by

50 Ribu Rupiah

-Cerpen-118 views

Karya: Rusmin

Tiga hari menjelang pemilihan kepala desa, suasana di Desa Ancoklilot kurang kondusif. Situasi kamtibmas tidak sehat. Masyarakat terpecah belah. Pergaulan pribadi antar warga kurang harmonis. Kerukunan yang selama ini menjadi simbol masyarakat mulai memudar. Egosentris dan kelompok justru menjadi pegangan. Masyarakat gampang curiga. Semua itu berasal dari beredarnya isu penyebaran dana Rp50.000,- dari dan oleh oknum-oknum tertentu terhadap kelompok masyarakat.
Isu money politik telah membuat suasana Desa Ancoklilot dan masyarakatnya gampang terprovokasi. Saling menyerang antar sesama warga, tanpa menyelidiki asal usul isu yang beredar. Pendek kata warga gampang curiga dan terprovokasi. Persatuan dan kesatuan sebagai simbol hidup masyarakat terkoyak-koyak dan tercerai berai.
Siang itu di warung Mang Keliru yang terletak di ujung desa, beberapa anggota masyarakat sedang berkumpul. Beberapa orang membuat kelompok sendiri dengan kelakarnya sendiri. Sementara beberapa warga lainnya berkumpul pada sudut warung dengan agenda ceritanya sendiri pula.
Tak ada lagi saling sapa. Tak ada lagi berkelakar ala masyarakat sebagaimana yang selama ini mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang penuh kerukunan dan kedamaian dengan mengembangkan sikap saling toleransi dan gotongroyong penuh keharmonian.
Kini para warga asyik dengan cerita masing-masing. Asyik dengan agendanya masing-masing. Asyik dengan kelompoknya masing-masing. Asyik dengan jagoannya masing-masing. Muaranya jelas yakni memenangkan kandidat yang mareka jagokan dalam PILKADES yang akan digelar tiga hari lagi di lapangan sepakbola desa.
“Kalau ada calon yang menggunakan uang untuk menjadi Kades dengan cara membeli suara dari masyarakat, itu namanya tidak fair dan curang. Tidak gentlemen, sekaligus tidak demokratis dan menciderai demokrasi yang sedang mekar di desa kita,” ujar Ganyeng membuka cerita.
Semua pengunjung tersentak. Kontak argumentasi pun berlangsung.
“Anda salah, Bung. Itu artinya sang calon peduli dengan kehidupan masyarakatnya. Peduli dengan waktu yang diberikan rakyat untuk datang ke TPS. Sang calon mengkompensasi waktu rakyat untuk memilih sebagai bentuk terimakasih atas partisipasi rakyat,” jawab Pak Bengel.
“Memilih dan dipilih itu hak kita sebagai warga negara, Pak. Hak kita. Lagi pula kegiatan itu adalah aksi money politik. Aksi zaman purba yang menodai demokrasi. Apa jadinya desa kita kalau pesta demokrasi dimana rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi haknya sebagai pemilih diganggu dengan aksi purba bernama money politik,” balas Ganyeng dengan nada tinggi.
“Tapi apa salah kita membalas budi baik warga yang datang ke TPS dengan membantu mereka. Membantu meringankan beban mereka yang tidak bekerja selama satu hari karena datang ke TPS. Apa sang calon salah memberi penghargaan buat rakyatnya?” tanya Pak Bengel lagi.
Semua warga yang ada di warung terdiam mendengar pernyataan Pak Bengel. Ada yang membenarkan dalam hati. Ada yang menyalahkan secara diam-diam pula.
Malam tiba. Beberapa warga yang usai menunaikan Sholat Isya berjemaah mulai meninggalkan masjid. Menuju rumahnya masing-masing. Rumah kedamaian. Rumah kasih sayang. Rumah untuk saling berbagi sesama penghuninya.
Tapi di sebuah rumah di ujung desa, beberapa warga tampak berkumpul. Mereka asyik berbincang. Suara mereka makin lama makin kencang bak petir di siang bolong. Menggelegar. Menggema bak suara penyanyi dangdut Ayu Ting-Ting yang dikasih alamat palsu.
“Kamu kalau bicara pelan-pelan. Ntar kalau didengar orang gimana? Bisa rusak skenario kita untuk memenangkan Pak Liluk sebagai jagoan kita. Apa kamu mau kalau jagoan kita keok,” tanya Pak Dandio kepada sahabatnya.
“Koneng memang enggak bisa jaga mulut dan rahasia Pak,” sambut salah seorang dari warga yang hadir.
“Saya kesal, Pak, dengan perilaku beberapa aktivis desa yang pura-pura suci dan idealis itu. Kayak enggak perlu duit saja,” jawab Roy sambil mengambil sebatang rokok di atas meja.
