang diberikan Presiden bisa kamu dengan jalankan dengan jujur. jangan memakan hak yang bukan milik kita. Kamu juga jangan tinggi hati. Jabatan itu ada batas waktunya. Bukan milik kita selamanya,” nasehat idol.
” Insya Allah Paman. terima kasih atas nasehatnya. Nasehat Paman tidak akan saya lupakan,” jawab Udin. ” Dan paman jangan lupa menegur saya kalau ada perbuatan saya yang merugikan masyarakat banyak,” lanjut Udin kepada pamannya.
___
Manusia memang cepat berubah. Apalagi ketika harta dan tahta sudah membungkus jiwanya. Rasionalitasnya sebagai manusia sudah hilang kendali. ” Uh,” desis idol yang masih tetap tertahan di pos keamanan rumah udin. Padahal dirinya ingin menyampaikan amanah Ibu Udin kepada putranya.
” Mohon kamu ke jakarta. Temui Udin. Katakan sudah saatnya nisan ayahnya diganti. Apalagi ini sudah mendekati bulan puasa. Tak enak dipandang orang yang berziarah ke kubur kalau papan nisan masih dari kayu. Lagi pula Udin sudah ngomong sudah menyiapkan nisan ayahnya dari batu,” pinta Ibu Udin. ” Lagipula semenjak dia jadi Menteri, dia kan belum pernah berziarah ke makam ayahnya. dan kita semau termasuk kamu juga belum tahu rumah Udin sekarang. sekalian silahturahmi,” lanjut Ibu Udin.
Dengan hati yang berbunga-bunga, idol meluangkan waktunya datang ke jakarta. Setelah sempat tersesat dan bertanya ke sana kemari , akhirnya idol tiba di rumah ponakannya yang kini sudah menjadi pembesar negeri. Jadi menteri. Tapi…
Sudah hampir tiga jam belum juga ada tanda-tanda dirinya akan bertemu dengan Udin. Putus asa menjalari tubuhnya. Ingin segera dia angkat kaki dari pos keamanan rumah ponakannya. Baru terniat dalam hatinya, tiba-tiba penjaga keamanan memintanya untuk segera masuk ke dalam rumah. Tapi Idol sudah patah semangat. Sudah patah arang.Tak ada lagi niatnya untuk bertemu dengan ponakannya. Tak ada sama sekali. Dia ingin segera pulang dan menitipkan pesan Ibu Pak menteri kepada penjaga rumah atau ajudannya saja.
” Silahkankan masuk Pak. Sudah ditunggu Pak Menteri,” ajak penjaga pos keamanan rumah Udin.
idol masih belum beranjak juga. Berat sekali kakinya ingin melangkah ke dalam rumah ponakannya itu. Sangat berat sekali. Seolah ada beban yang menghalangi kakinya untuk melangkah masuk ke dalam rumah ponakannya itu. Hatinya sudah dijalari duka yang mendalam. Hatinya sudah dilumuri kekecawaan.
” Mari pak, saya antarkan,” ujar petugas pos keamanan.
Idol masih terdiam. Berdiri pun tidak. Pantatnya masih ditempelkan dikursi tamu pos keamanan.
Jantung Idol bergedup kencang saat kakinya berdiri tegak. Saat hendak melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti petugas keamanan yang sudah mendahuluinya.. Dalam sekejap dua mobil bertuliskan KPK tiba di rumah ponakannya. Sejumlah orang turun dengan cepat. Mareka memakai seragam yang bertuliskan KPK. Dan dalam hitungan detik Udin sudah dimasukan ke dalam yang bertuliskan KPK. Idol hanya terdiam saat melihat wajah ponakannya dari dalam mobil yang membawanya melintas di pos keamanan rumahnya.
” Pak Menteri terkena OTT,” seru seorang ajudan lewat HT. Suaranya melemah. Seketika wajah-wajah di pos keamanan menjadi celingukan. Termasuk idol.

Comment

BERITA TERBARU