550.741 Hektar Wilayah Babel Rawan Kekeringan

  • Whatsapp
Satu bulan tak kunjung turun hujan, banyak masyarakat memanfaatkan Kolong Spritus di kawasan Kompleks Perkantoran Pemprov Babel, untuk kegiatan mencuci. Diperkirakan, kekeringan mengancam sebagian wilayah Babel. (Foto: Nurul Kurniasih)

Kabupaten Bangka Diprediksi Paling Banyak
Kemarau Panjang Diprediksi Hingga Agustus

PANGKALPINANG – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki luas daratan 16.424,14 km2, ternyata seluas 550.741 hektarnya berpotensi terkena dampak kekeringan, akibat kemarau panjang tahun 2019.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bangka Belitung (Kalakhar BPBD Babel), Mikron Antariksa mengatakan, potensi kekeringan itu dapat dilihat dari curah hujan yang saat ini memang cenderung berkurang mengguyuri Babel.

Bahkan, dari pantauan pihaknya gumpalan awan hanya ada di dua titik di Pulau Bangka dan Belitung, yakni diantara Sumatera-Bangka tepatnya di Selat Bangka di arah Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah dan di Selat Gaspar antara Pulau Bangka dan Belitung.

“Potensi hujan berkurang, sementara panas juga semakin meningkat dengan suhu mencapai 32 derajat paling tinggi. Dan potensi angin yang tinggi 28 km/jam,” katanya kepada wartawan, Kamis (11/7/2019).

Luasnya daerah daratan yang berisiko kekeringan ini, menurut Mikron diperoleh dari kajian BNPB terhadap berbagai provinsi di Indonesia, termasuk di Babel, dengan jumlah masyarakat yang terpapar sebanyak 1.024.853 jiwa.

“Babel, masuk dalam potensi risiko kekeringan sedang hingga tinggi,” imbuhnya.

Dari data yang ada, diketahui juga kekeringan ini hampir terjadi di semua kabupaten/kota di Provinsi Babel. Dan daerah yang paling banyak akan mengalami kekeringan adalah Kabupaten Bangka.

Untuk Kota Pangkalpinang diprediksi hanya ada satu kecamatan saja yang diperkirakan berdampak kekeringan terhadap 2.097 ha lahan dengan jumlah jiwa terpapar sebanyak 196.154 orang.

“Kabupaten Bangka ada delapan kecamatan, luasnya diperkirakan 190.783 hektar. Sementara di Bangka Barat enam kecamatan,” sebutnya.

Di Kabupaten Bangka Tengah, dari data itu terdapat empat kecamatan seluas 73.168 ha terancam kekeringan. Sedangkan untuk Kabupaten Bangka Selatan, akan dialami dua kecamatan dengan luas lahan 8.901 ha, dan Kabupaten Belitung, menyerang dua kecamatan seluas 20.868 hektar.

Sementara Kabupaten Belitung Timur, akan ada lima kecamatan terancam kekeringan seluas 70.686 ha.

“Kemarau ini diperkirakan mulai dari Juni, puncak di bulan Juli hingga Agustus. Pada bulan September, diprediksi sudah mulai turun hujan kembali,” beber Mikron.

Ia meminta, masyarakat untuk siaga dalam menghadapi kemarau ini. Meskipun pasokan air berkurang, namun warga diharapkan dapat memanfaatkan sumber air lainnya.

“Untuk sumber air kita masih ada, walaupun berkurang dari biasanya. Masyarakat masih bisa memanfaatkan sumber air lainnya, seperti kolong dan sungai,” ulasnya.

Kemarau, kata Mikron, merupakan kondisi biasa yang sudah sering dialami oleh masyarakat. Sehingga sebetulnya masyarakat sudah dapat mengatasinya. Meski demikian BPBD, menyiapkan air bersih, jika memang masyarakat membutuhkan.

Selain kesulitan soal air, kekeringan juga diakui rentan terjadi kebakaran lahan. Mikron menambahkan, untuk kebakaran lahan dan hutan yang besar, sangat berpotensi terjadi di Bangka Tengah dan Pangkalpinang. (nov/1)

Related posts