“Kesal sih kesal. Cuma emosi harus ditahan. Cooling down. Kalau kita emosi, ini bisa membuat tim lawan bisa mengacaukan skenario yang telah kita susun berbulan-bulan. Kerja keras kita hancur. Kerja kita sia-sia Dan kita malu karena jagoan kita kalah. Intinya kita tenang dan tenang. Pokoknya kita harus tenang dan terus bergerak sesuai skenario yang telah kita susun dan sepakati dalam rapat pemenangan Pak Liluk sebagai kades baru kita. Bapak-bapak kan ingin perubahan,” urai Pak Krikil penuh motivasi. Dan yang mendengar pun dengan koor semangat 45 meneriakan setuju hingga menembus ke langit tujuh disertai tepuk tangan yang menggema. Ramaikan malam dengan teriakan.
Sementara itu pada malam yang sama, di sebuah rumah milik Asuk, beberapa warga desa juga berkumpul. Suara canda tawa terus mengalir dan mengalir bak air yang datang di musim penghujan. Rasa optimisme terus mengguncang nurani dan hati mereka. Keceriaan pun tertancap di dada yang hadir. Gembira dan hanya kegembiraan yang melanda hati mereka.
“Kita akan berjaya kalau jagoan kita menang. Kita akan menjadi pengusaha baru di desa ini. Akan jadi orang kaya,” ujar Marlo yang disambut tawa orang-orang yang mendengar.
“Bukan cuma jadi pengusaha. Tapi penguasa. Ring satu Pak Kades,” sambut yang lain sambil tertawa memecah malam.
“Dan ini lah momentum tepat bagi kita untuk berjaya dan berjaya. Hidup Pak Bendol,” teriak tim sukses Pak Bendol penuh semangat. Dan tepuk tangan pun menggema di ruang belakang rumah Calon Kades ini.
Di ruang yang berbeda di rumah Asuk, calon Kades yang diunggulkan Asuk sedang asyik berbincang. Beberapa surat bermaterai tampak sudah ditandatangani antara Asuk dan Calon Kades unggulan Asuk terhampar di atas meja. Ada juga bungkusan amplop menggunung. Asuk tampak beberapa kali memberi wejangan dan calon Kades unggulan itu tampak manggut-manggut mendengar saran dan wejangan Asuk dengan khusuk.
“Pokoknya, serahkan kepada kami saja. Pak Kades pasti menang dan berkuasa sebagai raja desa. Dan kalau sudah terpilih jangan lupa dengan perjanjian kita,” ujar Asuk saat mengantar calon kades unggulannya pulang.
“Saya pasti ingat Pak Asuk dengan perjanjian kita. Masa saya lupa. Kan semua biaya kampanye saya Pakbos yang mendanai,” jawab calon kades unggulan itu sambil meninggalan rumah pengusaha terkenal di Desa Ancok Lilot itu.
Isu tentang penyebaran uang Rp50.000,- yang dilakukan tim sukses calon kades telah menyebar bak virus flu burung. Mengalahkan berita tentang ulah para koruptor yang sering tayang wajahnya di televisi. Semua warga membicarakannya tanpa kenal waktu dalam setiap pertemuan dan obrolan. Bahkan hingga ke ruang-ruang pribadi para warga Desa Ancoklilot. Tiada hari tanpa cerita uang lima puluh ribu rupiah. Uang lima puluh ribu telah menjadi trend setter. Primadona.
Pak Kades pun telah mendengar isu bergaya purba yang dilakukan orang-orang berjiwa kerdil yang ingin meraih kekuasaan dengan cara-cara tidak baik dan tidak terhormat itu. Kelakuan purba yang dilakukan para oknum-oknum tak bertanggungjawab itu tentu saja melukai dan menciderai arti demokrasi. Perilaku ini amat tidak mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat dan tidak sejalan dengan gaung untuk menjadikan Pilkades Desa Ancoklilot kali ini sebagai Pilkades yang bermartabat dan menjunjung tinggi demokrasi dimana rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di beri hak dan wewenang penuh untuk memilih pemimpinnya sesuai dengan hati nuraninya tanpa paksaan dan intimidasi dari pihak mana pun. Termasuk praktik-praktik kotor berupa money politik yang merusak jiwa dan arti demokrasi itu sendiri..
“Iya. Sudah banyak laporan yang masuk ke kantor desa tentang isu uang Rp50.000,- itu. Cuma hingga kini kita belum tau, siapa yang menyebarkan ke rumah-rumah warga dan apa tujuannya. Saya telah memerintahkan Pak Tegep selaku kepala keamanan Desa untuk meningkatkan ronda malam di tiap-tiap RT. Tapi hingga detik ini belum juga terungkap siapa dalang dibalik ini semua,” jelas Pak Kades kepada beberapa tokoh pemuda yang datang ke kantor desa.
“Bagaimana Pak kalau kita mengajak warga untuk tidak memilih mereka yang menggunakan uang dalam Pilkades ini,” usul Tuman.
“Iya, Pak. Kita pasang spanduk, baliho dan pengumuman agar warga tidak memilih calon dan kandidat yang menggunakan duit untuk meraih kekuasaan. Lagi pula praktik jahanam itu amat bertentangan dengan jiwa demokrasi. Dan ini momentum bagi kita semua untuk mencerdaskan masyarakat sebagai pemilih,” sahut Remon.
