by

Abok

Karya: Musda Quraitul Aini
(Siswi SMP Negeri 2 Tukak Sadai)

Langit masih terlihat gelap, matahari pun seakan malu-malu menampakkan cahayanya menyinari permukaan bumi. Awan hitam masih terlihat menyelimuti suasana di sebuah desa. Cuaca yang gelap disertai rerintikan hujan mengawali hari itu. Suara ayam berkokok dan kicauan burung-burung bersahutan semakin menambah keindahan pagi itu.
Semilir angin meniup dedaunan basah di pohon, yang kemudian jatuh dan berserakan di tepi jalan. Dedaunan basah akibat diguyur hujan sejak subuh tadi. Air hujan pun masih terlihat menggenang di beberapa sudut halaman rumah warga. Sebagian anak-anak berlarian di sekitar jalan utama desa.
“Ting…. ting… ting,” terdengar denting paku beradu dengan botol yang bergantung di ujung atap rumah. Tertiup hembusan angin yang seolah menjadi alunan musik kenyamanan bagi setiap orang yang mendengarnya.
Secara perlahan matahari mulai beranjak dari peraduannya, menyinari bumi memberikan kehangatan kepada penghuninya. Terlihat seorang lelaki tua sedang duduk di teras rumah sembari menghisap sebatang rokok. Ia adalah Daeng Ambo. Masyarakat sekitar sering memanggilnya dengan sebutan Abok. Warga kampung sangat menghormati dirinya.
Sedari tadi, Abok terlihat terus menerus menatap hilir mudik para pelancong yang memburu keindahan Pantai Lembayung, kemudian tampak sesekali ia menghisap sebatang rokok yang terapit di sela jari telunjuk dan tengahnya. Tanpa disadari Daeng Ambo, seorang wanita setengah baya datang mendekati dengan membawa secangkir kopi. Wanita itu terlihat lebih muda dari Abok. Ia menawarkan kopi itu, namun Abok tak menjawab dan terus saja melamun menatap hilir mudik wisatawan yang melewati rumahnya.
“Pak,” ucap wanita itu lebih keras. Abok tersentak kaget menyadari istrinya telah berada di sampingnya. Ia tersenyum lalu mengambil kopi yang telah dihidangkan. Sembari menghirup secangkir kopi buatan istrinya, ia kemudian menatap kembali jalan utama desa yang telah penuh sesak oleh para wisatawan pemburu keindahan pantai yang telah menjadi primadona di desa itu. Sesekali Abok memperlihatkan senyuman tipis yang tersungging di ujung bibirnya.
“Ku perhatikan, bapak terus saja tersenyum menatap orang-orang itu,” kata istrinya.
Ia menatap istrinya, lalu berkata, ”Akhirnya usaha kita selama ini membuahkan hasil, Bu,” jawabnya diiringi semilir angin pagi itu, yang membawa Abok mengingatkan kenangan-kenangan di masa lalunya.
****

