16 Titik Panas di Babel

  • Whatsapp

PANGKALPINANG– Setidaknya ada 16 titik panas atau hot spot yang terjadi di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada Minggu (18/8/2019). Titik panas tersebut berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangkalpinang via Satelit Terra, Aqua, dan Suomi NPP.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang, Kurniaji saat dihubungi Rakyat Pos, Minggu sore.

“Pantauan yang kita lakukan, untuk titik panas di Wilayah Babel sampai dengan 18 Agustus 2019 waktu akuisisi atau UTC 00-09 berjumlah 16 titik. Hot spot selalu fluktuatif, terkadang bertambah, kadang-kadang nihil,” ungkapnya.

Ia menguraikan, dua faktor yang mempengaruhi terjadinya hot spot, diantaranya faktor alam dan faktor antropogenik.

“Kalau faktor alam, kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi dapat memicu timbulnya radiasi thermal yang kemudian terpancar oleh objek-objek tertentu dan tertangkap oleh satelit sebagai titik panas (atap seng, titik api dan lain-lain). Sedangkan faktor antropogenik, aktifitas-aktifitas manusia terhadap lingkungan seperti sengaja membakar untuk membuka lahan atau pun membuang puntung rokok secara sengaja ke semak-semak atau lahan-lahan kering, sehingga memicu karhutla (minimal 2,5 ha baru tertangkap sebagai hot spot oleh satelit),” ulasnya.

Kurniaji menjelaskan, penyebab lain hot spot bisa terjadi karena faktor dari aktifitas lain, seperti kejadian ledakan-ledakan besar yang memicu kebakaran skala besar.

“Kebanyakan kejadian karhutla di Babel saat ini, penyebabnya jarang diketahui. Bisa juga karena faktor alam atau sengaja dibakar, kemudian ditinggalkan,” sebutnya.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk saat ini, wilayah Babel dan sekitarnya belum memasuki puncak kemarau.

“Puncak kemarau akan mulai kita masuki di minggu ke -4 Agustus ini. Dengan demikian, jumlah hot spot selama 1 bulan ini kita alami, masih sangat-sangat mungkin kita alami lagi,” katanya.

Oleh sebab itu, dia pun menghimbau kepada masyarakat untuk selalu mengawasi dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik yang terjadi secara alami maupun akibat aktifitas manusia yang cenderung sembrono dan merugikan, seperti membuang puntung rokok sembarangan.

Suhu yang relatif lebih tinggi dan kelembaban yang rendah akan sangat mendukung untuk terjadinya kebakaran secara alami, apalagi yang disengaja.

“Sebentar lagi kita akan segera memasuki puncak musim kemarau sekitar Minggu ketiga Agustus sampai dengan Minggu kedua September 2019. Kita harus berhati-hati dan awasi dengan baik pembukaan lahan untuk tujuan apapun dengan cara membakar,” pesannya.

Selain itu, dia juga mengingatkan masyarakat untuk memakai masker supaya bisa mencegah diri dari penyakit yang sering timbul akibat dampak karhutla, seperti ISPA dan jenis gangguan pernapasan lainnya.

“Hematlah penggunaan air untuk keperluan sehari-hari. Ketersediaan air tanah di daerah Babel khususnya yang relatif lebih sedikit dibanding daerah-daerah lainnya dan ditambah dengan curah hujan yang relatif jauh berkurang dibanding saat musim penghujan tentu akan berdampak pada kelangkaan air,” pungkasnya. (bis/6)

Related posts