“Saya amat setuju dengan ide dan gagasan adik-adik sekalian. Sangat brilian. Dan itulah sebabnya, kenapa saya enggak mau mencalonkan diri lagi menjadi Kades. Saya khawatir kondisi semacam ini akan muncul. Saya tidak mau menjadi pimpinan desa dan pemimpin rakyat karena harus membayar utang pada orang-orang yang telah mengeluarkan dana besar buat saya. Buat pembiayaan kampanye saya. Ujung-ujungnya rakyat yang rugi. Pembangunan tidak optimal. Kita semua sebagai warga yang menanggung akibatnya,” jelas Pak Kades.
Anak-anak muda Desa Ancoklilot pun terdiam. Dalam hati mareka membenarkan apa yang disampaikan Pak Kades.
Esoknya, pemasangan baliho dan spanduk tentang Pilkades bermartabat yang dilakukan Remon dan kawan-kawan dari Gerakan Pemilih Bersih mendapat respon masyarakat desa. Ada kelompok masyarakat yang mendukung. Ada pula kelompok masyarakat yang mencibir niat baik Remon dan kawan-kawan.
Di warung Mang Keliru, perdebatan pun tak terelakkan. Bak acara talkshow di tivi. Semuanya bicara bak para politisi yang sering terlihat ditipi berapi-api. Pembicara saling mengeluarkan jurus pamungkas untuk memenangkan argumentasinya masing. Terkadang intonasi suara pun menggelegar bak petir disiang bolong. Suara mereka pun makin meninggi laksana matahari yang mulai berangkat pulang..
“Mon, apa maksud kamu memasang spanduk itu?” tanya Pak Bengel dengan nada tinggi.
“Tidak ada maksud apa-apa. Kami sebagai warga desa cuma menghimbau dan menghimbau. Kami ingin Pilkades ini berlangsung dengan baik dan bermartabat. Dan harga diri warga desa ini dihargai sesuai dengan hak mereka sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di desa ini,” jawab Remon santai sambil menyeruput kopi.
“Apa kurang besar yang rakyat terima itu?” tanya Pak Bengel lagi.
“Bukan soal besar dan kecilnya nilai yang diterima rakyat Pak. Tapi ini menyangkut harga diri dan martabat kita sebagai rakyat yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di desa ini. Begini ya Pak. Kita hitung secara matematika yang sederhana saja. Kita hitung bodoh saja kalau tiap warga dapat Rp50.000,-, maka selama lima tahun masa kepemimpinan kades terpilih, maka satu warga yang memilih satu calon itu dihargai calon itu hanya Rp900 perbulan. Artinya tiap hari warga hanya dihargai tidak sampai Rp100. Apa itu harga kita sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di desa ini? Apa kita enggak malu dijuluki para calon kades itu sebagai orang malas dan tidak bermartabat hanya karena dihargai Rp100 perhari? Anak saya saja sehari jajan bisa Rp5000,-,” jelas Remon.
Semua terdiam. Mereka membenarkan apa yang disampaikan Remon.
“Dan apakah Bapak-bapak sekalian yakin, kalau mereka terpilih mereka akan membalas kebaikan dan budi bapak-bapak? Jauh panggang dari api. Yang jelas mereka harus mengembalikan modal yang telah dikeluarkan selama Pilkades. Dan kita sebagai warga hanya akan gigit jari. Semua ini karena kesalahan kita sebagai pemilih yang tidak bermartabat dan mudah dibeli dengan uang tanpa memikirkan dampak yang akan datang,” urai Remon berapi-api bak orator.
Pengunjung warung Mang Keliru pun terdiam lagi. Tersadarkan oleh pencerahan dan pencerdasan yang dilakukan oleh Remon dan kawan-kawan yang menggiatkan Pilkades bermartabat dan mencerdaskan rakyat. Mereka pun terpahamkan dan memahami esensi makna demokrasi yang hakiki dimana suara rakyat amat mementukan kehidupan daerah dan desa ini lima tahun ke depannya.
Dan betapa bangganya Remon ketika Pak Bengel dan warga masyarakat Desa Ancoklilot dengan inisiatif sendiri memasang spanduk di depan rumahnya masing-masing bertuliskan: ”Suara kami tidak bisa dibeli dengan uang. Suara kami adalah suara Tuhan”.
Langit cerah. Awan berarak menuju peraduannya, Mentari cerah. Sinarnya memancarkan ke bumi. Untuk para penghuninya yang berpikir cerah dan sehat untuk kemajuan dunia dan penghuninya. Dan para warga Desa Ancoklilot pun telah tahu dan paham siapa yang akan mereka pilih sebagai pemimpin lima tahun ke depan yang akan mensejahterahkan rakyat sebagai pemilik negeri ini dengan semangat demokrasi yang sehat dan bermartabat untuk kehidupan masyarakat madani. (***)

Comment

BERITA TERBARU