“Kita harus membangun desa sendiri,” ucap Abok.
“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Bok?” tanya seorang temannya.
“Coba kalian lihat, Dusun Bakau Selatan ini sudah sangat luas. Warga dusun ini pun sudah banyak. Aku yakin dusun kita ini bisa menjadi sebuah desa,” kata Abok mantap.
“Tapi, apa kita-kita ini mampu untuk mengelolanya nanti?” tanya lelaki yang duduk di pojok bangku.
“Insha Allah. Seperti kata pepatah dulu, ‘Men Kawah Pasti Pacak’. Kalau kita dan semua warga dusun ini mau bekerjasama untuk mengelolanya, aku yakin Desa Bakau Selatan akan terbangun,” kata Abok meyakini.
“Alaaah, kau Bok. Urus keluarga sendiri saja kau belum becus. Kau malah sok-sok’an mau membangun sebuah desa. Jangan mimpi di siang bolong kau, Hahaha,” kata seseorang lain meremehkan.
“Braaaakk” seketika saja Abok menggebrak meja. Dia tersinggung dengan apa yang dikatakan orang itu. Para pengunjung warung kopi itu pun sangat terkejut. Suasana di warung kopi itu pun menjadi tegang. Semua mata pengunjung mengarah ke diri Abok. Terlihat Abok ingin berdiri, namun dicegah oleh teman yang duduk di sebelahnya. Ia berusaha menenangkan Abok. Wajah Abok yang semula merah padam perlahan–lahan mulai kembali ke warna aslinya. Terlihat Abok mengambil sebatang rokok yang terletak di atas meja. Dihisapnya rokok itu, lalu dihembuskannya asap rokok itu ke udara. Asap rokok Abok membumbung tinggi sampai ke langit-langit warung kopi yang terbuat dari asbes.
Melihat Abok yang sudah merasa tenang, seseorang yang duduk di dekat Abok menyarankan untuk mendengarkan terlebih dahulu usulan dari Abok.
“Kita dengarkan dulu penjelasan dari Abok,” kata orang itu.
“Bukankah semua yang dikatakan oleh Abok itu untuk kemajuan dusun kita ini,” ucapnya menambahkan.
Setelah dirasakan suasana di warung kopi itu cukup kondusif, seseorang itu mempersilahkan Abok untuk melanjutkan usulannya. Sembari menyeruput kopi yang terhidang di meja, Abok melanjutkan perkataannya. Ia menjelaskan bahwa Dusun Bakau Selatan ini memiliki potensi yang dapat menjadi cikal bakal terbentuknya sebuah desa baru. Dusun Bakau Selatan merupakan daerah pesisir yang kaya akan hasil lautnya. Mayoritas penduduk di sini bermata pencaharian sebagai nelayan. Bahkan banyak penduduk dari Desa Bakau yang datang kemari hanya untuk mencari ikan. Selain itu, Dusun Bakau Selatan memiliki tanah subur yang dapat dimanfaatkan untuk menanamkan sesuatu ataupun membangun sebuah bangunan. Anak-anak di dusun ini harus berjalan beberapa kilometer untuk mendapatkan pendidikan di sekolah yang letaknya di Desa Bakau. Masyarakat dusun itupun, bila ingin mengurus surat-surat kependudukannya harus pergi ke Desa Bakau terlebih dahulu, karena Desa Bakaulah yang menjadi pusat pemerintahan desa. Dengan terbentuknya Desa Bakau Selatan ini diharapkan akan memudahkan seluruh warga dusun ini untuk mengurus hal-hal seperti itu.
“Terlebih dengan dana desa yang diberikan pemerintah, kita dapat mempergunakan itu untuk kemajuan desa kita. Misalnya saja bangunan sekolah untuk anak-anak dusun ini,” ucap Abok dengan yakin.
“Lalu kalian pasti tahu Pantai Lembayung di ujung jalan dusun ini kan? Memang saat ini, pantai itu belum terjamah. Namun, jika nanti dusun ini telah berubah menjadi desa baru, aku yakin banyak investor yang melirik pantai itu. Dan pada akhirnya, pantai itu akan menjadi primadona desa kita dan semakin memperkenalkan desa kita ke masyarakat luar. Dengan begitu, kemajuan desa ini akan tercapai di masa yang akan datang,” ucap Abok dengan Mantap.
Mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Abok, para pengunjung berbisik dan manggut-manggut seakan setuju dengan usulan itu.
“Baik lah, kalau itu yang terbaik. Aku siap membantu,” kata seseorang di sebelah Abok.
“Aku juga siap,” kata seseorang lain.
“Kami juga siap membantu,” ucap orang-orang di sana.
“Hidup Desa Bakau Selatan,” teriak seorang di pojok warung.
“Hiduup,” sorak seluruh pengunjung yang hadir memenuhi warung kopi itu.
***

Setelah pembicaraan di warung kopi itu, Komite Pembentukan Desa Bakau Selatan pun terbentuk. Para pemuda dan tokoh Dusun Bakau Selatan antusias bergabung dalam komite tersebut. Dibantu Abok, para anggota komite mulai mengurusi segala kelengkapan dan persyaratan terbentuknya sebuah desa.
Setiap hari tiada henti dan lelahnya mereka pergi ke pusat pemerintahan. Entah sudah berapa banyak pikiran dan tenaga serta waktu yang mereka habiskan demi terbentuknya Desa Bakau Selatan. Setelah sekian lama akhirnya saat yang ditunggu-tunggu warga pun tiba. Pemerintah pusat mengabulkan permohonan warga dan Komite Pembentukan Desa Bakau Selatan menjadikan dusun ke desa.
Yaa.. suatu desa yang merupakan pemekaran dari Desa Bakau. Warga terlihat sangat senang. Karena perjuangan dan jerih payah mereka selama ini tidak sia-sia. Dan pemerintah pusat menunjuk Abok sebagai Kepala Desa Bakau Selatan. Mendengar hal itu, seluruh warga desa bersorak gembira. Mereka sepakat bahwa Aboklah yang layak memimpin Desa Bakau Selatan ini mengingat pengalamannya yang sangat banyak.
Di hari pertamanya bekerja, Abok memilih perangkat desa yang dapat membantunya menjalankan tugas sebagai kepala desa. Orang-orang yang dipilih Abok pun tak sembarangan. Ia memilih orang yang telah ikut andil dalam terbentuknya desa ini dan orang-orang yang memiliki visi sama untuk memajukan desa. Sehingga Desa Bakau Selatan menjadi desa yang dapat berdaya saing dan semakin dikenal masyarakat desa lain.
Hari demi hari, Abok lalui dengan bekerja dibantu perangkat desa untuk membangun kemajuan desa demi kesejahteraan warganya dimasa yang akan datang. Abok dan para warga juga sering berkumpul di warung kopi langganannya. Ia sangat menyukai kopi. Selain untuk menikmati kopi di warung itu, Abok biasanya memilih warung kopi itu sebagai tempat tukar pendapat antara dirinya dengan para warga. Abok sering mendengarkan keluh kesah warga desa di warung kopi tersebut. Warung kopi itu seakan menjadi tempat favorit bagi warga yang ingin menyalurkan aspirasinya kepada kepala desa.
***
Matahari kembali menyinari bumi, pagi kembali menyapa setiap insan yang baru saja bangun dari peraduannya. Seperti biasanya, jalan utama Desa Bakau Selatan telah ramai oleh lalu lalang aktivitas para penduduknya. Suara bising kendaran bermotor yang berlalu lalang di sepanjang jalan pun semakin menambah keramaian yang menyelimuti pagi itu. Panas sinar matahari mulai terasa di kulit yang menandakan hari sudah mulai siang.
Terlihat kelompok ibu-ibu yang sedang asyik membersihkan sampah di sekitar jalan utama desa menuju ke Pantai Lembayung. Diantara ibu-ibu yang sedang membersihkan lingkungan, terlihat seorang wanita separuh baya bercengkrama dengan ibu-ibu kelompok PKK. Ia adalah Bu Siti, istri Abok. Selain disibukkan dengan urusan sebagai istri Kades Bakau Selatan, kini Bu Siti dikenal sebagai Ketua PKK yang sangat peduli terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup di desanya.
Di berbagai kesempatan, Ibu Siti selalu mengkampanyekan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan. Sudah banyak kegiatan ibu–ibu di desa itu yang diprakarsai Bu Siti. Bahkan tidak jarang, ia mengisi acara di berbagai tempat untuk mengajak masyarakat berperan aktif mencintai kebersihan dan melestarikan lingkungan desa terutama segala hal yang menyangkut tentang sampah.
“Menjaga kebersihan lingkungan dapat dilakukan dengan cara memilah sampah organik dan non organik. Jika kita bisa mengolah sampah dengan baik dan benar, maka hasil dari sampah yang kita daur ulang itu dapat meningkatkan taraf hidup keluarga kita,” ucap Bu Siti.
“Sampah yang berasal dari daun kering pepohonan (sampah organik) dapat dijadikan pupuk kompos bagi pertanian. Sedangkan sampah-sampah plastik dapat kita manfaatkan untuk dijadikan suatu barang yang bernilai ekonomis,” tambahnya di hadapan ibu-ibu yang telah memenuhi ruang balai desa.
Bu Siti selalu berusaha mengajak masyarakat Desa Bakau Selatan khususnya ibu-ibu untuk selalu peduli dan cinta terhadap lingkungan sekitar. Semua itu Bu Siti lakukan untuk mendukung impian Pak Abok yang ingin memajukan desa.
***

Tak terasa Pak Abok telah hampir lima tahun memimpin Desa Bakau Selatan. Usaha yang dilakukan Abok bersama sang istri telah banyak dirasakan masyarakat desa. Hasil laut yang melimpah, hasil bumi dan tanaman buah, serta keindahan Pantai Lembayung yang semakin dikenal. Tidak hanya menjadi primadona bagi warga desa itu sendiri, tetapi juga bagi warga desa lain.
Warga desa sangat puas dengan hasil kepemimpinan Pak Abok yang selalu bekerja keras dan semangat demi menciptakan kesejahteraan dan kemajuan Desa Bakau Selatan. Demi ambisi dan cita-citanya, tak jarang Pak Abok harus pergi ke luar daerah mencari dana tambahan dari pemerintah pusat, ataupun menemui para investor. Rutinitasnya dulu yang sering duduk di warung kopi sambil mendengar keluh kesah ataupun menyerap aspirasi warganya, mulai jarang ia lakukan.
Melihat kemajuan pesat Desa Bakau Selatan, menjelang pemilihan kepala desa yang baru, beberapa warga desa tergiur untuk mencalonkan diri, diantaranya adalah Pak Djarot. Pak Djarot termasuk orang terpandang di desa Bakau Selatan. Ia memiliki banyak usaha dan juga dikenal sebagai juragan kapal tangkap ikan dan pengusaha ikan asin. Warga desa pun banyak yang bekerja kepadanya.
Selain itu, uangnya pun sangat melimpah. Saat-saat mendekati hari pemilihan kepala desa, Pak Djarot mulai sibuk mencari simpati warga. Berbagai isu untuk menjatuhkan Pak Abok diluncurkan. Mulai dari isu bahwa Pak Abok sudah tidak dekat lagi dengan warga, tidak mau mendengar keluh kesah warga, dana desa yang tidak jelas perginya kemana, sampai dengan isu kalau Pak Abok sering bermain mata dengan para investor.
“Ahh, kalau cuma pergi keluar daerah setiap waktu, siapapun bisa menjadi kepala desa,” celoteh Pak Djarot di warung kopi.
“Betul,” teriak Baso, salah seorang tim sukses Pak Djarot yang berkepala plontos. “Duduk minum kopi dengan kita pun sudah jarang sekali,” tambah Baso memanasi hati warga pelanggan warung kopi.
“Apalah artinya dana desa melimpah, tapi warga bekerjanya tetap dengan saya,” gumam Pak Djarot di lain kesempatan.
Demikianlah aktifitas Pak Djarot beserta tim suksesnya setiap hari mempengaruhi warga, dari warung kopi satu ke warung kopi yang lain, dari rumah yang satu ke rumah yang lain.
***

Hari pemilihan kepala desa yang baru pun tiba. Pak Djarot dan beberapa calon lain merasa percaya diri akan memenangkan pemilihan tersebut. Terlebih lagi Pak Djarot. Ia merasa strateginya selama kampanye pasti akan mendapat simpati warga. Ia merasa saingan terberatnya, Pak Abok, dapat ia kalahkan. Karena berdasarkan laporan survei terakhir yang didapat dari tim suksesnya semalam, ia berada pada peringkat yang paling tinggi. Alhasil, seperti yang sudah Pak Djarot prediksi sebelumnya, dirinyalah yang terpilih menjadi kepala Desa Bakau Selatan yang baru.
Namun, baru beberapa tahun menjabat sebagai kepala desa, Pak Djarot sudah terlihat tidak memikirkan warga desanya. Pembangunan di desa menjadi terbengkalai karena dirinya sering melakukan perjalanan keluar desa. Setiap warga ingin bertemu untuk bertukar pendapat, menyalurkan aspirasinya kepada Pak Djarot, dirinya pasti tidak ada dengan alasan sedang melakukan dinas luar. Dana desa yang diberikan pemerintah untuk membangun desa pun tak jelas kemana habisnya.
Warga desa sudah mulai jengah dengan sikap Pak Djarot memimpin desa. Warga marah dengan cara kepemimpinan Pak Djarot. Mereka mendatangi kediaman Pak Djarot untuk menanyakan kemana perginya dana desa. Warga menduga dana pembangun desa dihabiskan untuk kepentingan pribadi Pak Djarot.
Pada awalnya Pak Djarot menampik semua tuduhan yang diarahkan kepadanya. Namun, salah seorang warga menunjukkan bukti-bukti yang otentik. Pak Djarot tak bisa berkelit lagi. Warga memaksa Pak Djarot untuk mundur dari jabatan sebagai kepala desa. Warga pun akhirnya menyadari kesalahannya yang telah termakan oleh hasutan fitnah yang disebarkan Pak Djarot beberapa tahun lalu.
Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan kepala desa yang ditinggalkan oleh Pak Djarot, warga mengusulkan Pak Abok untuk kembali menjabat sebagai kepala Desa Bakau Selatan. Pemerintah pusat pun menunjuk Pak Abok menjadi kepala Desa Bakau Selatan melanjutkan jabatan Pak Djarot.
***

Tak terasa air mata Pak Abok pun mengalir saat mengingat kenangan di masa lalunya, masa duka dan bahagia yang telah Ia lalui sebagai Kades Bakau Selatan selama 2 periode. Selama itu, ia telah mencurahkan segala pemikiran dan tenaganya untuk kemajuan pembangunan di Desa Bakau Selatan. Kini Desa Bakau Selatan yang telah berumur 15 tahun memiliki perbedaan yang signifikan antara sebelum mengalami pemekaran dan setelah mengalami pemekaran. Kini Desa Bakau Selatan telah menjadi desa yang maju dan dapat bersaing dengan desa lainnya.
Saat itu, beberapa warga desa datang ke rumah Abok. Seketika saja Pak Abok terbangun dari lamunannya. Ia tersadar dan menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Para warga yang datang pun mengucapkan terima kasih atas jasa dan baktinya untuk memajukan dan mensejahterakan warga desa. Warga desa mendoakan Pak Abok beserta Bu Siti agar senantiasa diberikan kesehatan sehingga dapat terus memimpin desa dan berupaya memajukan desa yang dapat berdaya saing dengan desa lainnya. (****)
(Persembahan HUT ke-15 Kabupaten Bangka Selatan)

Comment

BERITA TERBARU